• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 2
    CommentGo Back
Download
 
 0
Perspektif Eropa terhadap Pembesaran NATO:Studi Kebijakan Luar Negeri Negara-negara Besar Eropa
 
Disusun sebagai Persyaratan dalamMata Kuliah Dinamika Kawasan Eropa
oleh:Tangguh (0706291426)
 
Departemen Ilmu Hubungan InternasionalFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia2009
 
 
 1
BAB IPENDAHULUANI.1. Latar Belakang
 
North Atlantic Treaty Organization
(NATO) adalah suatu aliansi militer antarpemerintah yangmerupakan sistem
collective security
1
di mana negara-negara anggotanya setuju untuk melakukanpertahanan bersama sebagai respon terhadap serangan dari pihak eksternal. Ancaman eksternal dalamhal ini adalah agresi Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Setelah kolapsnya Uni Soviet, tak terdapat lagiancaman terhadap negara-negara anggota NATO sehingga NATO tak lagi relevan. Namun, NATO justru makin mengadopsi suatu agenda global dan berekspansi hingga mungkin akan memasukkannegara-negara demokratik lainnya. Sebagian ahli berspekulasi bahwa hal ini dapat menjadi prekursorbagi Eropa dan Amerika Serikat (AS) sebagai negara-negara anggota NATO untuk mulai berpisah,karena Eropa dan AS jarang saling sependapat dan memahami, sehingga tidak mengherankan apabilaAmerika tidak lagi serius memandang Eropa sebagai
 partner 
strategis. Apalagi, terdapat keinginandari Eropa, terutama negara-negara kontinental, untuk melepaskan diri dari pengaruh AS,sebagaimana kemandirian Eropa merupakan salah satu tujuan kebijakan luar negeri. Hal inimenimbulkan pertanyaan tentang perspektif Eropa terhadap gagasan pembesaran NATO.
 
I.2. Rumusan Masalah
 
Bagaimanakah perspektif Eropa terhadap gagasan pembesaran NATO dan konformitasnyaterhadap kebijakan luar negeri masing-masing negara Eropa, dengan studi kasus tiga negara besar
Eropa (Inggris, Prancis, Jerman)?”
 
1
 
Collective security
adalah suatu bentuk pengaturan sosial keamanan global di mana negara-negaraanggotanya setuju untuk melakukan pertahanan bersama sebagai respon terhadap serangan daripihak eksternal. Peraturan fundamental yang mengatur tindakan
collective security
adalah
1)
identitassebagai sesama anggota,
2)
otonomi yang dibatasi kewajiban untuk mengikuti dan menjalankanperaturan aliansi,
3)
sifat keamanan didasarkan atas komitmen multilateral untuk menggunakankapabilitas militer,
4)
 
deterrence
dilakukan dengan mengakui otonomi anggota lain yang takmelanggar peraturan aliansi,
5)
pelaksanaan retaliasi apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan,serta
6)
penggunaan
 force
 
terkadang dianggap perlu. (Lihat Brian Frederking, “
Constructing Post-ColdWar Collective Security
”,
The American Political Science Review
, Vol. 97, No. 3 (Agustus, 2003), h.363-378)
 
 
 2
BAB IITELAAH PUSTAKAII.1. Kebijakan Luar Negeri dan Perspektif Keamanan (NegaraBesar) Eropa
 
II.1.1. Kebijakan Luar Negeri Inggris di bawah Pemerintahan Buruh, 1997-2005
 
Pemerintahan Partai Buruh Tony Blair antara Mei 1997 dan Mei 2005 menekankan radikalisme dansifat baru, namun kebijakan luar negerinya didasarkan atas empat komitmen tradisional sebagaiberikut.
1)
Multilateralisme. Blair khususnya makin menekankan kebutuhan akan multilateralisme
efektif 
dan ide partnership yang terinstitusionalisasi lebih longgar dalam kebijakan luar negeri.
2)
 Hasrat untuk menjadi sekutu terdekat AS (Atlantisisme). Pemerintahan Blair memutuskan bahwakepentingan Inggris dapat paling terpenuhi dengan tetap menjadi sekutu terdekat Amerika dan
mendorong „kepemimpinan AS yang efektif‟ untuk memperkuat institusi
-institusi internasional.
3)
 Dukungan terhadap prinsip-prinsip neoliberal ekonomi politik. Pemerintahan Buruh mendukungneoliberalisme terkait dengan konsensus post-Washington.
4)
Komitmen eksplisit untuk mengubahfondasi etis kebijakan luar negeri Inggris dari pragmatisme Inggris tradisional dan
realpolitik
menjadimoralisme yang menekankan dimensi etik.
2
 
II.1.2. Teori Eropanisasi dan Kebijakan Luar Negeri Prancis
 
“Eropanisasi” seringkali merujuk kepada
 perubahan-perubahan
politik dan kebijakan yangdisebabkan pengaruh keanggotaan dalam Uni Eropa atas para Negara Anggota. TeoritikusEropanisasi menarik gagasan yang ditemukan dalam institusionalisme (institusi-institusi internasional
memiliki “kumpulan peraturan yang tetap d
an terhubung yang menentukan peran-peran behavioral,
memaksa aktivitas, dan membentuk ekspektasi”) dan teori
-teori rasionalisasi dan globalisasi. Berbagaiahli Eropanisasi berargumen bahwa keanggotaan yang berkelanjutan dan partisipasi dalam Uni Eropaakan membawa kepada konvergensi pembuatan kebijakan nasional, baik dalam gaya maupun isi.
3
 
2
Paul D. Williams,
British Foreign Policy under New Labour, 1997 
2005
(Hampshire: PalgraveMacmillan, 2005), h.28-31
 
3
Reuben Y. Wong,
The Europeanization of French Foreign Policy France and the EU in East Asia
 (Hampshire: Palgrave Macmillan, 2006), h.6-10
 
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...