2
BAB IITELAAH PUSTAKAII.1.
Strategy
Amerika Serikat dan Unilateralisme
Pascaperistiwa 11 September 2001, Amerika Serikat mulai mengobarkan retorika “perangmelawan terorisme” dan mengembangkan
National Security Strategy of the United States
(“
Strategy
”), yang memungkinkan penggunaan
force
secara unilateral dengan alasan
self-defence
.
Strategy
melegalisasi tiga doktrin yang patut dipertanyakan, yaitu
(1)
seranganunilateral terhadap organisasi-organisasi teroris dan negara-negara yang menyembunyikan mereka
,dengan mengidentifikasi dan menghancurkan ancaman teroris sebelum ia mencapai AS;
(2)
self-defence
unilateral secara
pre-emptive
, atau penggunaan
force
secara unilateral dalammerespon ancaman yang dapat terjadi di masa depan, yang bertujuan melakukan tindakanbalasan terhadap ancaman terhadap keamanan nasional AS yang mengharuskan tindakanantisipasi untuk mencegahnya karena risiko yang besar; serta
(3)
intervensi kemanusiaanunilateral
, atau penggunaan
force
secara unilateral untuk membebaskan rakyat yang hak-hakasasinya diperlakukan secara kejam, di mana aspek kunci
Strategy
adalah memperluaskepentingan demokrasi, pembangunan, pasar bebas, dan perdagangan bebas ke seluruhsudut dunia.
1
II.2. Hubungan Opini Publik dan Kebijakan Luar NegeriAmerika Serikat
Tradisi Liberal-Demokratis memandang bahwa kebijakan luar negeri negara-negarademokratis lebih damai (daripada kebijakan negara-negara nondemokratis) salah satunyakarena akuntabilitas terhadap publik membuat publik memiliki peran konstruktif dalammembatasi para pembuat kebijakan; sementara tradisi Realis memandang bahwa opini publik
adalah rintangan terhadap diplomasi yang bijaksana dan koheren, karena “syarat
-syarat
1
Devika Hovell, “
Chinks in the Armour: International Law, Terrorism and the Use of Force
”, dalam
UNSW Law JournalVolume 27(2)
hal. 398-427
Leave a Comment