• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia
 Mata Kuliah Keamanan Non-Tradisional
 
1
Paper Akhir Mata Kuliah Keamanan Non-Tradisional
 
Terror and Small Arms
: Respon Kebijakanterhadap Serbuan Bersenjata Teroris
 
Tangguh
 
0706291426
 
Walaupun selama ini terorisme di Indonesia dilakukan dengan bom terhadap simbol-simbol Amerika Serikat dan sekutunya di Indonesia, kini mereka mengubah pola seranganmenjadi serbuan bersenjata ke berbagai simbol kekuasaan negara. Hal ini diungkapkan dalam
headline
Koran Tempo 15 Agustus 2010:
Teroris Berencana Bunuh Presiden pada 17  Agustus: Pola serangan berubah dari bom bunuh diri menjadi serbuan bersenjata
. Dalamartikel tersebut, disebutkan bahwa kelompok teroris berencana menyerang dan membunuhPresiden Susilo Bambang Yudhoyono serta pejabat negara lain saat peringatan HariKemerdekaan pada 17 Agustus 2010. Polisi membaca perubahan pola tersebut denganindikasi barang bukti yang ditemukan Detasemen Khusus 88 di sejumlah tempat, berupasenjata laras panjang, amunisi, dan pistol.
1
Sebagian senjata teroris yang diklaim telah dapatpolisi sita antara lain AK-47 di Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Besar, AK-56 dan AK-58 di Kabupaten Bireuen, M-16 di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Sukoharjo, sepuluhsenapan pelontar granat organik dari warga Poso, Sulawesi Tengah, pistol
Glock 
diKabupaten Aceh Besar, pistol
Smith & Wesson
di Kabupaten Lhokseumawe dan KabupatenBireuen, pistol
Colt 
revolver model 1911 di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, serta
Five-Seven
(FN) di Pamulang, Tangerang Selatan, dan di Cileungsi, Bogor.
2
Bagaimana halini akan berimplikasi terhadap usaha-usaha kontraterorisme di Indonesia? Penulis akan cobamembahas masalah ini dengan dua pendekatan, yaitu sebagai masalah terorisme dan sebagaimasalah
Small Arms and Light Weapons
(SALW), kemudian mencoba membuat rekomendasisolusi.
 Presidential Assassination: Terror on the Symbols of State
 
Dulu, teroris menjadikan simbol-simbol Amerika Serikat dan sekutunya di Indonesiasebagai sasaran. Kini, para teroris itu juga menjadikan simbol negeri sendiri sebagai target,seperti Istana Negara (meniru serangan terhadap Presiden Anwar Sadat di Mesir), hotel-hotel
1
 
Cornila Desyana et. al., “Teroris Berencana Bunuh Presiden pada 17 Agustus”, dalam
Koran Tempo
 edisi 15 Mei 2010.
2
 
Cornila Desyana dan Sapto Yunus, “Teroris Incar Pimpinan Negara”, dalam
Koran Tempo
edisi 15Mei 2010.
 
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia
 Mata Kuliah Keamanan Non-Tradisional
 
2(polanya seperti serangan di Mumbai, India, pada 2008), dan markas polisi. Cindy Combs
dan Martin Slann (2002) mendefinisikan terorisme sebagai ―suatu sintesis perang dan medan
perang, suatu dramatisasi jenis kekerasan yang paling terlarang
 — 
yaitu yang dilakukan padakorban yang tak bersalah
 — 
yang dimainkan di depan audiens untuk menciptakan ketakutanuntuk tujuan-
tujuan politik‖.
3
Komponen-komponen krusial terorisme adalah
 persepsi
 audiens terhadap potensi kekerasan, ketakutan, dan korban yang tak bersalah yang terpisahdari tujuan akhir, serta motivasi atau tujuan politik.
4
 Dalam sejarahnya, para teroris telah menargetkan simbol-simbol kekuasaan negara pada1800-an di Eropa, di mana para anarkis melemparkan bom pada para kaisar atau raja. Pada1901, seorang anarkis bernama Leon Czolgosz membunuh Presiden Amerika Serikat WilliamMcKinley di New York.
5
Bahkan, Perang Dunia I dipicu oleh aksi seorang teroris Serbiabernama Gavrilo Princip yang membunuh Pangeran Franz Ferdinand dari Austria diSarajevo. Dapat dilihat bahwa simbol-simbol negara telah jamak menjadi target seranganteroris. Apabila dahulu, simbol-simbol Amerika Serikat dan sekutunya di Indonesia yangmenjadi target terorisme, hal itu disebabkan tujuan politik para teroris dahulu bukanlahperlawanan terhadap negara, melainkan terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat danpengaruhnya terhadap dunia Muslim. Maka, apabila kini, para teroris itu juga menjadikansimbol negeri sendiri sebagai target, hal itu berarti tujuan politik mereka telah berubah. Halini dikonfirmasikan oleh Presiden SBY sendiri, yang mengatakan bahwa kelompok terorisingin mengubah dasar negara kita.
6
Tentu saja, hal ini merupakan ancaman terhadapkedaulatan negara, dan harus ditanggapi sebagaimana sebuah isu keamanan
high-politics
.
Why Small is Not Beautiful: Small Arms and Light Weapons and Their Control
 
Dulu, teroris melakukan serangan dengan mengirim pelaku bom bunuh diri. Kini adaindikasi mereka akan mengirim pasukan bersenjata. Polisi mengklaim, sebagian senjata itutelah dapat mereka sita. Berbagai senjata tersebut termasuk SALW, atau persenjataan kecildan ringan. Istilah SALW digunakan dalam berbagai protokol pengendalian senjata untuk 
3
Cincy C. Combs dan Martin Slann (2002),
Encyclopedia of Terrorism, Revised Edition
(New York: Factson File), hlm.320.
4
 
Ibid
., hlm.320-323.
5
 
Lihat “Assassination of William McKinley”, diakses dari 
 
,pada 23 Mei2010, 13:42.
6
 
Lihat Luhur Hertanto, “SBY: Kelompok Teroris Ingin Indonesia
 
 Jadi Negara Islam”,
detikNews
 
Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia
 Mata Kuliah Keamanan Non-Tradisional
 
3merujuk kepada berbagai tipe persenjataan. Panel berikut ini berdasarkan
1997 UN Panel of Governmental Experts on Small Arms
:
7
 
 
small arms
: pistol revolver maupun
self-loading
, senapan dan karabin,
sub-machinegun
, senapan serbu, dan senapan mesin ringan;
 
light weapons
: senapan mesin berat, peluncur granat
hand-held under barrel
maupun
mounted 
, senjata antipesawat portabel, senjata antitank portabel tanpa hentak balik,sistem peluncur rudal antitank dan roket portabel, sistem peluncur rudal antipesawatportabel, dan mortar dengan kaliber hingga 100 mm.
 
amunisi dan peledak 
: selongsong peluru bundar untuk 
small arms
, granat dan rudaluntuk 
light weapons
, container bergerak dengan misil rudal atau granat untuk sistemantipesawat dan antitank 
single-action
, granat tangan antipersonil dan antitank, ranjaudarat, dan peledak.SALW menjadi ancaman nyata terhadap keamanan internasional karena jumlah korbantewas senjata kecil tersebut jauh lebih besar daripada seluruh sistem persenjataan lainnya,bahkan korban bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Penyalahgunaan SALW dalam konflik dan kejahatan diperkirakan menyebabkan 500.000 kematian tiap tahun, dan luka lainnya yangtak terhitung.
8
Dalam 90% dari seluruh konflik sejak 1990, SALW telah menjadi senjatautama dalam pertempuran, dan berkontribusi terhadap peningkatan proporsi kematian wargasipil dalam konflik-konflik tersebut antara 30%-90%.
9
Selain itu, SALW juga sangat tersediadi daerah-daerah konflik karena penyebaran dan proliferasinya. Dalam menjelaskan tentangstruktur dan dinamika penyebaran SALW, Mike Bourne (2007) menekankan kurangnyakejelasan dalam spektrum legalitas dari transfer legal hingga pasar gelap, di mana strukturkebijakan yang membentuk proses penyebaran SALW tak jelas dan terfragmen.
10
MenurutBourne, arus senjata kepada konflik adalah fungsi dari
1)
persediaan global SALW yangsangat banyak;
2)
perdagangan gelap yang terglobalisasi; dan
3)
kesatuan gelap brokersenjata.
11
 Karena SALW memiliki kapabilitas mendestabilisasi konflik yang sangat besar, agendapengendalian SALW masih sangat revelan dalam agenda keamanan masyarakat internasional.
7
Lihat Mike Bourne (2007),
 Arming Conflict: The Proliferation of Small Arms
(Hampshire: PalgraveMacmillan), hlm.4-5.
8
Small Arms Survey (2001),
Small Arms Survey 2001: Profiling the Problem
(Oxford: Oxford UniversityPress), hlm.1.
9
ICRC (1999),
 Arms Availability and the Situation of Civilians in Armed Conflict
(Jenewa: ICRC).
10
 
Ibid
., hlm.30-31. Lihat juga Lampiran, Tabel 1: Spektrum Transfer SALW, serta Lampiran, Tabel 2:Struktur penyebaran dan imej penyebaran SALW.
11
 
Ibid
., hlm.34.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...