Universitas Pertahanan Indonesia3
satu surat keputusan yang ditemukan dalamArsip pada 1826, penulis “menangkap”pendirian Diponegoro.
“Lan maneh pepajalingsun marang sira aja angalaaken wong kang becik lan aja ambecikaken wong kang ala lan aja anganiaya wong akeh Tabayan (pura- pura) ora mitahu seunine nuwalaningsun ini amasthi nemu bilahi kang luwih abot.”
(
ARA
, Arsip Koleksi H.M. de Kock, Serie14)
Nemu bilahi kang luwih abot
, adalah kataperingatan dan ancaman terhadappejabatnya yang
mbalelo
dan pembocorrahasia. Bagi pembocor rahasia ataupendengar rahasia yang ketahuan, hukumanlangsung dijatuhkan. Salah satu kasusterjadi pada Pangeran Karim Ario Bintoro. Iadijatuhi hukuman mati karena mengetahuisurat rahasia Residen Kedu Van Valckkepada Diponegoro. Namun Karim berhasilmelarikan diri. (
Weitzel II, 1853, 230
)
.
Dalamperang ini tidak mengenal kata “tawananperang”. Tawanan atau
spion
dianggapsumber pembocor rahasia, berarti
nemu bilahi kang luwih abot
, yakni langsungdipancung.Sekalipun struktur organisasinya tidakpernah terungkap, namun aktivitasnya yang
observable
adalah peristiwa yang bisadiinterpretasi yang berbeda. Sebaliknyapihak Belanda yang berusaha memburu danmenangkapnya selalu gagal, karenaDiponegoro memperoleh informasi yangcepat dan akurat dari para
spioen
nya,apakah berasal dari
pacalang
atau
kajineman
, tidak ada sumber yangditemukan.Meningkatnya peran para
spioen
inidimulai dari sesudah insiden penutupan jalan ke Tegalrejo (1825) oleh PatihDanurejo. Diponegoro memerintahkan parapembantunya untuk mempersiapkan markaskomando di desa Selarong (bukan GuaSelarong) dan cadangannya di Jekso. Parapengikutnya dipanggil melalui para
spioen
agar berkumpul di Selarong sewaktu-waktupecah perang. Selanjutnya memerintahkanmelakukan pembelian padi dan beras secarabesar besaran, mobilisasi massa danmembagi bagi mandala perang (16mandala). Bahkan para
spioen
ditugasimelakukan pembelian senjata api (
geweren
)dan penimbunan mesiu. PersiapanDiponegoro untuk perang
sabil
melalui
conspiracy of silence
sangat matang baik diwilayah nagara maupun di mancanagara.
Organisasi dan Operasi Intelijen TentaraHindia Timur (NOIL)
Sekalipun tanpa mendapatkan peta yanglengkap mengenai medan di wilayahKesultanan, Jenderal de Kockmengkompensasikan dengan informasitentang musuh dan medan berasal dari paraspion yang direkrutnya.Kegagalannya dalam melaksanakanoperasi pengejaran terhadap Diponegoro(1825-1827), dengan dua kali kekalahan(Kejiwan dan Delanggu Agustus 1826) dansekali memenangkan pertempuran di Gawok(Oktober 1826), Jenderal De Kockberpendapat bahwa peranan
spion
amatberpengaruh terhadap pelaksanaan operasimiliternya. Sejak awal perang, para
spion
diperintahkan membuntuti “perjalanan”Diponegoro. Dari sumber
Arsip
, ditemukanlaporan tertulis pada 1826 dari “koordinator”
spion
bernama Ngabehi Pancayatnabersama timnya yang ditugasi mengamatidesa Jekso (Dekso), salah satu markasDiponegoro. Laporan ditujukan kepadaJenderal De Kock, sebagai berikut:
“Kawulo abdi dalem pun Pancatnyana Kawula kakersaaken utusan anitik pasanggrahanipun Pangeran Diponegoro dhateng ing dusun Jeksa”
Ia mengutus seorang bawahannyabernama Ki Sapengawat, datang ke rumahfamilinya bernama Amat Rupangi. Dalampercakapannya dengan Rupangi, iamemperoleh informasi mengenai letakpenginapan Diponegoro dan pengikutnya.Kemudian mereka berjalan keliling desa,untuk membuktikan kebenaran percakapanitu. Selain informasi tentang Diponegoro danpejabatnya, ia juga memperoleh informasiperintah Diponegoro, tentang perang gerilya.
“Yen wonten mengsah medal, yen kuwawi kakersaaken narungi, yen mboten kuwawi kakersaaken nilar lumajar.”
Leave a Comment