• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Universitas Pertahanan Indonesia1
ASPEK SPIONASE DALAM PERANG DIPONEGORO(1825 – 1830)
Saleh A. Djamhari*,Tutie.Artica@yahoo.co.id,
Abstrak - 
Diponegoro bercita-cita membangun masyarakat baru berdasarkan Qur’an dalam wadah Balad Islam melalui Perang Sabil. Ia membangun kekuatan bersenjata dan moral pengikutnya melalui conspiracy of silence selama 12 tahun. Ia juga membangun aparat intelijen yang tangguh yang disebut Pacalang dan Kajineman. Jaringan mereka ada di semua jajaran pemerintah Kesultanan Yogyakarta. Pada saat Tentara Hindia Timur Belanda (NOIL) menyerbu Tegalrejo pada bulan Juli 1825, Diponegoro telah siap menghadapinya.Sebaliknya Tentara Hindia Timur dipimpin oleh Jenderal de Kock, karena kurang mengenal medan merekrut pribumi untuk diangkat sebagai spion. Melalui informasi para spion, NOILmelakukan operasi pengejaran untuk menangkap Diponegoro. Upaya ini gagal karena para Pecalang dan Kajineman memiliki kemampuan dan kualitas yang tinggi. Hanya dengapendekatan budaya Diponegoro berhasil dibujuk untuk “berunding”.
Abstract - 
Diponegoro aspire to build a new society based on the Qur'an in Islamic Balad container through Sabil War. He built the armed forces and the morale of his followerthrough a conspiracy of silence for 12 years. He also built a formidable intelligence apparatus called Pacalang and Kajineman. Their networks exist at all levels of government to the Sultan Yogyakarta.Pada when the Dutch East Indies Army (NOIL) Tegalrejo invaded in July 1825, Diponegoro was ready to face it. Instead East Indies Army led by General de Kock.Because the less familiar terrain to recruit native to be appointed as a mirror. Through the mirror information, perform NOIL pursuit operation to capture Diponegoro. This effort failed because the Pecalang and Kajineman have the ability and high quality. Only with a cultural approach Diponegoro was persuaded to "negotiate".
Kata Kunci
Balad Islam, perang sabil, conspiracy of silence, morale 
PENDAHULUAN
Makalah yang disajikan dalam jurnal ini,mengangkat satu topik yang jarang dan luputdari perhatian peneliti, karena kelangkaansumber sumbernya. Penulis mencobamelakukan identifikasi, rekonstruksi,mengeksplotasi, mengeksplorasi danmenginterpretasi aspek dan peranankelompok yang tertutup ini berdasarkansumber sumber yang ditemukan.
Spioen 
(Jawa) didefinisikan sekelompok orang atauseseorang yang ditugasi melaksanakanoperasi intelijen, guna mencari informasitentang musuh (kedudukan, kekuatan dan
* Dr. Saleh A. Djamhari merupakan dosen diProdi SSPS Unhan.
mobilitas), tentang medan (yang belumdikenal sebelumnya), mengenali parapemimpin musuh (wajah, karakter dll) jugamelakukan disinformasi (penyesatan),sabotase obyek-obyek vital strategis.Intensitas peranan mereka, dapatmempengaruhi jalannya suatu peperangan.Pada kerajaan Jawa peranan
spioen 
sudah amat dikenal sekalipun bukanmelaksanakan kontra operasi intelijennamun untuk kepentingan kelompok (intrik).Peran
spioen 
yang terkenal padapertengahan abad 19 adalah berhasildibunuhnya Sultan Hamangkubuwono IV
 
2Universitas Pertahanan Indonesia
(Desember 1822). Peristiwa inimenggemparkan masyarakat, semakinmempertajam konflik antar bangsawankelompok Kasepuhan dan Karajaan.Tuduhan kuat dialamatkan kepadaDiponegoro, sekalipun dalam tingkat
rumor 
.Peristiwa pembunuhan ini menjadi salahsatu
causal factor 
pecahnya PerangDiponegoro. Mengapa?Sejak ayahnya naik tahta, sebagaiHamangkubuwono III, Diponegoromengisolasi diri, karena tidak setujukebijakan ayahnya, namun tidakmenentangnya secara terbuka. Iamempunyai visi dan cita-cita sendiri tentangsuatu negara dan masyarakat. PemerintahKesultanan Yogyakarta yang dipimpinayahnya yang kemudian digantikan adiknyadianggapnya telah “menyimpang” dari nilai-nilai budaya Jawa dan melanggar hukumagama Islam serta menyerahkankedaulatannya kepada Pemerintah HindiaBelanda. Ia bercita cita membangun suatumasyarakat baru yang terwadahi dalam
balad 
(negara) Islam (
Babad I, 1983, 188 
).Perubahan masyarakat hanya bisa dilakukandengan perang sabil.Kehidupannya di masa remaja,membentuk pribadinya menjadi manusiafanatik, yang taat beragama, teguh dalampendiriannya, teguh memendam rahasia,yang tercermin pada perilaku dan praktikkepemimpinannya. Untuk merealisasi cita-citanya, Diponegoro dengan cermatmembangun jaringan rahasia denganmerekrut
spioen 
, membangun kekuatanmiliter, menyusun strategi dan rencana-rencana operasi perangnya, melatih prajuritprajuritnya secara
clandestine 
, yang dalamsejarah militer dikenal sebagai
conspiracy of silence 
, tanpa diketahui dan bisa dibuktikanaktivitasnya oleh aparat keamananKesultanan dan Pemerintah Hindia Belanda.Bagaimana Diponegoro mendidik
spioen 
, juga tidak ada sumber yang ditemukan,karena aktivitas dan kemampuan merekaluar biasa.Para
spioen 
nya berhasil melakukan
disinformasi 
dalam pelbagai hal, bahkanmemperkuat kesan negatif pihak kraton danpemerintah Hindia Belanda terhadapDiponegoro untuk melindungi aktivitasnya.
Conspiracy of silenc
yang berlangsunghampir 12 tahun, baru disadari oleh pejabatpemerintah Hindia Belanda pada bulan Juli1825, bahwa dirinya tertipu setelah pasukanDiponegoro yang berhasil memasukiYogyakarta. Pasukan Hindia Timurterkepung di dalam kota dan pemberontakanmeletus di pelbagai tempat di wilayahKesultanan.Pemerintah Hindia Belanda menunjukLetnan Jenderal de Kock sebagai panglimaoperasi untuk memadamkanpemberontakan. Setibanya di Surakarta deKock menyusun rencana operasi, tanpabantuan peta dan hanya informasi yangsamar-samar tentang wilayah Kesultanandan kekuatan lawan. Dalam rencanaoperasinya Jenderal de Kockmemprioritaskan merebut kembaliYogyakarta, berencana memanfaatkanorang-orang pribumi yang terseleksi denganbayaran yang mahal sebagai
spion 
.Di samping kisah gegap gempitanyapertempuran di pelbagai medan yang telahbanyak ditulis, penulis ingin menyajikankisah “pertempuran sunyi senyapyangdiperankan oleh para
spion 
dan
spioen 
darikedua belah pihak, satu
domein 
lain darisejarah perang.
Operasi
spioen 
Diponegoro
Tidak ada sumber yang ditemukanmengenai organisasi aparat intelijen, yangdibangun oleh Diponegoro. Dalam Babadditemukan hanya dua
nama 
sebagaipembukanya, pertama,
pacalang 
(Babad II,1983, 215).
Mangkana sampun prapta, inTangkilan pacalang atur uning ikdhumateng Sri Naranata yen Laknatullah nututi 
kedua,
kajineman 
(Babad II, 1983,228), juga ketika Diponegoro berada diTangkilan
Sang Nata nimbali age marang ingkang Kajineman sadika wastanira kinen lumebeta marang ing lanapondhoke“ 
Dengan hanya berbekal dua kata kunciitu, sudah barang tentu sejarawan sulitmerekonstruksi struktur institusi yang penuhkerahasiaan ini, karena Diponegoro sendirisangat ketat memegang teguh rahasia danmenghukum berat pembocor rahasia. Dalam
 
Universitas Pertahanan Indonesia3
satu surat keputusan yang ditemukan dalamArsip pada 1826, penulis “menangkappendirian Diponegoro.
“Lan maneh pepajalingsun marang siraja angalaaken wong kang becik lan aja ambecikaken wong kang ala lan ajanganiaya wong akeh Tabayan (purapura) ora mitahu seunine nuwalaningsun ini amasthi nemu bilahi kang luwih abot.” 
(
ARA
, Arsip Koleksi H.M. de Kock, Serie14)
Nemu bilahi kang luwih abot 
, adalah kataperingatan dan ancaman terhadappejabatnya yang
mbalelo 
dan pembocorrahasia. Bagi pembocor rahasia ataupendengar rahasia yang ketahuan, hukumanlangsung dijatuhkan. Salah satu kasusterjadi pada Pangeran Karim Ario Bintoro. Iadijatuhi hukuman mati karena mengetahuisurat rahasia Residen Kedu Van Valckkepada Diponegoro. Namun Karim berhasilmelarikan diri. (
Weitzel II, 1853, 230 
)
.
Dalamperang ini tidak mengenal kata “tawananperang”. Tawanan atau
spion 
dianggapsumber pembocor rahasia, berarti
nemu bilahi kang luwih abot 
, yakni langsungdipancung.Sekalipun struktur organisasinya tidakpernah terungkap, namun aktivitasnya yang
observable 
adalah peristiwa yang bisadiinterpretasi yang berbeda. Sebaliknyapihak Belanda yang berusaha memburu danmenangkapnya selalu gagal, karenaDiponegoro memperoleh informasi yangcepat dan akurat dari para
spioen 
nya,apakah berasal dari
pacalang 
atau
kajineman 
, tidak ada sumber yangditemukan.Meningkatnya peran para
spioen 
inidimulai dari sesudah insiden penutupan jalan ke Tegalrejo (1825) oleh PatihDanurejo. Diponegoro memerintahkan parapembantunya untuk mempersiapkan markaskomando di desa Selarong (bukan GuaSelarong) dan cadangannya di Jekso. Parapengikutnya dipanggil melalui para
spioen 
agar berkumpul di Selarong sewaktu-waktupecah perang. Selanjutnya memerintahkanmelakukan pembelian padi dan beras secarabesar besaran, mobilisasi massa danmembagi bagi mandala perang (16mandala). Bahkan para
spioen 
ditugasimelakukan pembelian senjata api (
geweren 
)dan penimbunan mesiu. PersiapanDiponegoro untuk perang
sabil 
melalui
conspiracy of silence 
sangat matang baik diwilayah nagara maupun di mancanagara.
Organisasi dan Operasi Intelijen TentaraHindia Timur (NOIL)
Sekalipun tanpa mendapatkan peta yanglengkap mengenai medan di wilayahKesultanan, Jenderal de Kockmengkompensasikan dengan informasitentang musuh dan medan berasal dari paraspion yang direkrutnya.Kegagalannya dalam melaksanakanoperasi pengejaran terhadap Diponegoro(1825-1827), dengan dua kali kekalahan(Kejiwan dan Delanggu Agustus 1826) dansekali memenangkan pertempuran di Gawok(Oktober 1826), Jenderal De Kockberpendapat bahwa peranan
spion 
amatberpengaruh terhadap pelaksanaan operasimiliternya. Sejak awal perang, para
spion 
diperintahkan membuntuti “perjalanan”Diponegoro. Dari sumber
Arsip 
, ditemukanlaporan tertulis pada 1826 dari “koordinator”
spion 
bernama Ngabehi Pancayatnabersama timnya yang ditugasi mengamatidesa Jekso (Dekso), salah satu markasDiponegoro. Laporan ditujukan kepadaJenderal De Kock, sebagai berikut:
“Kawulo abdi dalem pun PancatnyanKawula kakersaaken utusan anitipasanggrahanipun Pangeran Diponegoro dhateng ing dusun Jeksa” 
Ia mengutus seorang bawahannyabernama Ki Sapengawat, datang ke rumahfamilinya bernama Amat Rupangi. Dalampercakapannya dengan Rupangi, iamemperoleh informasi mengenai letakpenginapan Diponegoro dan pengikutnya.Kemudian mereka berjalan keliling desa,untuk membuktikan kebenaran percakapanitu. Selain informasi tentang Diponegoro danpejabatnya, ia juga memperoleh informasiperintah Diponegoro, tentang perang gerilya.
“Yen wonten mengsah medal, yekuwawi kakersaaken narungi, yen mboten kuwawi kakersaaken nilar lumajar.” 
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...