Kalau kita perhatikan jawaban Allah, begitu lugas dan tidak merahasiakan sama sekali akanwujud-Nya. Namun demikian Allah mengingatkan kepada kita bahwa untuk memahami atas ilmu Allah initidak semudah yang kita kira. Karena kesederhanaan Allah ini sudah dirusak oleh anggapan bahwa Allah sangat jauh. Dan kita hanya bisa membicarakan Allah nanti di alam syurga. Untuk mengembalikan dzan kita kepada pemahaman seperti yang diungkap oleh Al Qur'an tadi, kitahendaknya memperhatikan peringatan Allah, bahwa Allah tidak bisa ditasybihkan (diserupakan)dengan makhluq-Nya.Didalam kitab tafsir Jalalain ataupun didalam tafsir fi dzilalil qur'an, membahas masalah suratFushilat, 41: 54, ... Allah meliputi segala sesuatu ... adalah ilmu atau kekuasaan-Nya yangmeliputi segala sesuatu, bukan dzat &endash;nya.Pendapat ini merupakan tafsiran ulama, untuk mencoba menghindari kemungkinan masyarakatawam mentasybihkan (menyerupakan) wujud Allah dengan apa yang terlintas didalam fikirannyaataupun perasaannya. Sehingga "Allah" sebagai wujud sejati ditafsirkan dengan sifat-sifat- Nyayang meliputi segala sesuatu. Untuk itu, saya huznudzan mema-hami pemikiran para mufassirinsebagai pendekatan ilmu dan membatasi pemikiran para awam.Akan tetapi kalau "Allah" ditafsirkan dengan sifat-sifat-Nya, yang meliputi segala sesuatu. Akantimbul pertanyaan, kepada apanya kita menyembah? Apakah kepada ilmunya, kepadakekuasaan-Nya atau kepada wujud-Nya? Kalau dijawab dengan kekuasan-Nya atau dengan ilmu- Nya maka akan bertentangan dengan firman Allah:"Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada tuhan kecuali "Aku", maka, sembahlah "Aku" (QsThoha, 20: 14)Ayat ini menyebutkan "pribadinya" atau dzat Allah, kalimat ... sembahlah "Aku". Ayat inimenunjukkan bahwa manusia diperintahkan menghadapkan wajahnya kepada wajah Dzat yangmaha mutlak. Sekaligus menghapus pernyataan selama ini yang justru menjauhkan "pengetahuankita " tentang dzat, kita menjadi takut kalau membicarakan dzat, padahal kita akan menujukepada pribadi Allah, bukan nama, bukan sifat dan bukan perbuatan Allah. Kita akan bersimpuhdihadapan sosok- Nya yang sangat dekat.Ungkapan tentang tuhan, juga disebut sebagai dalil pertama yang menyinggung hubungan antaradzat, sifat, dan af'al (perbuatan) Allah. Diterangkan bahwa dzat meliputi sifat ... sifat menyertainama ... nama menandai af'al. Hubungan&endash;hubungan ini bisa diumpamakan seperti madudengan rasa manisnya, pasti tidak dapat dipisahkan. Sifat menyertai nama, ibarat mataharidengan sinarnya, pasti tidak bisa dipisahkan. Nama menandai perbuatan, seumpama cermin,orang yang bercermin dengan bayangannya, pasti segala tingkah laku yang bercermin, bayangannya pasti mengikutinya. Perbuatan menjadi wahana dzat, seperti samudra denganombaknya, keadaan ombak pasti mengikuti perintah samudra.Uraian diatas menjelaskan, betapa eratnya hubungan antara dzat, sifat, asma, dan af'al tuhan.Hubungan antara dzat, dan sifat ditamsilkan laksana hubungan antara madu dan rasa manisnya.Meskipun pengertian sifat bisa dibedakan dengan dzat..namun keduanya tidak bisa dipisahkansatu dengan yang lainnya.Kalimat ... Allah meliputi segala sesuatu (Qs Fushilat 54) adalah kesempurnaan ... dzat, sifat,asma, dan af'al. Sebab kalau hanya disebut sifatnya saja yang meliputi segala sesuatu, lantas ada pertanyan, "sifat" itu bergantung kepada apa atau siapa? Jelas akan bergantung kepada peribadi(Aku) yang memiliki sifat. Kemudian kalau sifat yang meliputi segala sesuatu, kepada siapakahkita menghadap? Kepada Dzat atau sifat Allah. Kalau sifat Allah sebagai objek ibadah kita, maka
Leave a Comment