• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
BAB II.KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini akan dipaparkan tentang (a) belajar matematika, (b) pandangan konstrutivisme dalam pembelajaran matematika, (c) pendekatankontekstual, (d) karakteristik pendekatan kontekstual, (e) komponen utama pendekatan kontekstual, (f) perbedaan pendekatan kontekstual dan pendekatankonvensional, dan (g) materi volum tabung dan kerucut
A. Belajar Matematika
Di dalam proses belajar matematika terjadi juga proses berpikir, sebabseseorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan mental dan orangyang belajar matematika mesti melakukan kegiatan mental (Hudojo,1990:5).Pernyataan ini menunjukkan bahwa belajar matematika pada hakikatnya adalahmelakukan kegiatan mental. Dalam belajar matematika, seseorang dituntutmempersiapkan mentalnya dalam proses membangun pengetahuan yang disertaitindakan-tindakan konkret melalui penyelesaian masalah matematika. Dengankata lain, hal utama dalam belajar matematika adalah peningkatan kemampuanuntuk berpikir dan berargumentasi tentang situasi baru melalui penggunaan pengetahuan awal (Lee dalam Nur, 2003:18). Untuk mencapai tujuan tersebut,guru diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang tepat, sehingga setiap kegiatan pembelajaran tidak hanya pada ketrampilan saja, tetapi juga harus diarahkan pada pemahamannya.9
 
B. Pandangan Konstruktivisme dalam Pembelajaran Matematika
Revolusi konstruktivis memiliki akar yang kuat di dalam sejarah pendidikan. Konstruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky, dimanakeduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu prosesketidakseimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru (Nur,2001:3 ). Dalam hal ini, Vygotsky menekankan adanya hakikat sosial dari belajar melalui pembentukan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggotakelompok yang berbeda untuk mengupayakan perubahan pengertian atau belajar.Konstruktivisme adalah suatu aliran psikologi kognitif yang memandang bahwa suatu pengetahuan dipelajari oleh individu melalui proses membangunsendiri pengetahuan tersebut (Sutawidjaja, 1999:1). Oleh karena itukonstruktivisme dalam pendidikan kadang-kadang dianggap sebagai suatu filsafat pengetahuan yang memandang pengetahuan sebagai bentukan atau konstruksimanusia (Suparno, 1997:17). Proses membangun pengetahuan itu sendiri dapatdilakukan oleh siswa dalam segala usia (Piaget dalam Ibrahim & Nur, 2000:17).Pengetahuan itu tidak statis tetapi secara terus-menerus tumbuh dan berubah padasaat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun danmemodifikasi pengetahuan awal mereka.Ide utama dari teori konstruktivisme dalam pembelajaran adalah siswaharus secara individu menemukan dan mentransformasikan informasi kompleksapabila siswa harus menjadikan informasi itu sebagai milik sendiri. Adapun penekanan dari pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran, antara lain (1) belajar secara kooperatif membuat siswa lebih mudah memahami dan menemukan10
 
konsep-konsep melalui kegiatan diskusi, (2) belajar melalui menemukan(
inquiry
); memperoleh pengetahuan sebagai suatu proses, bukan produk, penerapan materi ajar bukan hafalan, dengan demikian membangkitkan semangatrasa ingin tahu, (3) mengajarkan ketrampilan-ketrampilan pemecahan masalahdan berpikir kritis, serta lebih menekankan alasan-alasan suatu pendapat daripada jawaban benar, (4) pembelajaran untuk membentuk siswa mandiri (
 self-regulated learner 
), artinya seseorang yang memiliki strategi belajar efektif serta mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan strategi tersebut, dan (5) proses pembelajarandilakukan secara
top-down
(kompleks lalu ke ketrampilan-ketrampilan dasar) .Dalam pandangan konstruktivisme, belajar pada dasarnya merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajaridengan pengertian yang sudah dimiliki seseorang, sehingga pengertiannya dapatdikembangkan (Suparno, 1997:61). Siswa membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri, sedangkan guru membantu proses tersebut dengan mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan relevan bagi siswa,memberi kesempatan kepada siswa menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide,dan mengajak siswa secara sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiriuntuk belajar (Nur & Wikandari, 2000:2).Prinsip-prinsip konstruktivis telah banyak digunakan dalam pendidikansains dan matematika. Secara umum prinsip-prinsip itu berperan sebagai referensidan alat refleksi kritis terhadap praktik, pembaharuan, dan perencanaan pendidikan sains dan matematika. Secara garis besar prinsip-prinsipkonstruktivisme terhadap pembelajaran sebagai berikut.11
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...