FILSAFAT MINAHASA
(Suatu Pengantar)
Stanley A.S. Senduk
(Alumnus FISIP UNSRAT, Dosen LB Mata Kuliah Filsafat & Metodologi Penelitian FBS UNIMA 1999-2005)
dikerjakan oleh Yoost Kullit. Buku terjemahannya terbit dengan judul
Minahasa: Masa Lalu dan Masa Kini
. Sedangkan terjemahan keduanya dilakukanoleh Lucy R. Montolalu dan terbit dengan judul
Minahasa: Negeri, Rakyat dan Budayanya
. Menarik dicatat maksud dari Yoost Kullit menerjemahkan bukunya Graafland ini, sebagaimana yang dituangkannya dalam prakata penerjemah buku terjemahannya, yaitu "
agar kaum muda Minahasa khususnya,rakyat Indonesia yang berasal dari Minahasa umumnya dapat mengetahui sedikit tentang perkembangan dan kebudayaan orang Minahasa, yang ketikaitu masih terkungkung oleh kebiasaan Alifuru kebiasaan menyembah berhala, pohon, batu, burung, ular dan segala sesuatu yang bersifat animisme
".Mengenai perspektif yang disebutnya terakhir ini tentu masih bisa didebat lebih lanjut. Tetapi bahwa ada usaha untuk menerjemahkan buku setebal 1349halaman dari tahun 1867 dengan motivasi memperkenalkan rekaman kebudayaan Minahasa di masa lalu kepada generasi muda di tahun 1980-an, iniadalah hal yang sangat luar biasa dan patut dihargai setinggi-tingginya.
Epistemologi
Epistemologi ialah salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas hal-hal seperti "
apa itu pengetahuan?", "bagaimana cara manusia menemukan pengetahuan?", "kapan pengetahuan patut disebut benar atau salah?", "apa saja kriteria pengetahuan yang benar?", "apa saja batas-batas pengetahuan manusia
?", dan lain-lain.F.S. Watuseke seorang penulis ahli mengenai Minahasa. Beberapa tulisannya malah diterbitkan dalam majalah
Bijdragen tot de Taal-, Land- enVolkenkunde van Nederlansch-Indië
(yang biasa disingkat
BKI
) terbitan KITLV di Negeri Belanda, baik dalam bahasa Belanda maupun bahasa Inggris.Salah satu tulisannya itu berjudul “
Oude gebruiken bij zwangerschap en geboorte in Tondano
” Sesuai judulnya, tulisan ini berbicara tentang kebiasaan-kebiasaan tua di sekitar kehamilan dan kelahiran di Tondano, di mana dijelaskan, misalnya, apa artinya
si maali-ali
dan
si matimea’
sampai pada namadan jenis berbagai macam rempah-rempah yang diperlukan oleh seorang ibu untuk mandi setelah melahirkan (seperti
Karimenga
,
Kajutumetow
,
Muntè pepontolen
, dst.). Juga tidak ketinggalan di bagian akhir tulisannya adalah sebuah gambar tentang bagaimana tampaknya buaian bayi asli setempat.Pada awal tahun 1961 terbit buku
Sejarah Minahasa
oleh F.S. Watuseke. Buku ini secara singkat tapi padat mendaftarkan secara kronologis peristiwa- peristiwa yang terjadi di Minahasa mulai dari zaman
Toar-Lumimuut
sampai dengan tahun 1954, yaitu ketika Bitung dijadikan pelabuhan samudra. Yangsangat menarik dari buku ini – khususnya dalam edisi ke-2 yang terbit 1968 – adalah lampiran-lampirannya, yang di antaranya mendaftarkan perjalanansejarah pembagian tanah Minahasa dalam walak-walak dan kemudian dalam distrik-distrik sejak kira-kira tahun 1679 sampai 1966. Menyinggung tahun1960-an, tidak boleh dilupakan buku kecil dari E.V. Adam,
Kesusasteraan, Kebudajaan dan Tjerita-tjerita Peninggalan Minahasa
. Buku kecil ini lebihmerupakan
kapita selecta
mengenai kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan tua serta aturan-aturan tata-krama di Minahasa tempo dulu. Ada juga pantun-pantun dan “keahlian” mendengarkan bahasa burung.Di Minahasa mereka harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh teriakan atau arah terbang burung, karena teriakan atau arah terbang kedua burungitu merupakan 'tanda-tanda' dari alam, agar mereka selamat pada saat mereka hendak memilih waktu untuk membuka perkebunan baru atau pemukiman baru. Selain itu, tikus dan ular juga dipahami sebagai 'tanda-tanda alam'. Bila hewan itu berlari memotong jalan yang akan dilewati, orang Minahasaterpaksa kembali ke tempat semula, karena tikus dan ular itu merupakan tanda-tanda dari alam akan adanya bahaya. Siulan burung Manguni jugadipercaya orang Minahasa sebagai kabar alam mengenai keberuntungan. Jika burung Manguni bersiul 107 kali berturut-turut, maka itu alamat alam akanadanya anugerah yang besar bagi seluruh penduduk negeri. Jika seorang Minahasa sakit keras, maka cara dan bentuk pengobatannya akan dikabarkanoleh alam lewat babi yang disembelih dan dibaca hatinya. Dalam hati babi itu akan terbaca cara dan bentuk pengobatannya (N. Graafland, De Minahasa,hh. 90-94).Masih di era 80-an, perlu juga disebut satu disertasi mengenai Minahasa yang dipertahankan di Göteborg, Swedia oleh Wil Lundström-Burghoorn berjudul
Minahasa Civilization: A Tadition of Change
(Göteborg: Acta Universitatis Gothoburgensis, 1981). Satu studi anthropologis mengenaikebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dipraktekkan oleh masyarakat di Minahasa, termasuk kajian mengenai sistem kekerabatan dan
rites de passage
mulai dari kelahiran sampai kematian seseorang.
Estetika
Estetika ialah salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas soal-soal seperti
"apa itu keindahan?", "kapan sesuatu itu disebut indah?", "apa sajakriteria sesuatu dapat disebut indah atau buruk?", "bagaimana cara menilai keindahan?", "apa itu seni?", "kapan sesuatu layak disebut seni?","bagaimana menilai suatu karya seni?", "kriteria apa yang dipake agar sesuatu dapat disebut seni?", "bagaimana cara menilai selera?", "apa tujuandari seni?",
dan lain-lain. Intinya, estetika ialah filsafat keindahan atau filsafat seni.
Leluhur
kita juga sudah punya estetika. Mereka mengekspresikannya dengan menggambar atau melukiskannya dalam bentuk gambar dan pahatan. Maka,mulailah mereka melukis, menggambar atau memahat di batu-batu dan gua-gua, seperti yang bisa kita lihat misalnya di Waruga-waruga yang ada diSawangan Airmadidi atau di batu-batu besar seperti Di Watu Pinabetengan. Mereka melukis di batu dan dinding gua. Mereka lalu bereksperimen denganwarna-warna yang mereka temukan dari pohon-pohon, daun-daun atau darah hewan. Dari eksperimen warna, mereka menciptakan kain tenun sepertikain tenun khas Bentenan, menciptakan pakaian, menciptakan alat perang, menciptakan arsitektur rumah, dan lain-lain. Ada juga yang bereksperimendengan gerak-gerak tari sehingga mereka menciptakan tarian-tarian yang gerakannya indah dan eksotik seperti tari Maengket,dll. Ada juga yang bereksperimen dengan irama-irama suara, sehingga mereka menciptakan lagu-lagu bernada indah, menciptakan pantun-pantun berrima, menciptakansyair-syair, puisi-puisi, dan lain-lain.
Etika
Etika adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas masalah seputar moralitas (norma-norma), prinsip-prinsip moral, dan teori-teori moral(misalnya 'teori hati nurani', 'teori rasa moral', 'teori keputusan moral', 'teori tentang kebaikan mutlak' dan 'teori tentang kebaikan relatif', 'teori tentangkejahatan', 'teori kriteria moral', 'teori tentang asal mula manusia harus bermoral', dan lain-lain). Leluhur kita sejak era neolitik sudah menciptakannorma-norma, prinsip-prinsip moral, dan teori-teori moral.
Gerungan Saul Samuel Yacob Ratulangi
yang lebih dikenal dengan nama
Sam Ratulangi
lahir pada 5 November 1890 di Tondano, Sulawesi Utara.Setelah menamatkan Hoofden School (Sekolah Raja) di Tondano, ia meneruskan pelajarannya ke sekolah tehnik (KWS) di Jakarta. Pada tahun 1915 ia berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti untuk Sekolah Menengah dari negeri Belanda dan empat tahun kemudian memperoleh gelar dokter Ilmu Pastidan Ilmu Alam di Swiss. Di negeri Belanda ia menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia dan di Swiss menjadi Ketua Organisasi Pelajar-pelajar Asia. AwalAgustus 1945 Ratulangi diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Setelah RI terbentuk, ia diangkat menjadi Gubernur Sulawesi yang pertama. Ia ditangkap Belanda dan dibuang ke Serui, Irian Jaya. Pada 30 Juni 1949, Sam Ratulangi meninggal dunia di Jakarta dalamkedudukan sebagai tawanan musuh (Belanda). Jenazahnya kemudian dimakamkan di Tondano. Beliaulah yang mencetuskan semboyan “
Si Tou TimouTumou Tou
” yang terkenal itu, dan dapat diartikan sebagai
Manusia itu hidup untuk memanusiakan orang lain
. Semboyan ini diserap oleh
Tou
Minahasasebagai prinsip moral masyarakat Minahasa.***
2
***) Dari Berbagai Sumber
Leave a Comment