pemilihan khusus yang berdasarkan berbagai kriteria seperti garis keturunan,hubungan dengan pejabat sebelumnya, kualitas pribadi, dan pengaruh yang dinilaidari jumlah dan kualitas pengikutnya, tanpa memperhitungkan di daerah mana iatinggal. (Pelras 2006: 200).Pada masa Kerajaan Wajo, dimana dalam catatan sejarah ditemukan modelpranata politik setiap bangsawan yang membentuk struktur kerajaan yangkekuasaannya terbagi. Seorang penguasa dinamai atau disebut
Arung Matoa
(rajapara
matoa
) yang umumnya selalu diduduki oleh seorang laki-laki, ia dibantu olehsuatu dewan yang disebut
Arung Matoa Wajo
dalam menjalankanpemerintahannya dibantu oleh
Arung Ennenngé
atau Petta Ennenngé
(enampetinggi) yang anggotanya adalah tiga orang
Padanréng
(sekutu, pendamping)dan tiga orang
Baté Lompo
(pemegang panji). Lembaga pimpinan tertinggi kerajaan Wajo ini di bantu oleh
Arung Mabbicara
sebagai lembaga pembuat undang-undang.Disamping itu juga terdapat lembaga yang disebut
Suro ri Bateng
yang beranggotakan tiga orang yang berasal dari 3 wanua asal yang 3 tugas yaitu untuk menyampaikan hasil permufakatan dan perintah dari
Padanreng
kepada rakyat,menyampaikan perintah-perintah
Bate-Lompo
kepada rakyat, dan menyampaikanhasil permufakatan dan perintah dari
Petta Wajo.
Jadi terdapat 40 orang dalamlembaga pemerintahan Tana Wajo, yang terdiri atas 1 orang
Arung Matoa
, 6 orang
Arung Ennengnge
, 3 orang
Suro ri Bateng
, 12 orang
Arung Mabbicara
,18penasehat). Ke 40 orang atau jabatan ini disebut
Arung Patappuloe’
(pertuanan yang empat puluh) yang bentuknya menyerupai sistem parlemen. Bentuk ataustruktur pemerintahan tersebut diperkuat oleh tese Mattulada (Dalam
Latoa
1995:408) :
2
Leave a Comment