/  10
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...
1 of 10
28/06/2008 06:22 AM
::al-ahkam.net::
Siber Feqh Anda
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1
Posted by : zain-ys on Saturday, June 28, 2008 - 01:43 AM CCT
Setangkai Nasehat untuk Muslim Malaysia: Menyikapi Gejolak Politik Masa Kini.
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia
Disusun oleh:
Abu Muhammad Waskito (Penulis Muslim di Indonesia)
Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. As shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad, wa
‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.
Mukaddimah

Baru-baru ini saya membaca majalah Sabili, terbit di Jakarta, No. 25/Th. XV/26 Juni 2008 M. Disana ada sebuah
tulisan menarik berjudul, "Malaysia yang Mendidih". Tulisan ini merupakan laporan perjalanan wartawan Sabili
ketika baru-baru ini berkunjung ke Malaysia. Semula saya tidak terlalu peduli dengan tulisan itu, sebab saya
anggap tulisan politik biasa. Soal politik, bukan perkara aneh lagi di tengah-tengah masyarakat kami. Ia seperti
makan sehari-hari di saat pagi, siang, dan malam. Tetapi dalam tulisan itu ternyata banyak info-info politik masa
kini di Malaysia.

Setelah saya membaca tulisan itu sampai selesai, ternyata situasi politik di Malaysia sedang panas, penuh
kericuhan, silang pendapat satu sama lain. Surat kabarR epubl i ka terbitan Jakarta, juga memuat info-info semisal
itu. Berita yang dimuat di Republika tidak berbeda jauh dengan berita yang dimuat majalah Sabili. Dapat
disimpulkan, kondisi Malaysia saat ini sedang genting, proses politik memanas, sitegang meluas.

Jika melihat kondisi seperti itu, saya teringat pengalaman kami tahun 1998 dulu, sebelum Presiden Soeharto turun
dari posisinya sebagai Presiden RI. Kondisinya sangat mirip, meskipun ada perbedaan-perbedaan. Indonesia
ketika itu berada dalam kegentingan besar, dunia internasional menyaksikannya. Saya khawatir, Malaysia juga
akan mengalami kondisi yang sama, sehingga negara ini dikhawatirkan akan mengalami guncangan-guncangan
hebat sebagaimana kami alami setelah Reformasi 1998.

Di hari ini kami banyak menyesali sikap tergesa-gesa para mahasiswa, generasi muda, para politisi, atau gerakan Islam yang waktu itu sangat menuntut Reformasi. Setelah 10 tahun berlalu, Reformasi hanya memberi kepuasan dalam soal politik, tetapi dalam perkara kesejahteraan, harta benda, kedamaian sosial, moralitas, kesatuan negara, sampai masa depan negeri kami hancur karena Reformasi. Dalam soal politik, Indonesia adalah surga, tetapi

dalam masalah sosial-ekonomi, kehidupan kami mengalami kerusakan luar-biasa.
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...
2 of 10
28/06/2008 06:22 AM

Alangkah sedihnya, jika kondisi politik Malaysia saat ini akan berkembang menjadi Reformasi palsu, seperti yang kami alami selama 10 tahun terakhir (1998-2008). Apa yang akan terjadi jika konsep fundamental negara Malaysia kemudian berubah menjadi sistem liberal, seperti yang terjadi di Indonesia? Sungguh, yang akan beruntung disana adalah para pemodal besar, baik pemodal asing maupun lokal, sedangkan yang akan sangat menderita adalah masyarakat Malaysia, khususnya umat Islam.

Menyadari kenyataan di atas, saya beranikan diri menyusun tulisan berisi nasehat ini untuk kaum Muslimin di
Malaysia. Saya sadari, apalah artinya diri saya sehingga harus memberi nasehat untuk sebuah bangsa yang
selama ini banyak dipuji-puji karena keberhasilannya? Namun niat saya, ingin menasehati sesama Muslim agar
terhindar dari musibah besar yang bisa menimpa. Kami telah sama-sama merasakan betapa pahit akibat dari
kesalahan politik yang kami lakukan sejak 10 tahun lalu. Kehidupan masyarakat tidak menjadi lebih baik, malah
menjadi sangat buruk, jauh lebih buruk dari keadaan di jaman Pak Harto dulu. Rakyat Malaysia sendiri telah
sama-sama tahu, demi mencari income, banyak warga kami menjadi pekerja illegal di Malaysia. Itu baru satu bukti
di antara sekian banyak bukti, bahwa kehidupan kami semakin sulit setelah Reformasi. Padahal dulu kami tidak
pernah sehina keadaan di masa kini.

Mengapa bisa menjadi demikian, padahal Reformasi adalah perbaikan? Semestinya, jika ada perbaikan, kehidupan
akan menjadi lebih baik. Secara teoritikal Reformasi memang perbaikan, tetapi kenyataan yang kami alami selama
10 tahun ini ternyata bukan Reformasi, melainkanL IB E R AL IS AS I (penerapan sistem liberal di segala bidang).
Masyarakat kami, seperti rumpun warga Muslim Nusantara lainnya, tidak cocok dengan sistem liberal, sebab
karakter kita bukan bangsa liberal seperti Amerika. Itulah sebab penderitaan kaum Muslim di Indonesia saat ini.

Ketua Dewan Pembina organisasi Islam Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII), KH. Cholil Badawi,
mengatakan, "Warna dominan sistem yang kini dikembangkan rezim demi rezim Reformasi, pasca jatuhnya
presiden Soeharto 1998, sangat pekat model liberalisme. Bahkan dalam berbagai penerapan rezim liberal di
Indonesia jauh lebih liberal dibandingkan di negara Barat asal ideologi itu. Tapi apa yang diperoleh bangsa ini
setelah Reformasi berjalan satu dekade?...Indonesia sungguh terpuruk tahun demi tahun Reformasi yang terus
berjalan. Kini bangsa Indonesia telah dimasukkan kategorinya sebagai negara gagal (Failed State), karena
kepemimpinan yang lemah, ekonomi yang terus-menerus merosot, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan sistem
demokrasi (yang amat dibanggakan) itu, tapi ternyata telah gagal diterapkan untuk mewujudkan kesejahteraan
bangsa Indonesia." (Suara Islam, edisi 44, 16-29 Mei 2008 M, halaman 30).

Bagaimanapun kita adalah Muslim dan terikat Ukhuwwah Islamiyyah, sehingga satu sama lain memiliki
tanggung-jawab untuk tolong-menolong dan nasehat-menasehati dalam kebaikan.
"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan
permusuhan." (Surat Al Maa’idah: 2).
"Demi waktu, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal
shalih, yang nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran." (Surat Al ‘Ashr).

Melalui tulisan ini saya menghimbau kaum Muslimin di Malaysia agar tidak terjerumus malapetaka seperti yang telah menimpa bangsa kami. Selagi masih ada waktu aturlah energi politik sebaik mungkin, jangan sampai nanti Anda kehilangan negeri Malaysia yang makmur, damai, dan sejahtera hanya karena hawa nafsu politik. Sungguh, penyesalan di kemudian hari sangat sangat menyakitkan. Para ahli politik (politisi) Indonesia yang dulu keras

menuntut Reformasi, saat ini mereka bersembunyi, tidak mampu bertanggung-jawab atas malapetaka yang
mereka buat. Apakah Malaysia mahu mengalami nasib yang sama?

Semoga nasehat ini berfaidah bagi Anda semua, dan juga bagi kami. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan
kekurangan yang ada. Semoga Allah menyelamatkan umat Islam di Malaysia dari bencana dan malapetaka. Dan
semoga pula Allah menolong kami di Indonesia, untuk melakukan reformasi (perbaikan) terhadap gerakan
"Reformasi" yang telah membawa banyak malapetaka itu. Amin ya Arhamar Rahimin.

Catatan penting:

Tulisan ini boleh disebarkan seluas-luasnya. Boleh di-copy, di-print, dibukukan, diperbanyak, dan lain-lain. Namun
tidak diperkenankan ada perubahan, pengurangan, atau penambahan isi tulisan. Sangat dianjurkan tulisan ini
diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat Malaysia. Jika ada saran,
kritik, atau diskusi, silakan dikirim ke e-mail kami:areabuku@gm ai l .com. Atas semua dukungan dan pertolongan
Anda bagi tersebarnya kebaikan-kebaikan, semoga Allah memberi pahala yang melimpah. Allahumma amin.

Kenyataan Politik di Malaysia
Dalam tulisan berjudul "Malaysia yang Mendidih", dimuat di majalah Sabili No. 25/Th. XV/26 Juni 2008, halaman
71-75, terdapat berita-berita seputar perkembangan politik masa kini di Malaysia, antara lain:
- Tsunami politik yang terjadi di Malaysia, pasca Pemilu ke-12, mengantarkan negara ini pada babak
baru. Babak yang tidak ringan, penuh konflik dan sitegang.
- Kelompok Pakatan Nasional dalam pemilihan umum meraih kemenangan di 5 negara bagian
Malaysia.

- Mantan PM Malaysia, Dr. Mahathir Muhammad menyatakan mundur dari UMNO, jika Dato Seri
Abdullah Badawi tidak mundur dari jabatannya selaku PM Malaysia. Keputusan Mahathir mundur salah
satunya karena provokasi seorang anggota PAS, Haji Ismail Wan Teh.

Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...
3 of 10
28/06/2008 06:22 AM
- Sri KS. Nijhar, dari kelompok MIC yang berbasis komunitas India, menyatakan mundur dari MIC.
Sementara MIC adalah partai pendukung Barisan Nasional.

- Wilayah Selangor, dengan motto Darul Ehsan, menolak konsep Islam Hadhari yang disuarakan oleh
PM Abdullah Badawi. Menurut Mohammad Azmi Abdul Hamid, presiden TERAS, cukup disebut Islam
saja, tak perlu menambah perkataan apapun di belakangnya (semisal Islam Hadhari), karena
dikhawatirkan akan membuat kerancuan dan merendahkan ajaran Islam.

- Kerajaan Kedah, menolak Khutbah Jum’at yang mewajibkan para khatib membaca naskah khutbah
dari pusat.
- Lim Kit Siang, menggugat hak-hak istimewa masyarakat Melayu dibanding dengan masyarakat China
dan India di Malaysia.
- Hindraf demo menuntut hak-hak orang Hindu di Malaysia, berakhir rusuh pada tahun 2007 lalu. M.
Manoharan ditangkap karena alasan ISA, lalu dipejarakan di Shah Alam. Meskipun begitu, setelah

pemilihan umum, dia mendapat satu kursi di parlemen.
- Ezam Mohammad Nor, mantan Ketua Pemuda Partai Keadilan Rakyat, bergabung dengan UMNO.
- Harga premium di Malaysia naik 40 % menjadi 2,70 RM.
- 12 Juli mendatang, rakyat Malaysia mengancam akan melakukan aksi turun ke jalan (demonstrasi).
- Dan lain-lain.

Situasi seperti di atas tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang dulu kami alami di tahun 1998, sebelum Presiden
Soeharto turun dari jabatannya. Ketika itu wibawa pemerintah jatuh, sebab dikecam dari sana-sini.
Cara Pandang Keliru
Setelah menyebutkan berita-berita seputar perkembangan politik masa kini di Malaysia, wartawan Sabili membuat
kesimpulan:

"Kemenangan Pakatan Rakyat atau Barisan Alternatif atas Barisan Nasional dan UMNO di 5 negara bagian di
Malaysia ini, lebih karena kemarahan dan kekecewaan rakyat pada partai berkuasa. Ada perjuangan untuk
memenangkan keadaan, tapi kemuakan rakyat atas segala ketidak-adilan, korupsi, dan kecurangan, yang lebih
menentukan."

Kesimpulan seperti itu terlalu terburu-buru, emosional, tidak menimbang persoalan politik secara bijaksana. Kami
dulu mendapati sangat banyak analisis seperti itu. Waktu itu banyak sekali politisi dan aktivis politik yang marah,
kecewa, muak, menghujat, mengutuk Soeharto. Tetapi waktu kemudian membuktikan, bahwa ungkapan "marah"
dan "muak" tidak memberi faidah apa-apa. Jika waktu itu kami lebih bersabar, tidak terkena provokasi pandangan
para ahli politik, suara-suara mahasiswa, dan opini sesat media, mungkin bangsa kami tidak akan menderita
seperti saat ini. Tetapi apa hendak dikata, takdir Allah Ta’ala telah menentukan demikian, sehingga kami harus
sabar menghadapinya.

Masalah politik adalah perkara yang sangat menentukan perjalanan sebuah bangsa, menentukan kehidupan
rakyat. Oleh itu, memandang perkara politik tidak boleh secara sempit, hanya memandang keadaan yang ada di
depan mata. Ahli politik sejati akan menghitung banyak variable, sebelum membuat kesimpulan, misalnya
membaca sejarah politik suatu negara dalam 20 tahun terakhir, membaca situasi politik regional, membaca politik
dunia, dan sebagainya. Jika tidak demikian caranya, maka bidang politik akan dikuasai oleh orang-orang yang
berwawasan sempit.

Inilah "Situasi Provokasi"

Saya memandang, situasi politik di Malaysia saat ini bukanlah kenyataan sebenarnya. Apa yang sedang ramai
berkembang di tengah masyarakat Malaysia adalah "situasi provokasi". Masyarakat Malaysia sedang diprovokasi
oleh para ahli-ahli politik, pemimpin partai politik, mahasiswa, para aktivis pergerakan, media massa, juga oleh
kekuatan-kekuatan asing. Tujuannya, biar timbul temperatur politik yang sangat panas dan high pressure. Jika
sudah begitu, nanti kepemimpinan negara akan jatuh, sehingga Malaysia berada dalam keadaan tidak stabil.

Kondisi yang dihadapi PM Abdullah Badawi saat ini sama seperti kenyataan yang dihadapi Presiden Habibie waktu itu. Habibie terus-menerus dimusuhi oleh kalangan sekular radikal yang tidak mahu keadaan nasional menjadi lebih aman, tertib, dan sejahtera secara ekonomi. Mereka mendesak Habibie secepatnya turun dari jabatan presiden, biarpl anni ng untuk memantapkan sistem liberal di Indonesia berjalan lancar.

Media massa, ahli-ahli politik, pemimpin partai, aktivis gerakan, mahasiswa, dan lainnya di Malaysia saat ini
bersuara keras mengecam pemerintah, mengecam korupsi, nepotisme, ketidak-adilan, dan kecurangan. Tetapi
sebenarnya, perbaikan kondisi itu sulit diwujudkan dengan cara emosional, kemarahan, apalagi kekerasan.
Ingatlah, bulan Juni 1988 terjadi tragedi besar di lapangan Tiananmen Beijing China. Waktu itu Partai Komunis
China menumpas demonstran pro demokrasi? Apakah setelah itu gerakan pro demokrasi disana memenangkan
pertarungan? Tidak pernah menang, selain jatuh korban ribuan orang. Bahkan para pendukung demokrasi saat ini
"diaspora" di berbagai negara.

Perbaikan secara emosional bisa saja terjadi, tetapi ia akan meminta korban yang sangat banyak. Dan biasanya

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...