Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 2 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...
3 of 4
28/06/2008 06:25 AM
Penutup
Kami berharap dengan setulus hati agar kiranya bangsa Malaysia, khususnya umat Islam, bersabar dan
bijaksana dalam mengawal proses-proses politik. Capailah perbaikan dan kemajuan secara gradual, bukan
emosional atau dilandasi kemarahan. Bersikaplah yang tenang, bijak, dan tidak tergesa-gesa. Jangan terburu
nafsu untuk menumpahkan segala amarah politik, sebab akibatnya nanti akan sangat menyakitkan.
Rasulullah Saw. bersabda: \u201cSesungguhnya Allah itu lembut, Dia menyukai kelembutan. Dia memberi di atas
kelembutan, apa yang tidak diberikan di atas kekerasan/ketergesaan.\u201d (HR. Muslim). Dalam hadits lain, Nabi
bersabda: \u201cSesungguhnya Allah itu lembut, Dia menyukai kelembutan dalam seluruh perkara.\u201d (HR. Bukhari
Muslim). Dalam hadits lain, Nabi Saw. juga bersabda: \u201cSesungguhnya kelembutan itu tidak terletak pada
sesuatu, melainkan akan menghiasinya dengan keindahan. Dan tidaklah kelembutan itu tercabut dari sesuatu,
melainkan akan menambah kejelekan padanya.\u201d (HR. Muslim). Dalam satu riwayat dikatakan,
\u201cKetergesa-gesaan itu adalah dari syaitan.\u201d
Hadits-hadits di atas maknanya sangat agung. Jika ingin kebaikan, maka kita harus menjaga ketenangan hidup
masyarakat; sebaliknya, jika ingin menyuburkan kejelekan, maka buatlah masyarakat menjadi beringas,
emosional, marah, anarkhis, dan sebagainya. Nanti di balik semua kejelekan itu tidak akan muncul kebaikan,
malah menyuburkan fitnah.
Umat Islam Malaysia tidak akan mampu membuat perbaikan, kemajuan, dan kekuatan jika menempuh cara-cara
kekerasan, silang sengketa, saling menghujat, saling marah satu sama lain. Tidak ada perbaikan terjadi dengan
cara-cara itu. Melainkan, perbaikan harus dibangun dengan sabar, dengan tekun, dengan damai, saling berbagi,
saling kerjasama, dan sebagainya. Oleh itu waspadalah terhadap suara-suara yang selalu membakar amarah,
mengencangkan sitegang, merusak ukhuwwah, memecah-belah, serta menyuburkan permusuhan di tubuh umat
Islam.
Ketika Reformasi 1998 berjalan di Indonesia, saya pribadi belum mencapai bekal yang cukup untuk berbicara
kepada masyarakat. Namun kini, sekurangnya saya telah belajar dari pengalaman-pengalaman di negeri kami.
Manakala melihat perkembangan politik di Malaysia berjalan sepertimana yang dulu kami alami, ada kerisauan
besar di hati. \u201cJangan sampai kaum Muslimin di negeri ini akan mengalami petaka seperti kami,\u201d begitulah
alasan saya. Tidaklah yang kami inginkan, melainkan agar Anda terhindar dari malapetaka yang sangat
menyakitkan.
Saya yakin, seperti apapun situasi di Malaysia saat ini, apakah karena hargapr emium naik, kasus korupsi,
ketidak-adilan politik, dan lainnya, semua itu masih jauh lebih baik daripada kondisi yang kami alami di
Indonesia. Kehidupan Anda sekalian disini masih jauh lebih mudah. Maka syukuri apa yang ada dan jangan
disia-siakan.
Ingat selalu firman Allah Ta\u2019ala: \u201cJika kalian bersukur, maka Aku (Allah) akan menambah nikmat-Ku, namun jika
kalian kufur, ingatlah sesungguhnya adzab-Ku (bagi orang-orang yang tidak bersyukur) sangat pedih.\u201d (Surat
Ibrahim: 7). Begitu pula Nabi berpesan: \u201cLihatlah kepada yang di bawah kalian, jangan melihat yang dia atas
kalian. Yang demikian itu agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.\u201d
Bilamana ada kesulitan-kesulitan, maka seluruh dunia pun kini menghadapi kesulitan. Krisis pangan dan minyak
bumi menimpa semua bangsa-bangsa. Manakah negeri-negeri Islam yang tidak dilanda kesulitan? Hingga di
negeri seperti Kerajaan Saudi Arabia (KSA) pun ada kesulitan. Jadi amat berlebihan bilamana Anda menuntut
kesempurnaan di masa yang penuh kekurangan ini. Hanya di syurga Allah amal-amal hamba yang shalih akan
di balas dengan sempurna. Di syurga tidak ada krisis pangan, tidak ada krisis premium, tidak ada krisis politik,
bahkan tidak dibutuhkan demokrasi.
Demikian yang bisa saya kemukakan. Mohon dimaafkan atas segala silap dan kekurangan. Syukran
jazakumullah khairan katsira atas segala perhatian dan pengertiannya. Semoga upaya ini bermanfaat bagi Anda
sekalian, umat Islam di Nusantara, dan bagi kami disini. Marilah kita saling mendoakan, agar situasi di negeri
kita masing-masing diberi pertolongan oleh Allah Ta\u2019ala. Allahumma amin. Bagaimanapun, orang-orang beriman
satu sama lain saling bersaudara. \u201cBahwasanya orang-orang beriman itu saling bersaudara.\u201d (Surat Al Hujurat:
10).
Wallahu a\u2019lam bisshawaab.
Selesai ditulis di Bandung, hari Rabu, 25 Juni 2008, waktu Dhuha.
Oleh Abu Muhammad Waskito.
Tentang Penulis
Lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1972. Menulis buku-buku keislaman populer,
sejak tahun 2001. Sampai saat ini telah menulis lebih dari 15 naskah buku,
sebagian besar sudah diterbitkan. Sebagian contoh karya buku: 10 Sikap Positif
Menghadapi Kesulitan Hidup (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001); Menepis
Godaan Pornografi (Darul Falah, Jakarta, 2005); Life Is Beautiful: Hidup Tanpa
Tekanan Stress (Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2005); 21 Resiko Buruk Busana
Seksi (Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 2006); Muslimah Wedding: Bila Hati Rindu
Menikah (Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 2007); Hidup Itu Mudah (Khalifa, Jakarta,
2007). Hubungi penulis lewat e-mail:ar eabuk u@gm ail.c om.
Leave a Comment