Namun, perjanjian damai hanyalah sebuah jeda dalam perang danpemberontakan yang panjang dan (mungkin) terus-menerus. Keyakinan terhadap 'idepemberontakan' tidak akan mati bersamaan dengan berakhirnya usia manusia atauseseorang mati karena disiksa atau ditembak. Justru dalam kematiannya iamenggenggam keyakinan dalam kepalanya. Karena kematian manusia itu memanganeh! Bila seorang pejuang mati, ia meninggalkan ketakutan bagi regim yangberkuasa, bahwa jasadnya boleh berkalang tanah, namun gagasan-gagasannya terushidup mengawal zaman. Buku ini membahas analisa pemikiran politik Hasan Tiro yangdemikian legendaris, tidak hanya bagi rakyat Aceh melainkan bagi semua manusiayang menginginkan kemerdekaan. Di atas segalanya, Hasan Tiro telah meninggalkan'keyakinan terdalam' bagi rakyat Aceh yang juga membutuhkan 'jawaban terdalam'pula dari para elit politik Aceh sekarang. Bagi orang-orang Aceh, sejarah merupakanmisteri Tuhan yang membutuhkan interpretasi dan apresiasi luar biasa atas kejadian-kejadian biasa.
T e u k u N a s r u d d i n S y a h
A c e h N e g e r i B a y a n g a n
Lhokseumawe, Aceh
Lhokseumawe, Aceh
Press
Unimal
AcehNegeriBayangan
Teuku Nasruddin Syah
9 7 8 9 7 9 1 3 7 2 2 3 7ISBN 979137223 -3
I
SBN 979-1372-23-3
P r s s e
ni a U ml
Telaah terhadap Pemikiran Politik Hasan Tiro
BANDAR Publishing
Pemberontakan adalah hal biasa bagi orang-orang Aceh. Sebermula dari awal, Perang antaraAceh-Belanda (1873-1942) tidak dapat diprediksikapan berakhirnya. Begitu pula denganpemberontakan Aceh Merdeka selama tiga dekade(1976-2004), nyaris di luar perkiraan semua orang.Konflik vertikal yang semula diperkirakan akansemakin lama dan panjang, dengan konsekuensipengurbanan manusia yang tidak sedikit yangmenempatkan moral pertempuran semakin eskalatifdari waktu ke waktu. Proses eskalasi kekerasan ini justru mengalami anti klimaks di saat-saatkeduabelah pihak meredakan ketegangan dalamPerjanjian Helsinki tahun 2005. MoU (Memorandumof Understanding) adalah sebuah peristiwa pasifisyang luar biasa.
Leave a Comment