• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
PIDATO PENGUKUHAN GURU BESARFAKULTAS EKONOMIUNIVERSITAS MALIKUSSALEH(Prof. Abdul Hadi Arifin, M.Si)
2
Bismillahirrahmanirrahim,
 Yang terhormat,
Bapak Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, (Jika hadir)Bapak Ketua dan Bapak/Ibu Anggota Majelis Wali Amanat UniversitasMalikussaleh,Bapak Ketua dan Bapak/Ibu Anggota Senat Akademik Malikussaleh,Bapak Ketua dan Anggota Dewan Guru Besar Universitas Malikussaleh,Para Dekan, Ketua Lembaga dan Unit Kerja, Dosen dan Karyawan di lingkunganUniversitas Malikussaleh,Bapak dan Ibu para undangan, keluarga, teman sejawat, mahasiswa dan hadirin yang saya muliakan.
 
 ﻣﻼﺴﻟا
ﻪﺗﺎﻛﺮﺑﻭﷲﺍﺔﺣﺭﻭﻢﻜﻴﻠﻋ
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji Syukur Kehadirat Allah SWT atastaufik, hidayah serta ridhonya atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada kitasemua, sehingga pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul bersama,khususnya pada saya sekeluarga dimana pada hari ini saya dapat dikukuhkan
1
 
sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Ekonomi pada Fakultas EkonomiUniversitas Malikussaleh.Kepada Pemerintah Republik Indonesia dan Menteri Pendidikan Nasional sayamengucapkan terima kasih atas kepercayaan kepada saya untuk mendapat jabatan Guru Besar.Semoga Allah SWT melimpahkan kepada saya kekuatan lahir dan batin, sertamemberikan petunjuk dan menuntun dalam melaksanakan tugas mulia ini.Bapak Rektor dan Hadirin yang saya hormati.Pada kesempatan ini izinkanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan sebagaiGuru Besar Tetap dalam bidang Ekonomi di Fakultas Ekonomi UniversitasMalikussaleh dengan judul:
“ ISLAM SEBAGAI SUMBER MORAL EKONOMI:Refleksi atas Rekonstruksi dan Reintegrasi Aceh “PENDAHULUAN
Krisis Perbankan yang diawali krisis mata uang yang memaksa pemerintahOrde Baru di masa penghujung ke-kuasaannya melakukan kebijakan untukmelepas rupiah dalam perdagangan pasar bebas valuta dan mengambang-kannya tanpa kendali benar-benar merupakan anti klimaks dari keseluruhandrama pembangunan pada masa Orde Baru. Krisis regional yang pada mulanyamenimpa mata uang Baht Thailand telah merembet dan memperparah krisisdalam negeri Indonesia.Rentang waktu antara pemulihan perkonomian sa-ngat terbatas berhadapandengan penyelenggaraan pemilu dan kerusuhan –kerusuhan yang melandadaerah-daerah di Indonesia. Kegiatan ekonomi sektor riil tampaknya mandeg,meski pemerintah tetap mengeluarkan skim kredit murah untuk pembiayaanindustri lemah, kecil, dan kope-rasi dengan
spread 
bunga perbankan yang negatif.Dari rangkaian krisis yang multidimensional itu sa-ngat beralasan untukmenyatakan terjadinya krisis mata uang itu karena kesalahan kebijakan yangsama sekali tidak berdasarkan pertimbangan atau alasan-alasan yang yang lebihprinsipil dan strategis, apalagi kebijakan eko-nomi pintu terbuka dan rezim devisabebas menjadi salah satu ciri dari pembangunan yang lebih bercorak liberal.Dalam hubungan dengan kebijaksanaan pembangunan pada orientasi
2
 
pembangunan yang terlalu berat menekan-kan artikulasi dan aksen kepentinganaspek ekonomi dengan arah atau pola kapitalisme kroni, di mana negara ataukekuasaan pokok sangat bersifat personal dan korpo-rasi lebih bersifatkekeluargaan atau
family corporation
, yang oleh para ahli telah diramalkan selalumengalami krisis dalam dirinya karena pola kesenjangan yang dilahir-kannya.
1
Pemerintah pada era Soeharto berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomidengan kontrol dan kendali yang efektif dalam akumulasi, alokasi dan bahkandistribusi-distribusi pendapatan. Dengan menggunakan UUD No. 5/1974 danberbagai kebijaksanaan ekonomi sentralistis dalam bentuk Kepres dan Inpres,pemerintah pusat mengu-asai dan mengontrol hampir seluruh sumber-sumberpen-dapatan daerah yang ditetapkan dengan bentuk penerima-an negara dalambentuk royalti dari minyak dan gas bumi, emas, timah, serta berbagaipenerimaan dari pajak ekspor dan impor tarif, pinjaman bantuan luar negeri,penanaman modal asing, dan tata niaga dalam negeri.
2
 Seiring dengan era reformasi, kebijakan pola pemba-ngunan yang sentralistisdiubah menjadi kebijakan peme-karan wilayah dan pengembangan sentra-sentraproduksi. Hal ini tertuang dalam Ketetapan MPR. Tap No. XV/MPR /1998, yaitupenyelenggaraan otonomi daerah, pengaturan pembagian, dan pemanfaatansumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dandaerah dalam kerangka NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Berbagaicontoh dapat dikemukakan dalam rangka pelaksanaan otonorni yang tidakserentak itu. Aceh, umpamanya, perlu didahulukan, antara lain untuk dapatmeredam gejolak pembangkangan. Pemekaran Sabang sebagai pelaBuhan bebas,yang baru-baru ini diresmikan oleh Presiden, merupakan langkah yang bisamenumbuhkan kepereayaan itu. Tuntutan lain (dan ini sebenarnya sudah dijumpaidalam Undang-undang No 25 yang disebut di atas) menyangkut pembagiankeuangan. Pembagian ini sebenarnya masih terlalu kecil untuk daerah, tetapisebagai langkah permulaan sebelum diubah nanti, pelaksanaan pembagiankeuangan itu sudah dapat dimulai dari bulan Mei l999,.yaitu bulan berlakunyaUndang-undang tersebut. Umpamanya, hak daerah bersangkutan diserahkanlangsung kepada daerah (apalagi hasil minyak bumi dan gas alamnya berjalan
1
Laode Kamaludin,
Format Indonesia Ba
ru, (Jakarta: Kaukus Nusantara, 1999.
2
Mac Andrews dan Ichlasul Amal,
Hubungan Pusat dan Daerah dalam Pembangunan,(Jakarta:
Rajagrafindo, 1993.
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...