pembangunan yang terlalu berat menekan-kan artikulasi dan aksen kepentinganaspek ekonomi dengan arah atau pola kapitalisme kroni, di mana negara ataukekuasaan pokok sangat bersifat personal dan korpo-rasi lebih bersifatkekeluargaan atau
family corporation
, yang oleh para ahli telah diramalkan selalumengalami krisis dalam dirinya karena pola kesenjangan yang dilahir-kannya.
Pemerintah pada era Soeharto berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomidengan kontrol dan kendali yang efektif dalam akumulasi, alokasi dan bahkandistribusi-distribusi pendapatan. Dengan menggunakan UUD No. 5/1974 danberbagai kebijaksanaan ekonomi sentralistis dalam bentuk Kepres dan Inpres,pemerintah pusat mengu-asai dan mengontrol hampir seluruh sumber-sumberpen-dapatan daerah yang ditetapkan dengan bentuk penerima-an negara dalambentuk royalti dari minyak dan gas bumi, emas, timah, serta berbagaipenerimaan dari pajak ekspor dan impor tarif, pinjaman bantuan luar negeri,penanaman modal asing, dan tata niaga dalam negeri.
Seiring dengan era reformasi, kebijakan pola pemba-ngunan yang sentralistisdiubah menjadi kebijakan peme-karan wilayah dan pengembangan sentra-sentraproduksi. Hal ini tertuang dalam Ketetapan MPR. Tap No. XV/MPR /1998, yaitupenyelenggaraan otonomi daerah, pengaturan pembagian, dan pemanfaatansumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dandaerah dalam kerangka NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Berbagaicontoh dapat dikemukakan dalam rangka pelaksanaan otonorni yang tidakserentak itu. Aceh, umpamanya, perlu didahulukan, antara lain untuk dapatmeredam gejolak pembangkangan. Pemekaran Sabang sebagai pelaBuhan bebas,yang baru-baru ini diresmikan oleh Presiden, merupakan langkah yang bisamenumbuhkan kepereayaan itu. Tuntutan lain (dan ini sebenarnya sudah dijumpaidalam Undang-undang No 25 yang disebut di atas) menyangkut pembagiankeuangan. Pembagian ini sebenarnya masih terlalu kecil untuk daerah, tetapisebagai langkah permulaan sebelum diubah nanti, pelaksanaan pembagiankeuangan itu sudah dapat dimulai dari bulan Mei l999,.yaitu bulan berlakunyaUndang-undang tersebut. Umpamanya, hak daerah bersangkutan diserahkanlangsung kepada daerah (apalagi hasil minyak bumi dan gas alamnya berjalan
1
Laode Kamaludin,
Format Indonesia Ba
ru, (Jakarta: Kaukus Nusantara, 1999.
2
Mac Andrews dan Ichlasul Amal,
Hubungan Pusat dan Daerah dalam Pembangunan,(Jakarta:
Rajagrafindo, 1993.
3
Leave a Comment