• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Truth and Opinion, who cares ?
Baru baru ini kita dikagetkan dengan pernyataan seorang anggota DPR RI, seorang ustadzyang dahulu dikenal tangguh berdiri di hadapan kedzaliman pemerintahnya sendiri, Abdul Qadir Jaelani yang menyatakan bahwa orang orang NII terlibat dalam aksi tersebut. Saya tersenyumgetir dengan pernyataan ini, tidak kah mereka mengerti
 syubuhat 
1
apa yang sedang ia hembuskan,seperti apa opini pembaca setelah mendapat informasi seperti itu.
“Lihat Negara Islam Indonesia membom gereja, dalam keadaan berjuang saja sudah tidak menghargai hak asasi manusia untuk memilih kepercayaan pribadi yang dianutnya, bagaimana kalau kelak berjaya ? Apakah dalam negara Islam semua orang akan dipaksa menganut Islam ? Benarkah dalam negara Islamtidak ada nafas bagi pemeluk agama lain untuk hidup, sebuah negara yang tidak memberi pilihan, kecuali memandang rakyat sebagai robot yang dijalankan dandiprogram negara ? Inikah Negara Islam, amit .. amit !!!
Siapa yang bertanggung jawab, bila gara gara kecerobohan pernyataan itu, citra NegaraIslam tercoreng. Disadari atau tidak, sang pembuat pernyataan telah menularkan penyakit antinegara Islam dikalangan pembaca media. Sadarkah AQJ bahwa menyebarkan rasa permusuhanterhadap Negara Islam di kalangan muslimin adalah sebuah dosa ? Atau ia menganggap bahwaini sebagai sebuah prestasi, kebanggaan warga RI – bisa turut menghancurkan/membunuh musuhnegaranya dua kali, bukan saja mendukung pemerintah RI yang telah mengeksekusi Imam NIItetapi juga ikut berperan serta membunuh sejarahnya dengan membilurkan cat hitam atas perjalanan jihad NII ? Semoga Firman Allah yang berkenaan dengan
 Haditsul Ifk,
bisa kita ambilhikmahnya :
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakandengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggap (menyuebar berita tidak jelas ini) sebagai satu hal yang ringan saja. Padahal dia disisi Allah adalah besar. Dan mengapa tidak kamu berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu : “Sekali kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan hal ini. Subhanaka, ini adalah dusta yang besar!”“Allah memperingatkan kamu, agar (jangan) kembali berbuat yang seperti itu selama lamanya jika kamu orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat ayatNya kepadamu. Dan AllahMaha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. ”“Sesungguhnya orang orang yang ingin agar (berita perbuatan yang amat keji itu) tersiar dikalangan orang orang yang beriman, bagi mereka ‘adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah adalah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ” (S.24 :15 – 19)
Mungkin AQJ akan berkilah; “Tidak demikian, NII yang saya maksud adalah si anu dan sianu yang begini dan begini” Kita akan katakan ; “Apakah anda yakin si pelaku itu warga NII ?”Bagaimana kalau bukan ? Apakah karena kegilaan teroristis seseorang itu, anda merasa berhak untuk menimpakan segala kesalahan itu pada sebuah Negara Islam ?Alangkah beraninya ? Atau apakah karena AQJ melihat para gerilyawan NII adalah kaumlemah dan tertindas, rakyat jelata yang tidak memiliki apa apa selain cita dan doa, tokh .. dituduhini dan itu pun mereka tidak bisa berbuat apa apa … selain meratap dan mengadukan semuatuduhan ini kepada Robb nya …?? Hmm demikianlah phenomena rakyat dari negara yang tengah berkuasa …..Seperti yang dinyatakan AQ dalam Koran Republika tanggal 31 Januari 2001 :
Orang NII itu miskin, tidak ada gaji dan tidak punya rumah dan mereka dibai’at. Kalau mereka tak melakukan perintah pimpinannya, bisa dibunuh….
(komentar saya : Yah memang tidak sepertiBung Abdul Qadir Jaelani, yang sudah kaya, bergaji tinggi sebagai anggota DPR dan punyarumah dinas …. Kalau soal dibai’at …bukankah AQJ juga dibai’at sebelum menjadi anggotaDPR, salah satunya adalah konsisten mempertahankan Pancasila dan UUD 45 …. Kalau
1
Kesamaran, pernyataan yang mengundang opini multi tafsir.
1
 
 perbandingannya kekayaan material seperti itu, kita memang tidak ada apa apanya bung !). Tentusaja yang dimaksud AQJ orang NII miskin ini bukan KW 9, dan KW 9 memang bukan NII,dimana pimpinannya, Abu Toto, juga sama sama duduk di parlemen RI. Tapi yang AQJ maksudadalah kita, ummat mujahidin yang senjatanya hanyalah do’a, yang kekayaannya adalah wacanadan bekalnya adalah keyakinan.OK. Bila dilihat dari status kewarganegaraan, memang wajar saja bila warga RImenjumput secuil fakta dan menafsirkan demikian. Kita mengerti setiap warga mencintainegaranya dan cenderung membenci musuh negaranya. Pada kenyataannya setiap orangIndonesia (baca : warga RI) terikat pada kebijaksanaan dari pemerintahnya. Sehingga pengertianmereka tentang NII pun adalah produk dari bagaimana pemerintah melihatnya. Kecuali jikamereka mendengarkan kata nuraninya sendiri dan menyatakan hubungan batin mereka pada prinsip-prinsip keadilan.Tetapi bila dilihat dari kacamata kemuslimannya (tokh, saya dan AQJ tidak berbedaagama, hanya berbeda negara
), mengapa tidak bersikap
wara
dalam hal ini ? Saya demikianterkesan dengan sikap DR. Bey Arifin dalam bukunya “Dialog Islam – Kristen” ketika mensikapikebohongan Yusuf Roni yang menyatakan bahwa ketika memeluk agama Islam, dia (Yusuf Roni) bukan sekedar Islam biasa, tapi Islam paling fanatik, dia adalah anggota Darul Islam. Denganlembut DR Bey Arifin mengomentari :
“Kalau benar ia anggota DI, saya akan tanyakan berapanomor stambuk dia, karena anggota Darul Islam memiliki organisasi yang tertib, bukanlah gerombolan liar yang melakukan pengrusakan pengrusakan itu. Boleh jadi Yusuf Roni adalah gerombolan pengacau yang merusak nama DI”
(lebih akurat lihat buku yang dimaksud –pen)Lihat, betapa seorang Imam Militer saja bisa demikian hati hati, sebagai seorang ‘alimyang tahu benar aturan perang, ia bisa membedakan mana
combattant 
yang berperang secara jantan, dan mana perusak yang tak punya ideologi. Beliau berusaha bersikap adil, walaupunterhadap tentara musuh (TII). Apakah kebencian begitu besar dalam hati AQJ terhadap NegaraIslam, sehingga demikian berani membuat lonjakan kesimpulan dari secuil data yang dimilikinya(Lihat S.4:135, S.5:8).Trenyuh oleh opini yang berkembang, atau dikembangkan secara mengenaskan oleh orangyang tahun 1984 demikian mengagumkan saya, bahkan lewat ceramah ceramah AQJ ini sayasadar akan kewajiban saya untuk menegakkan kalimatillah, sekalipun harus berhadapan denganAsas Pancasila. Terus terang pada waktu itu semangat yang muncul pada diri saya adalahsemangat pemberontakan, kebencian pada pemerintah RI, dan menuntut RI agar memberikankonsesi lebih terhadap kebebasan muslim melaksanakan Islam secara kaffah.Yah karena waktu itu saya dilecut semangat seorang pemberontak (AQJ), orientasi pemberontakan adalah ‘penggulingan kekuasaan’ pemerintah untuk kemudian berkuasa, dan bilaitu tercapai, atau katakanlah kalaupun tidak seluruhnya, tapi ikut kebagian kekuasaan, makasegera setelah itu (ia dan pemerintah yang pernah dilawannya) tidak lagi berdiri di pihak yang bersebrangan, tapi akan bahu membahu bersama pemerintah mempertahankan negaranya.Alhamdulillah saya tidak 
‘keterusan’ 
jadi pemberontak, mata saya terbuka, bahwa persoalan Pancasila adalah persoalan RI, berkhayal melaksanakan Islam kaffah di RepubliIndonesia adalah impian manis yang memboroskan energi. Tidak seperti AQJ yang terusmenghimpun kesolehan dan militansi muslimin untuk tetap berdiri di belakang RI, sayamengabdikan sisa hidup saya untuk ikut menerima dan membangun Negara Karunia Allahsemaksimal yang saya bisa. Dari sisi inilah saya bisa mengerti mengapa orang sekelas AQJmengambil sikap bersebrangan dengan NII, bukan karena ia tidak mengerti kewajibanmenggalang Negara Islam, tokh tangannya telah kenyang menuliskan buku buku Politik Islam,tapi permasalahan pokoknya karena ia warga RI, bahkan anggota parlemen RI. Pandangan politik kita bisa sama, namun karena pijakan politiknya beda, saya memaklumi kalau sikap politiknyaatas sesuatu bisa berbeda dengan saya.Pada kesempatan ini, ingin saya katakan padanya, bahwa NII berlepas diri dari apa yangAQJ tuduhkan. Sebagai rakyat Negara Islam Berjuang, saya tidak pernah mendapati kebijakanPemerintah seperti itu. Hanya kebenaranlah yang kami miliki, dan kebenaran itu pula yang kami
2
 
 perjuangkan. Dan apa yang dikatakan AQJ akan menjadi opini, entah sejauh mana anggapan ituakan berkembang,
tawakkalna ‘alallah, hasbunallah wa ni’mal wakil.
Bagi pemerintah Negara Islam Indonesia, prioritas pertama hari ini adalah menyelamatkanmujahid (Warga Negara Berjuang). Pemerintah tidak akan terpancing untuk melakukan gerakanlokal dan insidental. Pemerintah menyadari persis kemampuan diri dan rakyat yang bersamanya.Betapapun kuatnya semangat perlawanan, pemerintah Islam tidak akan berlaku bodoh denganmemobilisasi rakyat berjuang memasuki kancah pertempuran tanpa persiapan yang memadai,sebab jika demikian, berarti pemerintah telah merelakan putra putra terbaiknya memasuki ladang pembantaian !!Dan yang namanya berperang adalah melawan tentara lawan ! Perang adalah adu kekuatandua negara dengan aturan perang yang disepakati bersama, bukan gerakan pengecut, yangmenutupi ketakutannya dengan keganasan menyengsarakan rakyat negara lawan atas nama Islam.Dari sini saja sudah jelas terlihat bahwa apa yang dilakukan mereka (siapapun pelaku pembomanitu) adalah pencorengan atas wajah Islam secara keseluruhan. Semua kita malu dengan ini semua, bila terbukti bahwa pelakunya adalah muslimin. Dan AQJ menimpakan semua ‘aib ini padawajah Negara Islam Indonesia,
thanks it very nice, we will never forget this
 
Peperangan (
war 
) tidaklah sama dengan pertempuran (
battle
). Perang melingkupi banyak aspek, perang wacana, perang pendidikan, perang diplomasi, perang ekonomi dsb. Adapun pertempuran hanyalah bagian dari skenario perang besar tadi. Bahkan untuk memenangkan peperangan, boleh jadi tidak diperlukan satu pertempuran pun. Seperti terjadi pada masaRasulullah, peperangan antara haq dan bathil di daerah Yatsrib, dimenangkan front Islam tanpamengayunkan pedang. Yatsrib terbuka bagi kekuasaan politik Islam, lewat dakwah. Peneranganyang jernih menembus hati, inilah moment Futuh Madinah, dimana tanzhim Islam diterimadengan sukarela (
thow’an
). Berdirinya Republik Islam Pakistan hampir seperti itu, tanpa pertempuran (walaupun bukan tanpa korban) rakyat sadar, bangun dan bergerak mendukung berdirinya pemerintahan sendiri bagi muslimin, terpisah dari India.Bahwa terdapat kemungkinan pengerahan kekuatan militer dalam memperjuangkan tegak  berdirinya sebuah negara, biasa terjadi, dimana ketika upaya diplomatik kandas, maka pencapaiantujuan bisa mengambil jalan pertempuran. Seperti terjadi pada Futuh Makkah, dimana Rosulullahsaaw mengerahkan kekuatan militernya mengepung kota Makkah, namun itupun bukan untuk ‘pesta darah’. Dengan cantik Abbas memainkan psycological war, sehingga pasukan Islammencapai kemenangan yang sesungguhnya. Seperti yang dikatakan ahli strategi perang :
“Bahwakemenangan yang sebenarnya, bukanlah menghancurkan kekuatan material musuh, tetapimelumpuhkan moral musuh untuk terus melawan. Sebab sekalipun secara logistik bahkan personil, musuh berhasil disikat habis, bila spirit perlawanan masih ada pada mereka, maka peperangan belum berakhir.”
Psy-war Abbas berhasil melumpuhkan semangat panglima perang Makkah untuk memobilisasi perlawanan, tanpa pertempuran berarti, dengan meminimalisasi korban, akhirnyaMakkah bisa dikuasai. Futuh Makkah adalah fenomena dimana tanzhim Islam diterima secara‘terpaksa’ (
karhan
) karena tidak lagi memiliki kekuatan moral untuk melawan.Pemerintah NII bukanlah pemerintah yang
‘tega’ 
mengorbankan rakyatnya dihadapanmesin perang RI. Masih banyak hal yang harus dipersiapkan untuk melangsungkan pemerintahannormal di masa datang. Putra putri bangsa Islam ini, terus mekar melatih diri menjadi ahli,mereka terus mengembangkanilmu di luar negeri, alih teknologi, agar Negara Islam di masadatang mampu mengemban misi universalnya, sebagai rahmat bagi semesta alam. Sedang ayahibu mereka, ditengah licinnya medan gerilya, terus bergerak membanting tulang, bekerja, mencarinafkah yang halal untuk melanjutkan pembangunan bangsa, dan menyambung kasih dengansesama ummat beriman guna memikul tanggung jawab bersama,menggalang Negara KurniaAllah, Negara Islam Indonesia. Di malam hari, disela sela keletihan mereka, hati mereka larutdalam munajat, memohon kemurahan hati sang maha pembuka hati, untuk mengurai masalahantara kami dan kaum kami, yang berdiri dalam satu wilayah tapi terpisah dalam dua negara.
 Allahummaf tah bainana wa bayna qoumina, innaka khoyrul fatihin …
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...