Agung Yuswanto13 Mei jam 19:26Data anda menarik. Punya pengalaman gerakan sekaligus akademik. Terutama bagaimana anda cukup kagum terhadap Kartosuwiryo. Tentang tokoh2 yang anda pampang, its OK (saya bisa menerka minat kepemikiran anda. Tp ke SKM? AndaHRS bisa jelaskan bukan lantaran anda pernah aktif di sana. Misalnya, apa konsepkenegaraan SKM itu? Apa visi kebangsaannya? Jika ia ia punya visi nation state, dantulus membangun negeri, mengapa ia hrs diriin sendiri negara?Saya ingin ini jd diskusi dengan kepala dingin... Saya seusia anda, jd tolong sebutsaya nama saja. Saya senang bertemu anda di sini, nama anda cukup diperhitungkandalam konstelasi gerakan maupun intelektual muda. salam. NB: saya dulu di panjimas bersama syu'bah asa. Masih suka nulis di tempo. salam.Agung Y. AchmadAl Chaidar 14 Mei jam 14:45Mas Agus yang baik, terimakasih atas pesannya. Saya mencoba menulis ebaik mungkin, namun karena banyak gangguan, kualitas tulisan saya masih sangatsederhana. Saya memang kurang memaparkan tentang konsep keindonesiaan SMK. Namun dalam buku saya yang terbaru (2009) saya sampaikan tentang konsepkeindonesiaan SMK. Dia juga adalah salah seorang "nation-state builder" negeri ini,sehingga Fachry Ali menyebut pemberontakan DI sebagai "The Revolt of NationState Builder". SMK juga sangat nasionalis, anti kolonialnya begitu kental. Ada beberapa arsip yang belum saya gali dan analisis sekaligus interpretasikan. Saya berharap, dengan dukungan Mas Agung Yuswanto juga, saya bisa menghadirkankembali hasil-hasil penelitian saya tentang DI/TII dan tokoh-tokohnya seperti SMKartosoewirjo, Amir Fatah Wijaya Kesuma, Kahar Muzakkar, Daud Beureueh, danIbnu Hajar. Selain itu ada beberapa tokoh DI lainnya di Sumatera Utara, Lampung danMadura. Bahkan saya dengar juga ada tokoh DI di Maluku dan Timor/Flores. Jadi, inisatu-satunya pemberontakan pendiri negara Bangsa yang sangat luas pendukungnya,sama luasnya dengan sambutan terhadap negara NKRI Soekarno.Mas Agung, senang sekali bisa berkenalan dengan analisis Mas. HP saya081317658142. Saya memang diperhitungkan banyak orang, itu karena subyek penelitian saya. Pemikiran saya sendiri masih sangat sedikit, hanya analisis daninterpretasi saja. Saya lebih memilih sebagai akademisi/ilmuwan ketimbang sebagai
aktivis.Salam,Haidar Agung Yuswanto14 Mei jam 17:06Pertama, saya ucapkan terima kasih atas respon Anda. Kedua, Anda melanggar permintaan saya untuk tidak panggil mas. hehhehee. Tp, suer, itu jd kita gak egaliter.Please, panggil saya nama saja, toh kita bisa saling menghargai. Di Panjimas, aku biasa dipanggil Ayus, juga di komunitas penulis/wartawan.Ingatan saya tentang Alhaedar adalah ketika demo sejuta massa di monas yg usung pak amien. Itu aja sudah mengagumkan. Oke, saya akan lebih banyak melihat andasebagai akademisi. Terus terang, saya tengah menyusun novel dengan seting NII. Sayaingin dapat gambaran yg adil, baik dari buku2 penelitian, pengalaman riil, naskah2, polemik, dll.Tapi, apapun, meski saya abdikan untuk menjadi sebuah karya historiografis, tetapsaja itu sebuah fiksi. Nah, karena kerangka dan plot yang akan tersaji banyak menyinggung NII dan Islam radikal, maka diperlukan informasi akurat, terhidar darisimplifikasi, setereotip, insinuatif, dst.OK, saya akan siapkan beberapa topik turunan dlm diskusi kita ini. Sebagai perangsang, seorang Fazlur Rahman (pakistan) yang dikenal neo-modernis Islam (dandia pasti bukan konservatif, (neo-)revivalis, misalnya, setuju dengan Negara Islam.Gambaran tentang negara Islam berbeda jauh dgn yg dibayangkan Maududi. SMK lebih dekat dengan maududi. Lalu, saya juga banyak ketemu dengan anak-anak aktivis NII. Ga da di antara mereka yang bisa saya bilang cerdas. Mereka tak punya referensikecuali UU NII, dan doktrin2 dari para bos mereka. Mereka terbiasa untuk menolak buku2 dr luar, dan emang gak punya tradisi baca. Emang, ini konsekuensi dr sebuahorganisasi ekslusif, bahkan PKS pun masih ada kecenderungan spt itu, danorganisasi2 ingroup lainnya.Dari sisi militansi dan keteraturan gerakan, mungkin anak2 NII kontemporer termasuk jauh lebih rapi ketimbang anak2 kiri. Tapi, pengetahuan mereka tentang negara,tentang Islam, ya hanya menurut pemahaman mereka. Yang mereka ketahui adalahmekanisasi dari sebuah interpretasi ajaran Islam, sehingga sering ruhnya sudah jauhdari pesan2 moralnya. Sebagai sebuah interpretasi terhadap teks, NII sebnrnya udah benar, mereka telah melakukan suatu penggambaran ayat yg aplikatif. Tp, krn pamrihnya adalah mendirikan negara sendiri, maka sungguh visi2 itu hrs saya lihatsebagai provan, tak sakral. Ini terlihat ketika anak2 NII yang konon memperjuangkanIslam, dan sangat merasa Muslim, sampai hati meninggalkan salat--hal yang hanya
Leave a Comment