ditebang dan ditebasnja, dengan tidak diberi keroegian sepeser poen dan achirnja pendoedoeknja dihalaukan dan dioesir dari tempat-tinggal, tanah halamannja, jangdiperoesahakan dan ditinggalkannja oleh nenek-mojangnja, sebagai harta benda jangasli, sebagai tanah warisan, tanah poesaka, tanah jang ditjangkoelnja, tanah jangmemberi hasil kepadanja, pendek kata soeatoe barang jang dipertinggi dandiperindahkan oleh bangsa kita. Pendeknja mereka itu terpaksalah meninggalkantempat-diamnja dan mengembara kemana-mana boeat mentjari sesoeap nasi bagi anak bini mereka itu. Perkara ratap tangis dan kesedihan hati disini ta' perloe kita oeraikanlagi.Doeloe mereka senang berkeboen dan mempoenjai peroesahaan sendiri, tetapisekarang mendjadi orang ranau jang tidak mempoenjai hasil jang tetap, sekedar boeatmengisi peroetnja, jang atjap kali berkerontjongan. Tentoe sadja hati mereka itoemengandoeng dendam dan dengki terhadap segala bentjana jang telah menimpanja.Maka keroegian jang terdapat oleh ra'iat Lampoeng jang disebabkan oleh kedja-dian2 jang demikian itoe adalah sedjoemlah empat miljoen roepiah. Begitoelah menoe-roettaksiran wakilnja pendoedoek jang bernasib sial itoe jang pada waktoe ini ada diWeltervreden.Kemarin doeloe di sini datanglah seorang dari Teloekbetoeng, jang doeloe berdiam diAlan doea (Pagar Alam, Palembang), jang mentjeriterakan kepada kita akan kisahhidjrahnja dari tempat tinggalnja jang doeloe ke tempat tinggal jang sekarang ini. Dantidak di serta sanak keloearganja, tetapi beberapa (poeloeh) familie (djadi tidak orang-orang, sendiri-sendiri sadja) soedah hidjrah poela seperti dia. Adapoen sebabnja, ta'lain melainkan lantaran perboeatan-perboeatan sewenang-wenang dan kedjam-kedjam jang telah diderita oleh mereka itoe.Pembatja nistjajalah mengetahoei bahasa di tanah2 itoe ketjoeali hoekoem-hoekoem pemerintah Hindia-Nederland djoega berlakoe hoekoem2 'adat jang sangat berat, tidak 'adil dan pintjanglah adanja. Dan lagi hoekoem2 'adat itoe mempoenjai kekoeatan jang besar, sehingga ra'iat dengan moedahnja dapat dipermain2kan oleh "kepala-kepalanja" jang di sana diberi nama pasirah2. Keadaan jang demikian itoe tidak tjoema ada diPertja Soematera sadja, tetapi di Celebes poen "setali-tiga-oewang" alias sama sadja,dengan peroebahan sedikit, jaitoe di sana "perkakas-perkakas" itoe diberi "gelaran""radja-radja", soenggoehpoen hak2 radja-radja itoe tidak seperti radja2, dalam ertikata jang seloeas2 dan sebenar2nja. Hanja "nama" sadja jang tetap, tetapi hak2,haloean dan kewadjibannja sangat djaoeh berbedaan dengan radja jang soenggoeh2Begitoelah gambarnja nasib rakjat Indonesia pada zaman ini, jang katanja zaman perederan, zaman "modern", zaman baroe dan zaman kemadjoean. Semoeanja itoetjoema "katanja" sadja, stelsel jang dipakai dan diperlakoekannja, tetap seperti beberapa poeloeh abad jang doeloe. Ra'iat tetap tidak mempertjajai keleloeasaan.Perdjalanan ra'iat tambah lama tambah sempit dan litjin, djoemlahnja randjau bagira'iat poen makin lama makin banjak. Lebih tegas lagi, ra'iat tidak bisa beroebah, tidak bisa bergerak, tidak bisa melakoekan kewadjibannja sebagai ra'iat seperti jang telahdiakoei oleh segala bangsa, melainkan bentjana dan bahaja jang selaloe bakalmengantjam dan menimpanja. Perlindoengan ditjari, tetapi sajanglah tidak bisadiperdapat.
Leave a Comment