Makar Intelejen RI yang Gagal Terhadap
Darul Islam
Adi SMK
*)
Mensikapi tulisan Saudara He-Man, mantan Sekretaris II Badan KomunikasiPemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Wilayah Jawa Barat (2000-2003) berjudul “Intelejen dan Islam Radikal” menarik untuk saya tanggapi. Memang benar,seribu langkah dan upaya bagi kaum
kuffar
untuk menghancurkan perjuangan DarulIslam dan segala pemikiran radikalnya adalah sah dan halal bagi Pemerintah RI. Terlebihlagi, agenda infiltrasi, rekayasa dan operasi
clandestine
seakan menjadi ‘order’ harian bagi kepentingan politik dan ideologis mereka. Hal ini juga dinyatakan oleh Allah SWTdalam Quran Surah As-Shaff:
“
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipudaya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya
". (Qs. 61: 8).
Namun dalam hal tulisan Saudara He-Man sangat terlihat sekali analisa ilmiahyang terlalu dipaksakan demi sebuah kepentingan rivalitas politik terhadap suatukelompok tertentu dengan mengambil tema latar Darul Islam atau NII (Negara IslamIndonesia). Serentetan peristiwa dan para tokoh yang digambarkan sebagai orang-orangdan operasi binaan Opsus-Bakin (Operasi Khusus – Badan Koordinasi Intelijen Nasional), diklaim sama rata tanpa adanya sebuah pengungkapan data dan fakta yangakurat. Bahwa adanya beberapa orang eks-NII yang dilibatkan dalam memainkan peranintelejen meski kita sortir
kembali agar tidak menjadi suatu pandangan yang rancu danmerusak ke mana-mana. Bahwa memang ada orang-orang yang berhasil dilibatkan dalamdunia operasi Bakin, bukan berarti secara sistem, Darul Islam terkooptasi dan berhasildiradikalisasi. Sebab itu hanyalah keterlibatan oknum-oknum yang tidak dapat dijadikanlegalitas keterlibatan Darul Islam dan perjuangannya dalam operasi intelejen itu sendiri.Fenomena diracunnya Danu Muhammad Hasan memberikan indikasi kuat adanyakegagalan pemanfaatan dan kooperatif pihak intelejen terhadap pejuang yang masihmemiliki integritas dan bersungguh-sungguh untuk mengobarkan jihad di lingkungan pejuang Darul Islam. Begitu juga halnya dengan aksi-aksi lain seperti: Pemboman BCA,Kasus Woyla dan Pemboman Candi Borobudur, tidaklah dapat dinisbatkan pada aksi-aksi jihad dari pejuang Darul Islam. Sederhananya, untuk membedakan pola aksi itu semuadengan karakteristik perjuangan yang memiliki spirit jihad Darul Islam yang radikal danideologis, umumnya mengandung beberapa unsur: (1) ideologi; (2) imam &kewarganegaraan; (3) tuntutan hukum dan kemerdekaan. Maka selain dari nilai-nilai itusemua dapat dikita kategorikan sebagai “aksi krisis sosial-politik”
di tubuh RI yangsecara keji mengorbankan anak bangsanya sendiri demi ambisi kekuasaan para pemimpinnya.Sesungguhnya, Darul Islam sendiri sebagai sebuah identitas dan sistem perjuangan Islam yang radikal revolusioner memiliki aturan dan kaidah jihad yang sangatketat dan bersandar kepada kekuatan
qudratillah,
sehingga sangat kecil sekali peluang bagi kaum kuffar —musuh-musuh negara Islam— untuk dapat dengan mudahnyamelakukan rekayasa intelejen di tubuh Darul Islam. Sebaliknya, peluang kegagalan itusangat besar terjadinya, sebagaimana jaminan dari Allah SWT dalam firman-Nya:
Leave a Comment