Kuliah Tauhid
Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc.
1. Pendahuluan
Tawhid, sebagai ilmu, sebetulnya belum ada di zaman Rasulullah SAW,walaupun seluruh ‘ulama sependapat, bahwa TAWHID adalah dasar yang paling pokok dalam ajaran Islam.Sebagai ‘ilmu, TAWHID tumbuh, lama sesudah Rasulullah wafat. Semasa hidupRasulullah SAW, beliau mendidikkan sikap dan watak bertawhid ini denganmemberikan contoh teladan kepada para sahabat-sahabat beliau di dalamkehidupan sehari-hari.Pribadi Muhammad sebagai Rasulullah memanglah pribadi manusia yangsempurna (insan kamiil), dengan kata lain, beliau adalah manusia bertawhidsecara istiqamah (consistent) dan paripurna, karena itu sikap, watak, ucapan dantindak-tanduk beliau sebagai Rasulullah, terutama di biang ‘ibadah merupakanrujukan bagi setiap mu’min.Sebagaimana yang difirmankan Allah sendiri di dalam kitab-Nya:“Sesungguhnya kamu dapati pada diri Rasulullah itu teladan yang terpuji bagimereka, yang menaruh harapan kepada Allah, dan yakin akan hari akhirat, dansenantiasa terkenang akan Allah.” (QS 33:21).Karena itu pulalah beberapa tahun sesudah Rasulullah wafat, ketika Siti ‘AisyahRA ditanyai orang tentang akhlaq Rasulullah, Siti ‘Aisyah bertanya kembali danmenegaskan: “Tidakkah kau baca Al-Qur’an? Itulah gambaran akhlaq(budipekerti) Rasulullah!” Jadi tepatlah kalau ada yang mengatakan Rasulullahitu “Qur’an yang hidup”.Sesudah Islam berkembang ke segala penjuru, dan ummat Islam telah mampumenaklukkan para maharaja (super power) ketika itu, seperti Parsi di Timur danRomawi di Barat, maka ummat Islam mendapat kesempatan menuntut ilmusebanyak-banyaknya. Memang menuntut ilmu ini diwajibkan oleh Allah bagisetiap Muslim, maka sangatlah digalakkan oleh Rasulullah SAW bagi setiaplaki-laki maupun perempuan dari buaian sampai ke liang lahad, bahkan kalau perlu dengan pergi merantau sejauh-jauhnya ke negeri Cina sekalipun.1
Leave a Comment
Salam alaykum, BOleh diunduh?