balita, sehingga setiap sudut rumah beserta pekarangan masih saja sangat tajammembekas di sanubari kami, sehingga kami mampu merekonstruksi dalamimaginasi bagian demi bagian secara jelas seperti apa adanya sewaktu rumahtersebut masih kami huni bersama.Kenangan indah bersama ayahanda yang juga tidak bisa terlupakan adalahkesempatan suatu hari minggu sesudah bersantap siang berbaring-baring bertigadi ranjang dekat jendela yang terbuka lebar menghadap ke utara, dengan terpaansemilir udara segar, menatap langit yang biru bening, dihiasi dengan ornamenburung-burung elang leher putih, berakrobat di udara terbang berputar-putar,sesekali mengeluarkan lengkingan khas yang membahana ke segala penjurumemberitahukan kehadirannya pada anak-anak ayam yang serentak menyusupbersembunyi di bawah sayap ibunya. Pada ketinggian yang nyaris tak tampak,tiba-tiba burung elang menukik laksana sambaran kilat menerpa bumi, laluterbang lagi dengan tenang mata tajam melirik kiri kanan mengamati kalau-kalauada anak ayam yang tidak berlindung di bawah sayap ibunya yang bisadisambarnya.Sambil mengelus elus kepala kami dengan penuh kasih sayang, ayahandamenunjukkan di luar jendela beberapa burung-burung berbulu warna warni indahmeloncat dari dahan ke dahan dua pohon jeruk nipis, mengisap sari bunga, dengannyanyian gembira yang sangat tajam membekas di sanubari. Orkes alam tersebut,membaur menyatu dengan belaian halus dan bujukan ayahanda bersama terpaansemilir angin sejuk, mengantarkan kami bertiga berlayar dengan syahdu di lautankapuk, indah...., syahdu.... nikmat. Hampir lewat waktu Asar baru kami bertigaterbangun dengan aroma kopi dan teh yang harum menyentuh kelenjarpembangkit selera kenikmatan makan minum, terhidang di meja tamu ditemanihidangan pisang goreng (pisang kepok mengkal) yang mengebul panas-panasbuatan Ibunda tercinta. Ayah menyempatkan untuk mandi di air ledeng yangditampung di drum bekas aspal jalan di bawah rimbunan pohon hujan
(aju colo’)
dipojok barat pekarangan rumah, baru balik berkumpul bersama kami di tengah-tengah ruang tamu menikmati kopi dan teh panas dengan pisang gorengkesayangan kami. Saat itu, kami benar-benar merasakan kebahagiaan surgaduniawi bersama ayahanda dan ibunda tercinta, yang tidak akan pernah terulanglagi dalam hidup ini. Sayang saat itu saudara kami yang lain belum lahir sehinggabelum sempat menikmati kebahagiaan masa kanak-kanak yang sangat indah ini.
Kesedihan yang belum pernah sempat kami pahami:
Menjelang tidur dimalam hari itu, tidak seperti biasanya ayah mengajak lagi kami berbaring-baring diranjang yang sama (sehari-hari saya bersama kakanda tidur di ranjang berbeda dikamar tengah), kali ini kami berdua dengan kakanda diapit dengan ibundadipinggir dalam, ayah perbaring paling pinggir luar. Tiba-tiba, ayah dengan suarasyahdu membelah kesunyian mengatakan: ”Nanda, berdua dan Adinda(maksudnya sapaan kepada Ibunda) tercinta, Bapak minta supaya kalian bersabardan tabah ya? Mulai bulan depan Bapak sudah diberhentikan bekerja sebagaiMantri Polisi Swapraja, berdoa ya, semoga Bapak bisa dapat diterima bekerjasebagai petugas Polisi Negara.Mungkin karena kami masih terlalu kecil untuk mengerti apa makna ucapanayahanda yang membahana di tengah malam sepi itu, sehingga kami hanyasempat mendadak berpelukan sambil berempat tenggelam dalam isakan dankeseduhan air mata duka. Kami hanya bisa mengingat usapan jari jemari ayah dan
3
Leave a Comment