• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
“Ayahkoe, Malaikatkoe”
Bagian III. (Ketiga) dari tiga episode tulisan (Tamat)
Oleh: A. Hafied A. Gany (Gany-2)gany@Hafied.org
Foto buyutnya Pung Dullah sedang bercengkrama mandi di Sumur Buccello, yang mengingatkan penulis akan banyaknya cerita nostalgia pada masa kecil (saat seumur buyutnya Pung Dullah tersebut), khususnya terkait dengankesanku terhadap Pung Dullah.
(Foto: Screen Captured oleh Gany-2 dari Video Clip nakanda Rano, 2009)
---------
Pengantar:
Sebagaimana dituturkan pada Epidode Pertama dan kedua, bahwaepisode kali ini merupakan sambungan (penutup) dari dua episode sebelumnya,bahwa Pung Dullah (Ayahku), jarang mengumbar rasa kasih sayang kepada anak-anaknya dengan memberikan belaian, pelukan, ciuman atau sentuhan kasihsayang fisik – seperti kebanyakan orang – namun ini sama sekali bukan berartibahwa Pung Dullah kurang menyayangi, atau kurang perhatian terhadap anak-anaknya, namun perasaan cinta dan kasih sayangnya yang sangat mendalam didalam sanubarinya, hanya dapat kita baca secara tersirat dari pancaran sinarmatanya yang selalu berbinar-binar (penuh dengan aura cinta kasih) manakalaberinteraksi dengan anak-anaknya. Hal ini juga berlaku pada cucu-cucunya,kendatipun ada pameo yang mengatakan bahwa rasa cinta kepada cucu,umumnya lebih mendalam dari pada terhadap anak sendiri. Kami selalumerasakan adanya kesejukan cintakasih dan perlindungan (perisai), sertapancaran aura yang menggetarkan gelora semangat yang membuat sekujurmetabolisme fisik dan hati sanubari kami menjadi sejuk setiap kali berinteraksidengan beliau.
1
 
Pada episode kali ini, kami akan memaparkan beberapa kisah perlakuan beliausebagai manusia biasa, saat mana saya bersama kakanda pernah juga merasakancurahan emosi amarah, memarahi bahkan menghukum kami bersama kakandadengan lentikan cambuk dahan kering, membuatkan mainan layangan, senapankatapel, bahkan menghadiahkan telur ayam
“leghorn” 
peliharaan beliau untukdinikmati setengah matang. Pada episode ke tiga atau terakhir ini kami juga akanmenuturkan bagaimana ungkapan cinta kasih beliau kepada kami pada saat kamimenanjak dewasa, pada saat sakit, dan pada saat kami sudah berkeluarga danberbagai ungkapan kasih sayang beliau kepada cucu-cucunya.
Rekonstruksi imaginer rumah orang tua kami di Buccello, Bila Selatan, Soppeng, tempat kami tigabersaudara dilahirkan (Gany 1, 2 and 3). Bangunan depan, adalah rumah utama, belakang adalahdapur dan jauh di latar belakang adalah kandang kuda ayah kami. Rumah tersebut dibangunsekitar tahun 1925-an. Dijual oleh kakek kami kepada seorang dari Batu-batu pada tahun 1955,dan konon dibumihanguskan oleh gerombolan bersenjata tahun 1960-an <gany@hafied.org>
Kenangan renda kasih sayang di rumah tua
(Bola Laong):
 
Meskipun dalamepisode yang lalu, disebutkan bahwa saya kebanyakan tinggal bersama kakek dannenekda di Takkalalla, namun sebelum mulai bersekolah di SR, banyak hari-harimasa kecil berlalu di rumah tempat kelahiran kami tiga bersaudara di DesaBuccello, Bila Selatan Soppeng. Kami tinggal di rumah milik kakek, sambilayahanda mempersiapkan membangun rumah baru di sebelah barat jalan , lebihpopuler waktu itu dikenal dengan Lorong 14). Rumah papan beratap seng tempatkami tiga bersaudara dilahirkan, banyak sekali menggoreskan kenangan masa
2
 
balita, sehingga setiap sudut rumah beserta pekarangan masih saja sangat tajammembekas di sanubari kami, sehingga kami mampu merekonstruksi dalamimaginasi bagian demi bagian secara jelas seperti apa adanya sewaktu rumahtersebut masih kami huni bersama.Kenangan indah bersama ayahanda yang juga tidak bisa terlupakan adalahkesempatan suatu hari minggu sesudah bersantap siang berbaring-baring bertigadi ranjang dekat jendela yang terbuka lebar menghadap ke utara, dengan terpaansemilir udara segar, menatap langit yang biru bening, dihiasi dengan ornamenburung-burung elang leher putih, berakrobat di udara terbang berputar-putar,sesekali mengeluarkan lengkingan khas yang membahana ke segala penjurumemberitahukan kehadirannya pada anak-anak ayam yang serentak menyusupbersembunyi di bawah sayap ibunya. Pada ketinggian yang nyaris tak tampak,tiba-tiba burung elang menukik laksana sambaran kilat menerpa bumi, laluterbang lagi dengan tenang mata tajam melirik kiri kanan mengamati kalau-kalauada anak ayam yang tidak berlindung di bawah sayap ibunya yang bisadisambarnya.Sambil mengelus elus kepala kami dengan penuh kasih sayang, ayahandamenunjukkan di luar jendela beberapa burung-burung berbulu warna warni indahmeloncat dari dahan ke dahan dua pohon jeruk nipis, mengisap sari bunga, dengannyanyian gembira yang sangat tajam membekas di sanubari. Orkes alam tersebut,membaur menyatu dengan belaian halus dan bujukan ayahanda bersama terpaansemilir angin sejuk, mengantarkan kami bertiga berlayar dengan syahdu di lautankapuk, indah...., syahdu.... nikmat. Hampir lewat waktu Asar baru kami bertigaterbangun dengan aroma kopi dan teh yang harum menyentuh kelenjarpembangkit selera kenikmatan makan minum, terhidang di meja tamu ditemanihidangan pisang goreng (pisang kepok mengkal) yang mengebul panas-panasbuatan Ibunda tercinta. Ayah menyempatkan untuk mandi di air ledeng yangditampung di drum bekas aspal jalan di bawah rimbunan pohon hujan
(aju colo’)
dipojok barat pekarangan rumah, baru balik berkumpul bersama kami di tengah-tengah ruang tamu menikmati kopi dan teh panas dengan pisang gorengkesayangan kami. Saat itu, kami benar-benar merasakan kebahagiaan surgaduniawi bersama ayahanda dan ibunda tercinta, yang tidak akan pernah terulanglagi dalam hidup ini. Sayang saat itu saudara kami yang lain belum lahir sehinggabelum sempat menikmati kebahagiaan masa kanak-kanak yang sangat indah ini.
Kesedihan yang belum pernah sempat kami pahami:
Menjelang tidur dimalam hari itu, tidak seperti biasanya ayah mengajak lagi kami berbaring-baring diranjang yang sama (sehari-hari saya bersama kakanda tidur di ranjang berbeda dikamar tengah), kali ini kami berdua dengan kakanda diapit dengan ibundadipinggir dalam, ayah perbaring paling pinggir luar. Tiba-tiba, ayah dengan suarasyahdu membelah kesunyian mengatakan: ”Nanda, berdua dan Adinda(maksudnya sapaan kepada Ibunda) tercinta, Bapak minta supaya kalian bersabardan tabah ya? Mulai bulan depan Bapak sudah diberhentikan bekerja sebagaiMantri Polisi Swapraja, berdoa ya, semoga Bapak bisa dapat diterima bekerjasebagai petugas Polisi Negara.Mungkin karena kami masih terlalu kecil untuk mengerti apa makna ucapanayahanda yang membahana di tengah malam sepi itu, sehingga kami hanyasempat mendadak berpelukan sambil berempat tenggelam dalam isakan dankeseduhan air mata duka. Kami hanya bisa mengingat usapan jari jemari ayah dan
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...