menempatkan ibadah sebagai bagian penting dalam kehidupannya, sehingga padaakhirnya justru terlepas dari kaitan silaturrakhmi dengan, bahkan dikucilkan, masyarakatsekitarnya. Padahal, pengakuan dan penerimaan masyarakat merupakan kebutuhanesensiel manusia, apalagi setelah pensiun.-----
Pensiunan Pegawai Rendahan:
Kasus ini, adalah seorang pegawai rendahan setingkat juru ukur yang tugasnya sehari-hari di lapangan melakukan pengukuran dengan tekundan sempurna, tapi dengan gaji dan honorarium yang pas-pasan saja untuk kebutuhanrumah tangga, terkadang mengalami tekor uang belanjanya, sehingga isterinya terpakasamembuka warung makanan untuk menambah kebutuhan belanja. Saya sempat kagumdengan beliau karena kelihatannya tidak pernah mengeluh atau menuntut haknya, danselalu kelihatan bekerja dengan penuh semangat dan dengan kesehatan badan yang prima.Sampai puluhan tahun setelah pensiun, beliau terlihat tidak ada perbedaan sama sekali, padahal beliau hanya tergantung dari gaji pensiun dan tambahan warung isterinya. Dariinteraksi dengan beliau selama masih aktif, saya bisa mengorek informasi rahasiakeperimaannya, yakni keteraturan melakukan kegiatan sehari-hari, beribadah, makan, banyak minum air putih, mandi, bekerja, semua serba teratur waktunya – walaupundalam keadaan liburan, serta selalu bersosialisasi dengan tetangga terutama membesuk orang sakit, melayat orang meninggal dan menghadiri acara-acara perkawinan. Sekalipuntidak pernah memberikan sumbangan materi yang besar, namun selalu ringan tanganmembantu yang punya hajat, baik diminta ataupun tidak.Terakhir beberapa tahun yang lalu pada kunjungan kerja saya di daerah tersebutmendengar kabar bahwa beliau masih hidup, sehat melakukan kegiatannya secara teratur seperti biasanya, meskipun umurnya sudah melebihi 85 tahun.
Pensiun Janda Pegawai Menengah:
Seorang janda pegawai menengah yang lamasebelum suaminya meninggal, beliau dimadu, dengan nikah siri, dan selama kurun waktutersebut sebagian besar waktu suaminya tinggal di isteri mudanya, dan beliau hanyadiberikan uang belanja yang tidak memadai untuk menghidupi dirinya bersama tiga oranganaknya, sehingga beliau terpaksa berusaha membantu-bantu tetangga menjaga anak ataumemasak bila ada hajatan dan sebagainya untuk menambah uang belanja. Beberapa bulansetelah pensiun, suaminya terkena serangan jantung yang mengharuskannya menunggudengan sabar di rumah sakit berbulan-bulan, karena ternyata isteri muda suaminya tidak bersedia mendampingi terus dengan alasan merawat anak yang masih kecil-kecil. Beliausebagai isteri tua selalu saja dengan tekun merawat, menyuapi, memandikan sertamengurut suaminya setiap hari, sejalan dengan pengobatan dokter dengan menggunakantambahan biaya dari ASKES.Selama perawatan berbulan-bulan tersebut, semua harta yang berharga semuanya ludesdijual, dan terakhir rumah dinas yang sudah lunas cicilannya, terpaksa juga dijual untuk biaya menutupi biaya hidup dan pengobatan. Sementara itu, uang pensiun suaminyadiberikan semua kepada isteri muda untuk membiayai kebutuhan bersama anak-anak yang masih kecil-kecil.Atas kehendak Tuhan, sang suami akhirnya meninggal setelah cukup lama menjalani pegobatan yang didampingi dengan tekun oleh sang isteri tua. Pada saat tersebut, pensiun janda yang atas nama isteri tuanya yang resmi dalam daftar gaji, masih terus diterima
3
Leave a Comment