• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
Pemeriksaan
Buku Peserta
Pusdiklat BPK RI
Hal. 45 dari 162
BAB V
PEMERIKSAAN KEUANGAN

Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu:
1. menjelaskan tentang tujuan pemeriksaan atas laporan keuangan;
2. menjelaskan proses atau pelaksanaan pemeriksaan (audit) laporan keuangan;
3. menjelaskan pendekatan audit;

4. menjelaskan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN);
5. menjelaskan laporan pemeriksaan keuangan.
A. PENGERTIAN DAN TUJUAN PEMERIKSAAN KEUANGAN
Pengertian Pemeriksaan Keuangan
Pemeriksaan (audit) keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan (UU RI

Nomor 15 Tahun 2004). Pemeriksaan (audit) adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan secara independen, obyektif, dan professional berdasarkan standar pemeriksaan, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan informasi menganai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Laporan keuangan adalah meliputi Laporan Realisasi APBN/APBD, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara/daerah dan badan lainnya.

Tujuan Pemer iksaan Keuangan
Tujuan umum pemeriksaan (audit) atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan

pendapat atau opini (Pasal 16 UU RI Nomor 15 Tahun 2004). Pendapat (opini) adalah pernyataan profesional sebagai kesimpulan pemeriksa (auditor) mengenai tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.

Pemeriksaan
Buku Peserta
Pusdiklat BPK RI
Hal. 46 dari 162
Berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), Lampiran I \u2013
Pendahuluan Standar Pemeriksaan, paragraf 14 menyatakan bahwa:
\u201cPemeriksaan keuangan bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai
(reasonable assurance) apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar,

dalam semua hal yang material sesuai dengan pronsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.\u201d

B. PROSES PEMERIKSAAN KEUANGAN
Proses atau tahapan dalam pemeriksaan atas laporan keuangan terdiri dari empat
tahapan kegiatan, yaitu:

1. Tahap Penerimaan Penugasan Pemeriksaan. Tahap awal dalam suatu pemeriksaan laporan keuangan adalah mengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu kesempatan menjadi pemeriksa untuk klien baru, atau untuk melanjutkan sebagai pemeriksa bagi klien yang sudah ada.

2.Tahap Perencanaan Pemeriksaan. Tahap kedua dari suatu pemeriksaan atas laporan keuangan adalah menyangkut penetapan strategi pemeriksaan untuk pelaksanaan dan penentuan lingkup pemeriksaan. Perencanaan merupakan tahap yang cukup sulit dan menentukan keberhasilan penugasan pemeriksaan.

3. Tahap Pelaksanaan Pengujian Pemeriksaan. Tahap ketiga dari suatu pemeriksaan atas laporan keuangan adalah melaksana-kan pengujian pemeriksaan (audit test). Tahap ini sering disebut juga sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan. Tujuan utama tahap pemeriksaan ini adalah mendapatkan bukti pemeriksaan mengenai efektivitas struktur pengendalian intern (SPI) klien dan kewajaran laporan keuangannya.

4. Tahap Pelaporan Temuan. Tahap kedua atau tahap terakhir dari suatu
pemeriksaan atas laporan keuangan adalah pelaporan temuan.

Dalam setiap tahapan, pemeriksa (auditor) harus memahami berbagai faktor dalam lingkungan pemeriksaan (audit). Beberapa di antara faktor tersebut adalah: (a) dampak dari berbagai peraturan, (b) harapan (ekspektasi) masyarakat, (c)

Generated by Foxit PDF Creator \u00a9 Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.
Pemeriksaan
Buku Peserta
Pusdiklat BPK RI
Hal. 47 dari 162
kemungkinan dituntut di pengadilan, dan (d) keharusan untuk melakukan
pemeriksaan sesuai dengan standar profesional.
C. PENDEKATAN PEMERIKSAAN KEUANGAN

Dalam pemeriksaan (audit), pemeriksa (auditor) melakukan berbagai pendekatan dalam melakukan pengujian (test). Secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga golongan pengujian: (1) pengujian analitik (analytical tests); (2) pengujian pengendalian (tests of control); dan (3) pengujian substantif (substantive tests).

Pengujian Analitik

Pengujian ini dilakukan oleh auditor pada tahap awal proses pemeriksaannya dan
pada tahap pengkajian atau penelaahan (review) menyeluruh terhadap hasil
pemeriksaan. Pengujian ini dilakukan dengan cara mempelajari perbandingan dan
hubungan antara data yang satu dengan data yang lain. Pada tahap awal proses audit,
pengujian analitik dimaksudkan untuk membentu pemeriksa dalam memahami
kegiatan entitas atau satuan usaha dan dalam menemukan bidang yang memerlukan
pemeriksan lebih intensif.

Sebelum seorang pemeriksa melaksanakan pemeriksaan secara rinci dan mendalam terhadap obyek pemeriksaan, ia harus memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai satuan usaha yang diperiksa. Untuk itu, analisis rasio dan analisis terhadap laporan keuangan perbandingan (comparative financial statements) merupakan cara yang umumnya ditempuh oleh pemeriksa untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dan secara garis besar mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha entitas (satuan usaha).

Pengujian Pengendalian

Pengujian pengendalian merupakan prosedur audit yang dirancang untuk
memverifikasi efektivitas pengendalian intern entitas. Pengujian pengendalian
terutama ditujukan untuk men-dapatkan informasi mengenai:

1. Frekuensi pelaksanaan aktivitas pengendalian yang ditetapkan.
Pemeriksaan
Buku Peserta
Pusdiklat BPK RI
Hal. 48 dari 162
2. Mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian tersebut, dan
3. Karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian tersebut.

Pengujian pengendalian dilakukan untuk mendapatkan bukti tentang keefektifan rancangan dan pengoperasian kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern (SPI). Pengujian pengendalian juga mencakup pengajuan pertanyaan kepada para kartawan/pegawai tentang prosedur pengendalian yang mereka kerjakan dan pemeriksa melakukan ulang prosedur-prosedur tersebut. Pengujian pengendalian ini bukan merupakan keharusan dalam suatu pemeriksaan atas laporan keuangan, namun demikian hal ini sangat sering dilakukan para pemeriksa dalam kebanyakan pemeriksaan.

Pengujian Substantif

Pengujian substantif merupakan prosedur audit yang dirancang untuk menemukan kemung-kinan kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan. Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan kemungkinan terjadi karena:

1. Kesalahan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Tidak diterapkannya prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
3. Ketidakkonsistenan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum di

Indonesia.
4. Ketidaktepatan pisah batas (cut off) pencatatan transaksi.
5. Perhitungan (pengalian, pembagian, penambahan, dan pengurangan).
6. Pekerjaan penyalinan, penggolongan, dan peringkasan informasi.
7. Pencantuman pengungkapan (disclosure) unsur tertentu dalam laporan keuangan.

Pengujian substantif terdiri dari: (1) prosedur analitis, (2) pengujian detil transaksi, dan (3) pengujian detil saldo-saldo. Penggolongan prosedur pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mendapatkan bukti tentang kewajaran asersi-asersi manajemen dalam laporan keuangan.

Prosedur analitis menyangkut penggunaan perbandingan-perbandingan atau rasio-
rasio untuk menilai kewajaran penyajian laporan keuangan. Pengujian detil transaksi
Generated by Foxit PDF Creator \u00a9 Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.
Pemeriksaan
Buku Peserta
Pusdiklat BPK RI
Hal. 49 dari 162

menyangkut pemeriksaan atas pendukung untuk setiap pendebitan dan pengkreditan yang di-posting ke dalam suatu akun/rekening. Pengujian detil saldo-saldo menyangkut pemeriksaan atas pendukung saldo akhir suatu akun/rekening secara langsung.

Pada umumnya, pemeriksa melakukan pengujian detil transaksi untuk memastikan dua hal: (1) semua kebijakan dan prosedur pengendalian yang bisa diterapkan telah diikuti dalam memproses transaksi (pengujian pengendalian), dan (2) transaksi- transaksi telah dijurnal dan di-posting ke buku besar dengan benar. Apabila kedua tujuan tersebut dilakukan dengan pengujian yang sama atau bersamaan (simultan), maka hal tersebut disebut pengujian bertujuan ganda (dual-purpose test).

D. STANDAR PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA

Standar pemeriksaan merupakan patokan atau pedoman bagi para pemeriksa (auditor) dalam melakukan tugas pemeriksaannya. SAP yang dihasilkan pada tahun 1995 dirasa tidak dapat memenuhi tuntutan dinamika masa kini. Terlebih lagi, sejak adanya reformasi konstitusi di bidang pemeriksaan, maka untuk memenuhi amanat Pasal 5 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Pasal 9 ayat (1) huruf e Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), BPK harus menyusun standar pemeriksaan yang dapat menampung hal tersebut. Oleh karena itu, pada awal tahun 2007, BPK telah berhasil menyusun standar pemeriksaan yang diberi nama Standar Pemeriksaan Keuangan Negara atau disingkat dengan SPKN.

SPKN ditetapkan dengan peraturan BPK Nomor 01 Tahun 2007 sebagaimana amanat UU yang ada. Dengan denikian, sejak ditetapkannya Peraturan BPK tersebut dan dimuatnya dalam Lmbaran Negara, maka SPKN akan mengikat BPK maupun pihak lain yang melaksanakan pemeriksaan keuangan negara untuk dan atas nama BPK.

Menurut Pasal 1 Peraturan BPK RI Nomor 01 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), SPKN adalah patokan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. SPKN dinyatakan dalam bentuk Pernyataan Standar Pemeriksaan yang selanjutnya disingkat PSP.

Pemeriksaan
Buku Peserta
Pusdiklat BPK RI
Hal. 50 dari 162

SPKN yang dimaksud dalam Peraturan BPK No.1/2007 terdiri atas Pendahuluan Standar Pemeriksaan dan 7 (tujuh) PSP. Pendahuluan Standar Pemeriksaan ditetapkan dalam Lampiran I. Sedangkan tujuh PSP tersebut adalah sebagai berikut.

1. PSP Nomor 01 tentang Standar Umum ditetapkan dalam Lampiran II.
2. PSP Nomor 02 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan ditetapkan
dalam Lampiran III.
3. PSP Nomor 03 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Keuangan ditetapkan
dalam Lampiran IV.
4. PSP Nomor 04 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja ditetapkan
dalam Lampiran V.
5. PSP Nomor 05 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Kinerja ditetapkan dalam
Lampiran VI
6. PSP Nomor 06 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan dengan Tujuan
Tertentu ditetapkan dalam Lampiran VII
7. PSP Nomor 07 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu
ditetapkan dalam Lampiran VIII

SPKN berlaku untuk semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap entitas, program, kegiatan, serta fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

SPKN berlaku bagi: (1) Badan Pemeriksa Keuangan, dan (2) Akuntan Publik atau pihak lainnya yang melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara, untuk dan atas nama BPK. Aparat Pengawas Internal Pemerintah, satuan pengawas intern maupun pihak lainnya dapat menggunakan SPKN sebagai acuan dalam menyusun standar pengawasan sesuai dengan kedudukan, tugas, dan fungsinya.

Pendahuluan Standar Pemer iksaan
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, selanjutnya dalam dokumen ini disebut
sebagai Standar Pemeriksaan, memuat: (a) persyaratan profesional pemeriksa, (b)
Generated by Foxit PDF Creator \u00a9 Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...