Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu:
1. menjelaskan tentang tujuan pemeriksaan atas laporan keuangan;
2. menjelaskan proses atau pelaksanaan pemeriksaan (audit) laporan keuangan;
3. menjelaskan pendekatan audit;
Nomor 15 Tahun 2004). Pemeriksaan (audit) adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan secara independen, obyektif, dan professional berdasarkan standar pemeriksaan, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan informasi menganai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Laporan keuangan adalah meliputi Laporan Realisasi APBN/APBD, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara/daerah dan badan lainnya.
pendapat atau opini (Pasal 16 UU RI Nomor 15 Tahun 2004). Pendapat (opini) adalah pernyataan profesional sebagai kesimpulan pemeriksa (auditor) mengenai tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
dalam semua hal yang material sesuai dengan pronsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.\u201d
1. Tahap Penerimaan Penugasan Pemeriksaan. Tahap awal dalam suatu pemeriksaan laporan keuangan adalah mengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu kesempatan menjadi pemeriksa untuk klien baru, atau untuk melanjutkan sebagai pemeriksa bagi klien yang sudah ada.
2.Tahap Perencanaan Pemeriksaan. Tahap kedua dari suatu pemeriksaan atas laporan keuangan adalah menyangkut penetapan strategi pemeriksaan untuk pelaksanaan dan penentuan lingkup pemeriksaan. Perencanaan merupakan tahap yang cukup sulit dan menentukan keberhasilan penugasan pemeriksaan.
3. Tahap Pelaksanaan Pengujian Pemeriksaan. Tahap ketiga dari suatu pemeriksaan atas laporan keuangan adalah melaksana-kan pengujian pemeriksaan (audit test). Tahap ini sering disebut juga sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan. Tujuan utama tahap pemeriksaan ini adalah mendapatkan bukti pemeriksaan mengenai efektivitas struktur pengendalian intern (SPI) klien dan kewajaran laporan keuangannya.
Dalam setiap tahapan, pemeriksa (auditor) harus memahami berbagai faktor dalam lingkungan pemeriksaan (audit). Beberapa di antara faktor tersebut adalah: (a) dampak dari berbagai peraturan, (b) harapan (ekspektasi) masyarakat, (c)
Dalam pemeriksaan (audit), pemeriksa (auditor) melakukan berbagai pendekatan dalam melakukan pengujian (test). Secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga golongan pengujian: (1) pengujian analitik (analytical tests); (2) pengujian pengendalian (tests of control); dan (3) pengujian substantif (substantive tests).
Pengujian ini dilakukan oleh auditor pada tahap awal proses pemeriksaannya dan
pada tahap pengkajian atau penelaahan (review) menyeluruh terhadap hasil
pemeriksaan. Pengujian ini dilakukan dengan cara mempelajari perbandingan dan
hubungan antara data yang satu dengan data yang lain. Pada tahap awal proses audit,
pengujian analitik dimaksudkan untuk membentu pemeriksa dalam memahami
kegiatan entitas atau satuan usaha dan dalam menemukan bidang yang memerlukan
pemeriksan lebih intensif.
Sebelum seorang pemeriksa melaksanakan pemeriksaan secara rinci dan mendalam terhadap obyek pemeriksaan, ia harus memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai satuan usaha yang diperiksa. Untuk itu, analisis rasio dan analisis terhadap laporan keuangan perbandingan (comparative financial statements) merupakan cara yang umumnya ditempuh oleh pemeriksa untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dan secara garis besar mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha entitas (satuan usaha).
Pengujian pengendalian merupakan prosedur audit yang dirancang untuk
memverifikasi efektivitas pengendalian intern entitas. Pengujian pengendalian
terutama ditujukan untuk men-dapatkan informasi mengenai:
Pengujian pengendalian dilakukan untuk mendapatkan bukti tentang keefektifan rancangan dan pengoperasian kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern (SPI). Pengujian pengendalian juga mencakup pengajuan pertanyaan kepada para kartawan/pegawai tentang prosedur pengendalian yang mereka kerjakan dan pemeriksa melakukan ulang prosedur-prosedur tersebut. Pengujian pengendalian ini bukan merupakan keharusan dalam suatu pemeriksaan atas laporan keuangan, namun demikian hal ini sangat sering dilakukan para pemeriksa dalam kebanyakan pemeriksaan.
Pengujian substantif merupakan prosedur audit yang dirancang untuk menemukan kemung-kinan kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan. Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan kemungkinan terjadi karena:
Indonesia.
4. Ketidaktepatan pisah batas (cut off) pencatatan transaksi.
5. Perhitungan (pengalian, pembagian, penambahan, dan pengurangan).
6. Pekerjaan penyalinan, penggolongan, dan peringkasan informasi.
7. Pencantuman pengungkapan (disclosure) unsur tertentu dalam laporan keuangan.
Pengujian substantif terdiri dari: (1) prosedur analitis, (2) pengujian detil transaksi, dan (3) pengujian detil saldo-saldo. Penggolongan prosedur pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mendapatkan bukti tentang kewajaran asersi-asersi manajemen dalam laporan keuangan.
menyangkut pemeriksaan atas pendukung untuk setiap pendebitan dan pengkreditan yang di-posting ke dalam suatu akun/rekening. Pengujian detil saldo-saldo menyangkut pemeriksaan atas pendukung saldo akhir suatu akun/rekening secara langsung.
Pada umumnya, pemeriksa melakukan pengujian detil transaksi untuk memastikan dua hal: (1) semua kebijakan dan prosedur pengendalian yang bisa diterapkan telah diikuti dalam memproses transaksi (pengujian pengendalian), dan (2) transaksi- transaksi telah dijurnal dan di-posting ke buku besar dengan benar. Apabila kedua tujuan tersebut dilakukan dengan pengujian yang sama atau bersamaan (simultan), maka hal tersebut disebut pengujian bertujuan ganda (dual-purpose test).
Standar pemeriksaan merupakan patokan atau pedoman bagi para pemeriksa (auditor) dalam melakukan tugas pemeriksaannya. SAP yang dihasilkan pada tahun 1995 dirasa tidak dapat memenuhi tuntutan dinamika masa kini. Terlebih lagi, sejak adanya reformasi konstitusi di bidang pemeriksaan, maka untuk memenuhi amanat Pasal 5 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Pasal 9 ayat (1) huruf e Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), BPK harus menyusun standar pemeriksaan yang dapat menampung hal tersebut. Oleh karena itu, pada awal tahun 2007, BPK telah berhasil menyusun standar pemeriksaan yang diberi nama Standar Pemeriksaan Keuangan Negara atau disingkat dengan SPKN.
SPKN ditetapkan dengan peraturan BPK Nomor 01 Tahun 2007 sebagaimana amanat UU yang ada. Dengan denikian, sejak ditetapkannya Peraturan BPK tersebut dan dimuatnya dalam Lmbaran Negara, maka SPKN akan mengikat BPK maupun pihak lain yang melaksanakan pemeriksaan keuangan negara untuk dan atas nama BPK.
Menurut Pasal 1 Peraturan BPK RI Nomor 01 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), SPKN adalah patokan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. SPKN dinyatakan dalam bentuk Pernyataan Standar Pemeriksaan yang selanjutnya disingkat PSP.
SPKN yang dimaksud dalam Peraturan BPK No.1/2007 terdiri atas Pendahuluan Standar Pemeriksaan dan 7 (tujuh) PSP. Pendahuluan Standar Pemeriksaan ditetapkan dalam Lampiran I. Sedangkan tujuh PSP tersebut adalah sebagai berikut.
SPKN berlaku untuk semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap entitas, program, kegiatan, serta fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
SPKN berlaku bagi: (1) Badan Pemeriksa Keuangan, dan (2) Akuntan Publik atau pihak lainnya yang melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara, untuk dan atas nama BPK. Aparat Pengawas Internal Pemerintah, satuan pengawas intern maupun pihak lainnya dapat menggunakan SPKN sebagai acuan dalam menyusun standar pengawasan sesuai dengan kedudukan, tugas, dan fungsinya.
Leave a Comment