KUMPULAN CERPEN PILIHAN
Bukan sekali dua kali Himawan mendengar cerita tentang kelakuan orangngidam yang berubah nyleneh. Menjadi manja, gampang cemberut, bahkanserba ingin menang sendiri. Meski pada umumnya orang ngidam cuma inginmakan yang serba pedas atau masam. Kebiasaan orang ngidam seringkalimenjadi aneh, kolokan, bahkan tidak jarang membuat suaminya kesal.Ketika Erna -- adik Himawan -- ngidam bukan hanya sekali menyuruhsuaminya membelikan bakso di tengah malam. Widodo pun mengabulkanpermintaan Erna. Ia terpaksa mencari makanan yang diminta 'jabang bayi'.Namun, alangkah kesalnya lelaki itu setelah sampai di rumah. Erna hanyamencoba sesendok kuahnya. Dan, makanan yang diperoleh dengan susah payahitu tidak disentuh sama sekali. Celakanya jika permintaan Erna tidak dituruti,ia akan marah-marah kepada suaminya. Meskipun demikian, Widodo tak beranimenolak permintaan 'sang jabang bayi'.Memang tidak sedikit orang ngidam yang tidak berubah kelakuannya. Tidak adaperubahan perilaku atau kebiasaan, kecuali menjadi sering muntah karenaperutnya terasa mual. Andaikata tak pernah memikirkan masa depan anak, barangkali, Himawansudah menceraikan istrinya. Ia sudah merasakan sendiri betapa tidak enaknyamenjadi korban perceraian orangtua. Lantaran ia dan dua orang adiknyamemang produk rumahtangga yang berantakan alias broken home.Ketika masih bekerja, Marni acapkali berkata kepada Rita -- tetangga depanrumahnya -- kalau dirinya tidak bekerja, kebutuhan rumah tangganya pastitakkan pernah bisa tercukupi."Berapa sih gaji seorang sopir seperti suami saya?" kata Marni, tatkala merekabelum di-pehaka, mengeluh kepada Rita usai menceritakan penghasilannya."Sama saja, Mbak," kata Rita jika tetangga depan rumahnya sudah berkatademikian, "Suami saya juga sopir." "Kalau suami Dik Rita lain. Biar sopir tapisopir kedutaan besar. Pasti gajinya besar. Karena itu, kamu tidak perlu bekerjalagi seperti saya." Apabila Marni sudah mulai membicarakan penghasilan suaminya, Ritaberusaha mengalihkan topik pembicaraan. Waktu itu mereka -- baik Himawanmaupun Marni -- masih aktif bekerja. Mereka masih punya penghasilan.Namun, setelah di-pehaka Marni tak berani lagi membicarakan gajinya. Ia takpernah membanggakan penghasilannya.Walaupun demikian, toh ternyata Marni masih merasa lebih hebat dari paratetangganya yang tidak bekerja. Ia memang sering melecehkan wanita yanghanya menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya tak ada tetangga yang maudekat dengan Marni, kecuali Rita.
Add a Comment