menjual kue-kuenya lebih dari Rp 500 per buah. Dengan uang Rp 5 ribu seharusnya Asyurabisa mengambil 10 buah kue. Namun, hal itu tak pernah dilakukan Asyura. Dia selalumengambil kue-kue secukupnya dan membiarkan uang kembaliannya untuk Mak Saniah.Sesekali Asyura juga memberikan Mak Saniah lembaran uang sepuluh ribuan tapi mengambil jumlah kue yang sama serta tak mengambil uang kembaliannya.
”Terima kasih banyak ya, Neng. Semoga rezeki Neng banyak, berkah,
anak-anak pada sehat,
disayang laki, setia,” kata Mak Saniah selalu sembari menyelipkan uang di balik lipatan
kainnya (Mak Saniah semula biasa meletakkan uangnya di balik alas kue dari koran bekas didasar pancinya. Namun, kini tak pernah lagi dilakukannya karena dia pernah kehilangan uangyang sudah dia kumpulkan sedikit demi sedikit dari para pembeli).
”Lucu juga kalau nggak ada angin nggak ada hujan abang tiba
-tiba kepingin kue gemblong
Mak Saniah,” kata istrinya. Masdudin melirik ke depan rumah, pada t
empias gerimis yang
membasahi genting rumah tetangganya. ”Abang ngidam? Ngidam istri kedua abang?”
Masdudin memalingkan wajah dari kerlingan istrinya. Bukan dia ingin menyembunyikansesuatu, tapi untuk membuang rasa kesal yang selalu dilakukannya jika Asyura mulai agak merajuk. Belakangan, Asyura memang kerap melontarkan sindiran serupa itu. Mungkin jugakarena usia yang makin beranjak dan garis-garis ketuaan yang kian ramai. Padahal Asyurapun tahu, Masdudin takkan mungkin punya istri lebih dari satu. Dia tak cukup punya modal.Tampang pas-pasan. Kantong pas-pasan. Keberanian pun pas-pasan.Tapi, pertanyaan itu pun wajar dilontarkan Asyura. Sejak pertama kali Mak Saniahmenjajakan kue gemblong ke rumahnya hingga kini, gemblong Mak Saniah ya begitu-begitusaja. Bentuknya sama gepeng seperti kue-kue gemblong lainnya, agak besar dan agak lembek. Kue gemblong Mak Saniah juga tak sekering, serenyah, dan seenak gemblong yangpernah dibeli Masdudin ketika dia dan keluarganya jalan-jalan ke Taman Bunga di kawasanPuncak tahun lalu. Jadi, terasa ada yang aneh jika kini dia merindukan kue gemblong Mak Saniah.
”Bang Masdud,” Asyura mengagetkan suaminya. ”Ada apa?”
Masdudin jadi sedikit serba salah.
”Aku cuma…” Masdudin menyahut sambil coba mencari jawaban yang pas. ”Aku
cumamerasa aneh saja. Belakangan kan Mak Saniah tak pernah datang lagi. Dia kan sudah sangattua. Jangan-
jangan….”
”Sudah meninggal maksud Abang?”
Masdudin menyambar permen di atas meja. Sisa jajanan anaknya. Ada sedikit rasa lega didadanya begitu rasa manis dan hangat merayapi rongga mulutnya.
Leave a Comment
gerobak