• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 1
    CommentGo Back
Download
 
Kue Gemblong Mak Saniah
Masdudin jengkel melihat istrinya terbahak sampaibadannya berguncang-guncang seperti bemo yang tengahmenunggu
 penumpang. ”Apanya yang lucu Asyura?”
 Pertanyaan itu tak serta-merta membuat Asyura berhenti terkekeh.Khawatir makin jengkel dan penyakit bengek yang membuatnapasnya megap-megap kumat, Masdudin melangkah keluar meninggalkan istrinya danmembiarkan perempuan yang rambutnya mulai beruban itu menelan tawa dan bahaknyasendiri. Dia baru mendengar teriakan sang istri ketika badan pendek hitamnya hampir hilangdi balik rumah tetangga sebelah.
”Bang!”
 Meski masih menyimpan rasa kesal, Masdudin menghentikan langkah.
”Sini!”
 Gerimis halus masih turun dari langit. Masdudin berbalik dan mengikuti langkah istrinya keruang tamu.
”Mengapa abang tiba
-
tiba kepingin makan kue gemblong Mak Saniah?” Asyura bertanya
ketika Masdudin tengah mengatur napas.Masdudin berpikir untuk mencari jawaban yang pas. Dia sendiri tak tahu mengapa pagi itu,ketika gerimis jatuh dari langit, dia ingat Mak Saniah yang biasanya menjajakan kuegemblong ke rumahnya. Tidak setiap hari juga. Dalam sepekan, dua sampai tiga kali Mak Saniah datang ke rumahnya.
”Syuraaaaa… Syuraaaaaaa… gemblong Neeeeeng!” Mak Saniah biasa memanggil istrinya.
Lalu tubuh rentanya duduk di teras rumah setelah meletakkan sebuah panci besar berisi jajanan berupa kue gemblong atau kue unti.Asyura tak pernah membiarkan Mak Saniah pulang dengan tangan hampa. Begitu mendengarsuara Mak Saniah, dia segera mengambil piring dan menjumpai Mak Saniah di luar.Selembar uang Rp 5 ribu biasa diberikan Asyura kepada Mak Saniah dan mengambil kuegemblong empat hingga lima buah serta unti dua sampai tiga buah. Mak Saniah tak pernah
 
menjual kue-kuenya lebih dari Rp 500 per buah. Dengan uang Rp 5 ribu seharusnya Asyurabisa mengambil 10 buah kue. Namun, hal itu tak pernah dilakukan Asyura. Dia selalumengambil kue-kue secukupnya dan membiarkan uang kembaliannya untuk Mak Saniah.Sesekali Asyura juga memberikan Mak Saniah lembaran uang sepuluh ribuan tapi mengambil jumlah kue yang sama serta tak mengambil uang kembaliannya.
”Terima kasih banyak ya, Neng. Semoga rezeki Neng banyak, berkah,
anak-anak pada sehat,
disayang laki, setia,” kata Mak Saniah selalu sembari menyelipkan uang di balik lipatan
kainnya (Mak Saniah semula biasa meletakkan uangnya di balik alas kue dari koran bekas didasar pancinya. Namun, kini tak pernah lagi dilakukannya karena dia pernah kehilangan uangyang sudah dia kumpulkan sedikit demi sedikit dari para pembeli).
”Lucu juga kalau nggak ada angin nggak ada hujan abang tiba
-tiba kepingin kue gemblong
Mak Saniah,” kata istrinya. Masdudin melirik ke depan rumah, pada t
empias gerimis yang
membasahi genting rumah tetangganya. ”Abang ngidam? Ngidam istri kedua abang?”
 Masdudin memalingkan wajah dari kerlingan istrinya. Bukan dia ingin menyembunyikansesuatu, tapi untuk membuang rasa kesal yang selalu dilakukannya jika Asyura mulai agak merajuk. Belakangan, Asyura memang kerap melontarkan sindiran serupa itu. Mungkin jugakarena usia yang makin beranjak dan garis-garis ketuaan yang kian ramai. Padahal Asyurapun tahu, Masdudin takkan mungkin punya istri lebih dari satu. Dia tak cukup punya modal.Tampang pas-pasan. Kantong pas-pasan. Keberanian pun pas-pasan.Tapi, pertanyaan itu pun wajar dilontarkan Asyura. Sejak pertama kali Mak Saniahmenjajakan kue gemblong ke rumahnya hingga kini, gemblong Mak Saniah ya begitu-begitusaja. Bentuknya sama gepeng seperti kue-kue gemblong lainnya, agak besar dan agak lembek. Kue gemblong Mak Saniah juga tak sekering, serenyah, dan seenak gemblong yangpernah dibeli Masdudin ketika dia dan keluarganya jalan-jalan ke Taman Bunga di kawasanPuncak tahun lalu. Jadi, terasa ada yang aneh jika kini dia merindukan kue gemblong Mak Saniah.
”Bang Masdud,” Asyura mengagetkan suaminya. ”Ada apa?”
 Masdudin jadi sedikit serba salah.
”Aku cuma…” Masdudin menyahut sambil coba mencari jawaban yang pas. ”Aku
cumamerasa aneh saja. Belakangan kan Mak Saniah tak pernah datang lagi. Dia kan sudah sangattua. Jangan-
 jangan….”
 
”Sudah meninggal maksud Abang?”
 Masdudin menyambar permen di atas meja. Sisa jajanan anaknya. Ada sedikit rasa lega didadanya begitu rasa manis dan hangat merayapi rongga mulutnya.
 
Usia Mak Saniah memang sudah sangat tua bahkan ketika beberapa tahun lalu dia mulaimenyambangi rumah Masdudin. Seluruh tubuh putih wanita tinggi besar itu sudah dipenuhikeriput. Langkahnya tertatih-tatih. Apalagi dengan beban panci berdiameter hampir 50 cmberisi kue gemblong dan unti yang dijajakannya. Langkahnya makin terpiuh-piuh. Itulahyang membuat Masdudin atau istrinya tak pernah bisa membiarkan Mak Saniah pergi darirumahnya tanpa menjual lima hingga enam kue jajanannya. Padahal, kue-kue itu pun hanyadimakan satu-dua buah. Anak-anaknya lebih suka makan panganan lain. Kue-kue gemblongMak Saniah dibeli hanya agar hati Mak Saniah senang.
”Belakangan Mak Saniah memang makin jarang datang. Aku dengar dia suda
h sakit-
sakitan,”
kata Asyura.
”Tapi ya memang kasihan juga orang setua dia masih juga berjualan,” Masdudin menimpali.
 Asyura lalu bercerita tentang Mak Saniah lebih panjang. Cerita yang sebelumnya tak pernahdia dengar. Bahwa Mak Saniah adalah wanita dengan tujuh anak. Bahwa anak-anaknya pun
sudah pada ”jadi orang”. Bahwa Mak Saniah memilih tetap mendiami rumah sederhananya di
kampung yang bertetangga dengan kampung tempat di mana Masdudin dan keluarganyatinggal. Bahwa Mak Saniah, setelah suaminya wafat belasan tahun lalu, memilih menghidupidirinya dengan berjualan kue gemblong buatannya sendiri. Dengan begitulah dia bertahanhidup tanpa harus merepotkan anak-anak dan cucu-cucunya.
”Jadi, anak 
-anak Mak Saniah sebetulnya sudah melarang dia berjualan. Tapi Mak Saniah
tetap membandel,” kata Asyura menutup cerita panjang lebarnya.
 Masdudin juga tak pernah meminta istrinya untuk mencari tahu bagaimana kabar Mak Saniahsaat ini, tapi pada hari Minggu berikutnya keduanya sudah berada di depan rumah Mak Saniah setelah berusaha mencari dengan bertanya ke sana kemari. Dari bertanya itu pulakeduanya tahu bahwa Mak Saniah kini memang sudah tak lagi bisa memaksakan diri untuk berjualan. Beragam penyakit berkumpul dan menyatu dalam tubuh rentanya. Mulai daripikun, rematik, pengapuran, darah tinggi, sesak napas, dan mata yang tak lagi bisa melihatdengan jelas. Cuma kuping Mak Saniah yang masih berfungsi dengan lumayan baik.Dari pembaringan Mak Saniah menyambut kedatangan Masdudin dan Asyura setelah seorangcucunya, seorang gadis berusia 20-an tahun, mengantarkan mereka masuk ke kamar Mak Saniah.Begitu masuk ke ruangan itu Masdudin dan Asyura membaui wewangian asing tapimenyegarkan. Kamar itu, meskipun tidak terbilang bagus, tampak sangat terawat. Tak banyak benda-benda berserakan. Tempat Mak Saniah berbaring juga sangat bersih.
”Ya Allah mimpi apa ya Mak semalam? Elu tahu rumah Mak, Neng?” sambut Mak Saniah.
Masdudin melihat ada genangan air di kedua sudut mata Mak Saniah.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...