Vol. 4 No. 2 (Juli 2009)
J
URNAL
G
ENERIC 1ISSN 1907-4093 / © 2009
J
URNAL
G
ENERIC
Abstrak—
Sistem penerima konvensional pada sistemkomunikasi DS-CDMA, terjadi degradasi kinerja akibatperbedaan daya dengan sinyal penginterferensi yang tinggi (Near-to-Far) dan nilai korelasi silang kode user yang berbeda tidak nol,yang mengakibatkan Multiple Access Interference (MAI).Jaringan Saraf Tiruan Transient Chaos (TCNN), sangat potensialuntuk mengatasi permasalahan MAI dan Near-to-Far padapenerima konvensional DS-CDMA.
Sistem penerima JaringanSaraf Tiruan Transient Chaos (TCNN) dapat diturunkan denganmemanfaatkan fungsi Likelihood. Dengan fungsi Likelihoodtersebut akan diperoleh fungsi energi atau fungsi cost dari sistempenerima multiuser DS-CDMA. Fungsi energi sistem penerimamultiuser DS-CDMA diselesaikan dengan algoritma TCNN.Pengujian dilakukan dengan simulasi komputer untukmembandingkan kinerja penerima TCNN dengan konvensional.Hasil simulasi, dapat dilihat bahwa sistem penerima JaringanSaraf Tiruan Transient Chaos dapat memberikan perbaikankinerja dibandingkan sistem penerima konvensional (MathcedFilter). Perbaikan kinerja penerima TCNN sebesar 85.092 % padakondisi
dB N E
o
6
1
=
/
, Near-to-Far
dB E E
6
12
=
/
, tetapimemerlukan tambahan waktu 0.4845 sekon-per-iterasi algoritmaTCNN.
Kata Kunci— Likelihood, Matched Filter, Multiple Access Interference, Near-to-Far
I.
P
ENDAHULUAN
ada sistem komunikasi seluler dengan metode akses jamak FDMA (
Frequency Division Multiple Access
), setiap userdialokasikan sendiri-sendiri sebuah pita frekuensi, jadidengan semakin meningkatnya jumlah user maka pita frekuensiyang tersedia akan semakin menyempit. Dengan semakinmenyempitnya pita frekuensi yang tersedia, maka kapasitasuser tidak ditingkatkan. Sistem akses jamak DS-CDMA(
Direct Sequence Code Division Multiple Access
) merupakansolusi untuk meningkatkan kapasitas user pada lebar pitafrekuensi yang sama dengan FDMA (Miyajima dan Hasegawa,1996)(Viterbi dan Lupas, 1999) (Caffery, 2002).Sistem akses jamak DS-CDMA adalah penyebaran spektrumdaya setiap user ke dalam kawasan pita frekuensi yang sama,
*
Wiharto adalah staf pengajar dan peneliti di Jurusan Teknik Informatika,Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas MaretSurakarta, Jawa Tengah (e-mail: wi_harto@uns.ac.id)
dengan menggunakan suatu kode yang berbeda untuk setiapusernya. Pada sistem penerima DS-CDMA bekerja denganmenggunakan suatu korelator (
Matched Filter
). Korelator akanmengkorelasikan kode-kode yang digunakan setiap usernya, jika akan mendeteksi data dari user-1, maka pada penerimaakan mengkorelasikan dengan kode yang sama dengan yangdigunakan user-1 pada saat di pancarkan. Korelasi dengan kodeyang sama terjadi autokorelasi, sedangkan kode yang berbedaterjadi kroskorelasi. Permasalahan timbul pada saatkroskorelasi tidak bernilai nol, maka akan terjadi apa yangdisebut
Multiple Access Interference
(MAI) (Souejeri danBilgekul, 2000) (Miyajima dan Hasegawa, 1996).Setiap user, dari suatu RBS (
Radio Base Station
)mempunyai jarak yang berbeda-beda, ada yang jauh dan adayang dekat. Jika user semakin dekat ke RBS maka daya yangditerima RBS semakin besar dibandingkan dengan yangsemakin menjauhnya user, hal ini terjadi karena efek redamanpropagasi yang merupakan fungsi jarak. Akibat efek tersebutdan akibat kroskorelasi tidak bernilai nol, maka timbul lagisuatu permasalahan permasalahan yang dikenal dengan
Near-to-Far
(jauh-dekat) (Souejeri dan Bilgekul, 2000), (Miyajimadan Hasegawa, 1996) dan (Miyajima, 1996).Solusi yang digunakan untuk mengatasi kedua permasalahanMAI dan
Near-to-Far
pada sistem DS-CDMA adalah denganmembangun sistem penerima optimum untuk mendeteksisinyal multiuser tersebut dengan menggunakan
Maximum Likelihood Sequence Estimation
(MLSE), tetapi sistemtersebut mempunyai kompleksitas yang meningkat secaraeksponensial dengan meningkatnya jumlah user. Permasalahankompleksitas pada sistem penerima optimum, mendoronguntuk membangun sistem penerima sub-optimum dengankompleksitas rendah. (Meng, 2000) (Soujeri dan Bilgekul,2000) (Kechriotis dan Manolakos, 1996) (Wong dan Ghosh,2000) (Wen dan Shixin, 1998) (Miyajima dan Hasegawa,1996) (Poor, 2000) (Miyajima, 1996) (Tan, 1999).Untuk membangun sistem penerima sub-optimum padasistem komunikasi DS-CDMA dapat memanfaatkan jaringansaraf tiruan Hopfield (Soujeri dan Bilgekul, 2000) (Kechriotisdan Manolakos, 1996) (Miyajima, 1996) (Miyajima danHasegawa, 1996), Modified Transient Chaos (Wen danShixin, 1998), Radial Base Fanction (RBF) (Tanaka, 2001),backpropagasi (Wong dan Ghosh, 2000), dan jaringan saraf tiruan probabilistik (Ibikunle dan Yixin, 1999). Maka dalamtulisan ini akan membahas sistem penerima sub-optimum
Menekan Tingkat Ber Pada Sistem Komunikasi
Direct-Sequence
CDMA(DS-CDMA)Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan
Transient Chaos
Wiharto
*
,
Jurusan Teknik Informatika, Universitas Sebelas Maret Surakarta
P
Leave a Comment