• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Anomali Cinta
Aku mengamati kedua sosok yang berdiri di depan pintu kelas kami. Kedua sosok ini mungkin telah banyak menginspirasiku tentang ajaibnya cinta. Bahkan aku bisa menyebutkisah mereka sebagai sebuah anomali cinta. Aku amat yakin, bilakeduanya juga mempunyai pikiran yang sama. Mereka bersama – sama menganut asas pengungkapan cinta. Bagi mereka, jika kauingin orang yang kau cintai itu bisa mengetahui isi hatimu, makaungkapkanlah isi hatimu itu. Dan aku merupakan saksi pengungkapan hati yang mereka lakukan.Tapi cinta tak hanya sebatas pengungkapan hatisaja, menurut sebagian orang. Tapi mungkin menurut gadis mungildan pria kerempeng yang pada saat ini bersama – sama berdirimematung di samping daun pintu itu, mereka memang harusmengiyakan bahwa cinta mereka yang tampak oleh penglihatankuhanya sebatas saling mengungkapkan saja.Tak pernah sekalipun kulihat mereka berdua berjalan bersama selayaknya beberapa pasangan muda – mudi lain
 
yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama – sama. Merekalebih sering menghabiskan waktu mereka dengan segala aktivitasmasing masing dan bahkan jika mereka terlihat sedang berkecampung dalam suatu kegiatan yang sama, mereka seolah bukan siapa – siapa. Bahkan terkadang seperti orang yang tak saling mengenal. Tak ada hal yang istimewa, mungkin, bagisebagian orang yang memperhatikan hubungan mereka berdua.Sehingga tak salah, jika banyak sekali yang berpikiran bahwakeduanya memang tak mempunyai hubungan yang spesial atauhubungan keduanya sudah kandas begitu saja.“Kalian itu kenapa nggak pernah jalan bareng sih?”Bberapa waktu lalu aku memberanikan diri untuk bertanya kepadagadis mungil yang merupakan temanku itu.“Lho, emangnya kenapa?”“Jadi sebenarnya kalian berdua itu pacaran nggak sih?”“Menurut kamu sendiri gimana?”“Setahu aku kalian masih pacaran …” aku sengaja
 
menggantungkan kalimatku itu. Berharap semoga gadis mungil itu bisa menyambungnya tapi dia hanya tersenyum simpul seperti biasanya,” … tapi kalian nggak keliatan kayak orang pacaran deh.”“Memangnya harus? Nggak diatur dalam undang – undang kan? Jadi mengapa harus dipusingin. Lagian menurut aku,ini unik kok.”Unik. Itulah kata – kata yang paling kuingat keluar dari mulut mungil temanku itu. Bagaimana mungkin dia berpikiranhubungan yang sedang mereka jalani ini unik. Aku yakin, dia pastitak pernah membaca buku seni berpacaran sama sekali.Di hari – hari berikutnya, aku telah mengecap kata“unik” itu baik – baik di dalam memoriku sebagai sebuah katayang pantas menggambarkan hubungan keduanya. Aku mulaimenyelidiki, apakah kata “unik” itu benar – benar cocok untuk menggambarkan hubungan mereka.Lantas ternyata hidup memang tak selalu muluslaksana sutera. Temanku tersandung di suatu Sabtu sore yangcerah. Sebuah kabar yang tak mengenakkan hatinya datang serupa
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...