duduk dekat pintu masuk sedang membaca koran. Dan yanglainnya lagi terlihat tertawa dengan ponsel yang ada di tangannya.Ada apa ini? Kukira pendapatku selama ini tidak seluruhnya benar.Tapi fakta yang baru saja kudapati ini benar-benar meyakinkan aku bahwa hal itu memang benar. Terlebih lagi, tempat yang kudatangiini adalah sebuah instansi pemerintah.
Public service
kantor ini buruk sekali, gumamku dalam hati.“Permisi, Pak,” sapaku kepada seorang laki-lakiyang sedang membaca Koran di dekat pintu masuk. Sekali akumenyapa bapak itu masih sibuk dengan korannya. Kemudian aku bersuara sekali lagi tapi ia tetap tidak bergeming. Dan ketigakalinya, barulah ada yang menanggapiku tapi itu bukan dia.Seorang dengan memakai pakaian dinas yang samamenyapaku. Meski tidak bisa dikatakan sebuah sapaan yangramah, tapi aku sangat senang sekali karena dia menyapaku.“Ada apa?” tanyanya padaku.“Begini, Pak. Saya ingin mencari lebih banyak informasi tentang sejarah dan kebudayaan kota kita ini.”“Kamu mana?”“Dari SMA 4, Pak.”“Oh, iya. Kalau begitu kamu ke bidang kebudayaanaja. Ruangnnya ada di sebelah.”“Terima kasih, Pak,” tuturku sambil tersenyum padanya.Dia hanya membalas dengan sebuah anggukan yangdibarengi dengan senyuman.
Leave a Comment