HADITS HUKUM WALI DALAM PERNIKAHAN
Ali Farhan (07530007)1.
ن ْ عَيبِأَ ةَدَ ر ْ بُ,ن ْ عَيبِأَ ىسَ ومُن ْ عَه ِ ْ بِأَ-يضهلاع-
َقَ:َقَُ وسُ َه ِ ل ّ اىل صَه ُ لاه ِ ْ ل َ عَ َ ل سَ َ" :َحَك َ ِّإِي ّ ِ و َ بِ”ٍ
Artinya
: “Dari Abu Burdah, dari Abu Musa dari ayahnya –radliyallâhu'anhuma-, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda,“Tidak (shah) pernikahan kecuali dengan wali.”
2.
ن ْ عََار َ ْ عِن ِ بْن ْ َ ُ ْاعً و ْ فُ ر ْ مَ:َحَك َ ِإِي ِ و َ بِن ِ ْ َ ِشَ َ
Dari ‘Imran bin al-Hushain secara marfu’ :
“Tidak (shah) pernikahan kecualidengan seorang wali dan dua orang saksi.”
3.
ن ْ عَ َ َ َ ئِعَي َ ضِ َه ُ لا َ ْ عَت ْ َقَ:َقَُ و ْ سُ َه ِ لاىل صَه ُ لاه ِ ْ ل َ عَ َ ل سَ َ" : َ أَ ةٍأَ ر َ مْات ْ َ ك َ َ ر ِ ْ غ َ بِِذْإِ َ ِ َ َ ُك َ ِ فَ، ٌ طِبَْ ِ فَ َ خَدَ َ بِ َ ل َ فَ ر ُ ْ َ اْ َ بِ َ َ سْان ْ مِ، َ جِ ر ْ فَِ ِ فَاْ ر ُ َ َ شْاُ َ ل ْ فَي ِ َن ْ مََي َ ِ َه ُ َ
" .
Artinya:
“Dan dari ‘Aisyah radliyallâhu 'anha, dia berkata, RasulullahShallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa saja wanita yang menikahtanpa idzin walinya, maka pernikahannya batil; jika dia (suami) sudahberhubungan badan dengannya, maka dia berhak mendapatkan mahar sebagai imbalan dari dihalalkannya farajnya; dan jika mereka berselisih,maka sultan (penguasa/hakim dan yang mewakilinya-red.,) adalah wali bagiorang yang tidak memiliki wali.”
1 Sofwer Maktabah Assamilah, di akses pada 21 Maret 20092 Sofwer Maktabah Assamilah3 Sofwer Maktabah Assamilah
Keterangan Hadits
Hadits pertama dari kajian ini diriwayatkan oleh ImamAhmad dan empat Imam hadits, pengarang kitab-kitab as-Sunan (an-Nasaiy, at-Turmudziy, Abu Daud dan Ibn Majah).Hadits tersebut dinilai shahîh oleh Ibn al-Madiniy dan at- Turmudziy serta Ibn Hibban yang menganggapnya memiliki‘illat (cacat), yaitu al-Irsal (terputusnya mata rantai jalurtransmisinya setelah seorang dari Tabi’in, seperti bilaseorang Tab’iy berkata, “Rasulullah bersabda, demikian…”).Hadits kedua dari kajian ini diriwayatkan juga olehImam Ahmad dari al-Hasan dari ‘Imran bin al-Hushain secaramarfu’ (sampai kepada Rasulullah).Menurut Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Bassam,kualitas hadits ini adalah Shahîh dan dikeluarkan oleh AbuDaud, at-Turmudziy, ath-Thahawiy, Ibn Hibban, ad-Daruquthniy, al-Hâkim, al-Baihaqiy dan selain mereka. Haditsini juga dinilai shahîh oleh Ibn al-Madiniy, Ahmad, Ibn Ma’in,at-Turmudziy, adz-Dzuhliy, Ibn Hibban dan al-Hâkim sertadisetujui oleh Imam adz-Dzahabiy. Ibn al-Mulaqqin di dalamkitab al-Khulâshah berkata, “Sesungguhnya Imam al-Bukhariytelah menilainya shahîh dan juga dijadikan argumentasi olehIbn Hazm.” Al-Hâkim berkata, “Riwayat mengenainya telahshahih berasal dari ketiga isteri Nabi Shallallâhu 'alaihi WaSallam; ‘Aisyah, Zainab dan Ummu Salamah.” Kemudian diamenyebutkan 30 orang shahabat yang semuanyameriwayatkannya.Syaikh al-Albaniy berkata, “Tidak dapat disangkal lagi,hadits tersebut berkualitas Shahîh sebab hadits yangdiriwayatkan oleh Abu Musa tersebut dinilai shahih olehbanyak ulama. Jika, digabungkan lagi dengan riwayatpendukung dari sisi matan (Tâbi’) dan sebagian riwayatpendukung dari sisi sanad (Syâhid) yang kualitasnya tidaklemah sekali, maka hati kita menjadi tenang untukmenerimanya.”
1
Leave a Comment