• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Nalar Irfani dalam KancahProblema di Indonesia
Makalah ini disusun guna memenuhi salah satutugas mata Kuliah:
Filsafat Ilmu
Dosen pengampu:
Bapak Fachruddin Faiz
Disusun Oleh:
Nurul kholish(07530004)
 JURUSAN TAFSIR HADITSFAKULTAS USHULUDDINUNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN
1
 
KALIJAGA YOGYAKARTA
2009
BAB IPENDAHULUAN
Sekedar mengutip kisah betapa pentingnya keilmuan Irfani ini penulismengutip di Masnawi yang bertema “Seorang Pemimpin”Ketika Sang Nabi memilih seorang Pemuda sebagai pemimpin (salah satukelompok), ada yang mengeluh: Dia masih muda sekali, Nabi. Sebaiknya memilihseorang Syaikh yang sudah berusia. Bukankah engkau pula yang pernah berkata bahwa seorang pemimpin haruslah orang tua. Orang yang sudah berusia.Sesungguhnya orang itu merasa iri. (Dia menyangsikan, meragukan kebijakanseorang Nabi). Dia lupa bahwa berhadapan dengan seorang Nabi, lebih bai berdiam diri saja, karena seorang Nabi melihat sesuatu yang tidak terlihat olehkita.Si Pengeluh masih belum sadar juga. Dan dalam ketidaksadarannya itu,dia lupa bahwa dirinya hanya bisa mengutip kata-kata. Sementara para Nabi bisamelihat apa yang ada dibalik kata-kata. Sampai, akhirnya Sang Nabi harusmenegur dia: “Cukuplah sudah…. Engkau hanya melihat wujud luar. Janganlahengkau meragukan kemampuan pemuda ini. “Ada yang berjanggut hitam, tetapi(berjiwa tua dan) bijak. Ada yang berjanggut putih tetapi berjiwa hitam. “Tuanyaseseorang haruslah dinilai dari pemahamannya, bukan dari warna putih rambutserta janggutnya.” Sering sekali kita menyalahartikan kata-kata para Nabi, paraAvatar, para Mesias, para Buddha. Kita memperhatikan yang tersurat. Lupamenyelami yang tersirat. Maka terjadilah kesalahpahaman. Dalam kisah ini,untung Sang Nabi masih ada. Sehingga dia bisa langsung meluruskan perkara ini.Bagaimana kalau Sang nabi sudah tidak ada? Sudah “pergi”? Yang meluruskan perkara-perkara semacam ini, siapa? Mau tak mau, kata-kata para Nabi dan paraAvatar dan para Buddha dan para mesias harus diartikan kembali. Kalau tidak, yakita harus puas dengan arti harfiah. Kemudian kita akan melihat pertentangandimana-mana. Kita menjadi Asosial. Tidak bisa bergaul dengan siapapun juga.2
 
Sangat eksklusif dan ber ”harga” mati.Kita tidak akan bisa menerima beda pendapat dan beda pandangan. Kitaakan mandeg. Berhenti mengalir bersama hidup. Lebih celaka lagi, kita akangelisah sendiri. Sedikit-sedikit tersinggung. Sebentar-sebentar marah.Berprasangka buruk dan berpraduga melulu. Sehingga yang rugi kita sendiri,karena sifat-sifat itu akan semakin menjauhkan diri kita dari Allah, dari kesadaranilahi. Kita akan sibuk mengurusi orang lain. Mengkritik orang lain. Mencarikesalahan orang lain. Lupa melakukan perjalanan batin kita. Mau berdoapun, yangteringat wajah orang yang tidak kita sukai. Mau melakukan perjalanan sucipun,yang terbayang wajah mereka yang kita benci, sehingga doa kita, ziarah kita-semuanya sia-sia.Tanpa disadari, kegigihan kita untuk mempertahankan “pandangan dan pendapat pribadi atau kelompok” itu sudah sama dengan menduakan Tuhan. Kitamenempatkan “pandangan” serta “pendapat” sejajar dengan Tuhan. Demikian,kita memberhalakan pandangan dan pendapat. Kemudian pandangan serta pendapat itu yang kita agung-agungkan. Kita lupa mengagungkan Tuhan. Kitalupa bahwa Dia berada di atas segala pandangan dan pendapat. Kita lupa bahwatujuan hidup bukanlah “mempertahankan” pandangan dan pendapat. Tetapi untuk “berjalan” menuju dia. Pandangan dan pendapat sekedar “sarana”, “bekal” untuk  perjalanan. Ada yang tidak tahan dingin dan membekali diri dengan selimut. Adayang tahan dingin dan tidak membekali diri dengan selimut. Masa setiap orangdiharuskan membawa selimut. Ya, tidak bisa…Dalam bahasa Rumi:Banyak sekali ahli hukum yang menjatuhkan hukuman berdasarkan apayang terlihat (oleh mata kasat). Kemudian, ada pula yang membebaskan seorangterdakwa hanya karena terdakwa itu mengaku dirinya beriman. Berapa banyak nyawa yang sudah melayang, karena kemunafikan seperti ini!(Oleh karena itu), jadilah “tua” dalam hal kebijakan dan keagamaan, sehinggaengkau bisa menemukan inti kebenaran.
 Kulit juga benar. Tidak bisa disebut “tidak benar”, tetapi, hendaknya kitatidak berhenti di permukaan. Tidak berhenti pada kesadaran kulit. Seperti buah
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...