BAB IPENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama Islam datang untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan yang menyelimutinya. Karena itu,banyak pengamat Islam yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad datang membawa sebuah agamayang sangat revolusioner, karena mampu mengatasi berbagai bentuk kebekuan dan kejumudan yangterjadi dalam masyarakat itu. Yakni membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kejahiliyaan danbelenggu-belenggu kesukuan . Seperti banyak disebutkan dalam referensi-referensi sejarah, bangsaArab sebelum kedatangan Islam merupakan bangsa yang berada pada pola tribalisme. Karena polahidup yang semacam itu, maka harga diri, kehormatan, dan martabat seseorang tidak ditentukan olehkesalehan atau ketakwaan, melainkan oleh tingkat keningratan suatu suku(
).Lebih jauh, masyarakat Arab pra Islam ternyata tidak memberikan tempat yang cukup terhormat bagikaum wanita. Akibatnya, wanita tidak dianggap sebagai seseorang, melainkan dianggap sebagaisesuatu. Bahkan lebih dari itu, bangsa Arab Jahiliyah juga menganggap wanita sebagai binatang ternak,yang dapat diwariskan oleh seorang laki-laki yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Islamdatang untuk membebaskan hal-hal itu, sehingga hak-hak wanita dalam Islam dalam Islam benar-benar dihormati. Persoalannya, dalam proses penegakan kehormatan dan martabat wanita itu, ternyata banyaksekali halangan-halangan yang dihadapi oleh umat Islam. pada masa Rasulullah, ketika muncul berbagaipeperangan untuk menegakkan agama Islam, muncul satu persoalan. Persoalan itu adalah lemahnyasemangat tentara Islam untuk berperang, karena hasrat biologis mereka tak tersalurkan(
).Menanggapi persoalan ini, maka Nabi Muhammad kemudian membuat suatu keputusan yang sangatrevolusioner, yakni memperbolehkan tentara-tentara tersebut untuk melakukan kawin kontrak yang saatini disebut sebagai nikah mut’ah. Disinilah kemudian dilema itu terjadi. Pada saat terjadinya kelesuanpara tentara Islam itu, nikah mut’ah sebagai suatu solusi barangkali sangat efektif. Tetapi ternyataimplikasi jangka panjang yang ditimbulkannya juga sangat tidak kecil. Sebagian ulama mengatakanbahwa diperbolehkannya nikah mut’ah hanya pada saat peperangan masa Nabi Muhammad, dan hal itukemudian tidak diperbolehkan lagi untuk saat-saat berikutnya. Sementara pendapat yang lainmenyatakan bahwa sampai dengan hari ini pun nikah mut’ah itu tetap boleh dijalankan(
).Pada awal islam nikah mut’ah memang dihalalkan, sebagaimana yang tercantum dalam banyak hadits
Leave a Comment