女の男の子
wrote by
di LA
@ dila-no-nikki.livejournal.com
(SAFE, BOA-INDO, THE GRACE-INDO, TVXQ-INDO, SUJUNESIA, WONDERLAND INDO, etc)
CHAPTER 3
“Jaejung-kun. Nanti aku ada latihan di klub dance. Kamu beli bahan buat makan malam ya!”suruh Boa saat di sekolah.“Dame…nggak bisa, aku ada urusan di klub tennis,” jawabku.“Tennis? Chotto,sebenarnya kamu ikut klub apa sih? Katanya kamu tidak ikut klub manapun.Kemarin aku lihat kamu ikut bermain di klub sepak bola, beberapa hari yang lalu memanah, inilagi, tennis…” tanya Boa bingung. Aku diam saja.“Boa-chan shitenai?Kamu nggak tau ya? Salah satu alasan kenapa Jaejung terkenal karena dianggak join klub manapun, tapi dia sering membantu di semua klub. Mulai dari klub keseniansampai olahraga,” kata Yuuchun menjelaskan. Boa mengangguk tanda mengerti. Lalu merekangobrol dan aku tidak berusaha mengikuti arah pembicaraan mereka.Sudah tiga minggu Boa tinggal bersamaku. Aku masih benci perempuan, tapi entah mengapa dimataku Boa tidak seperti perempuan yang aku lihat sehari-hari. Mungkin memang adabagusnya aku lebih memahami mereka. Setelah tiga minggu ini aku sudah mulai terbiasa Boaada di rumahku. Yah, mungkin itu karena aku memang jarang keluar kamar jadi tidak adapengaruhnya. Sudahlah, jangan pikirkan hal itu.Pulang sekolah aku ganti pakaian olahraga lalu berjalan ke lapangan tennis.“Hora, Jaejung. Osoi na!Lama sekali sih!” kata Yunho, kapten klub tennis.“Sumimasen, Yunho-BUCHOU,” candaku sambil memilih raket tennis milik klub.(A/N :
sumimasen=maaf, tapi pengucapannya sangat sopan dan hanya untuk orang yang lebih tuaatau lebih kita hormati. Buchou=kapten. Jaejung bilang sumimasen karena dia sebal diperintah-perintah Yunho, padahal dia bukan anggota klub tennis^^) “Maa ii.Sudahlah. Kita hari ini bertanding dengan Adachi Gakuen.Yoroshiku ne!Mohon
bantuannya ya!” kata Yunho sambil menepuk punggungku.Pertandingan persahabatan dengan gakuen lain diadakan dua minggu sekali dan karena Yunhotidak mau kalah, dia selalu menyuruhku main. Sudah ribuan kali dia memintaku untuk masukklub, dan ribuan kali pula aku menolak. Aku memang suka ikut kegiatan, tapi aku tidak sukaterikat.Lawan kali ini lebih mudah, dan aku menang pada menit ke 13. Setelah semua menyorakiku,aku segera mengemasi barang-barangku. Ketika sampai di depan gerbang, aku baru ingat kalauaku tadi pagi buru-buru dan lupa membawa kunci. Aku kembali ke sekolah dan bertanya padaseseorang dimana ruang klub dance. Setelah sampai, aku hanya berdiri di depan pintunya yangterbuka lebar.“SUGOOOIII!!!KEREEEN!!!” aku hampir melonjak kaget mendengar sorakan itu. Nani sore?Apaan tuh? Aku mengintip ke dalam. Hooo, ternyata Boa sedang memperagakan gerakannyadan yang lain menyorakinya. Ah, iya, kunci.“Senpai, ada yang bisa kami bantu?” beberapa murid kelas satu mendekatiku.“Ettooo… Boa wa isogashii?Boa masih sibuk?” tanyaku.“Nani?Ada apa?” tanya Boa sambil mengelap keringatnya dengan handuk.“Oi, hebi… aku pinjam kunci apartemen. Punyaku ketinggalan,” kataku. Tanpa banyak bicara,Boa mengambil kunci di tasnya dan memberikannya padaku.“Sankyuu.Makasih.Ah, soieba…ngomong-ngomong kamu masih lama?” tanyaku.
“Yah, mungkin sampai malam. Kamu beli mie instan aja ya.Ja! Ato de!Sampai nanti!” Boaberbalik dan kembali ke klubnya.Huh, Boa sudah mulai sibuk dengan klubnya, dan pastinya aku akan sering makan mie instan.Tapi kalau dipikir-pikir, dulu sebelum Boa datang aku bahkan sering tidak makan. Tanpa sadaraku tersenyum sendiri. Kehadiran Boa memang mengubah segalanya.Setelah makan mie instan, aku duduk di ruang tengah dan menonton TV.
Add a Comment