Sambil menanti Anda mengambil kesimpulan, saya ingin mengajak Anda untukmelihat gambaran yang sangat berbeda tentang orientasi perkawinan. Jika buku-bukupsi-kologi atau artikel-artikel perkawinan selalu berbicara ten-tang perkawinan yangbahagia
(happy marriage
atau
successful marriage)
, maka kita mendapati cerita yangberbeda da-lam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa'i, Ibnu Majah,Ad-Darimi, Ibnu Sinni dan yang lainnya dengan kedudukan
hasan
.Selengkapnya, mari kita simak kisah pernikahan Uqail bin Abu Thalib denganseorang wanita dari kalangan Bani Jasym. Seperti lazimnya upacara pernikahan, tamu-tamu berdatangan. Dan seperti lazimnya upacara pernikahan di masa sekarang, paratamu ketika itu memberi ucapan sela-mat sekaligus sebagai do'a."Semoga bahagia dan banyak anak," kata para tamu kepada pengantin laki-laki.Menerima ucapan selamat seperti itu, Uqail segera ter-ingat RasulullahMuhammad
shallallahu 'alaihi wasallam
. Ke-mudian ia berkata, "Jangan kalianmengatakan demikian, karena sesungguhnya Rasulullah
Saw.
telah melarang haltersebut.""Kalau demikian," kata mereka, "apakah yang harus ka-mi katakan, wahai AbuZaid?""Katakanlah oleh kalian," jawab Uqail, "Semoga Allah mem
barakahi
Andasekalian dan melimpahkan
barakah
kepa-da Anda. Demikian yang diperintahkankepada kita."Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa yang paling penting untuk dicaridalam pernikahan bukan kebahagiaan. Yang paling penting justru
barakah
, konsep yang sangat se-ring terdengar tetapi tidak banyak diketahui artinya. Men-do'akanpengantin baru agar dapat mencapai pernikahan yang bahagia dan sekaligus banyakanak dilarang (makruh). Sebaliknya, sunnah bagi kita mendo'akan saudara kita yangmenikah dengan do'a
barakah
. Mudah-mudahan pernikahan itu
barakah
bagipengantinnya dan
barakah
atas pengantin-nya, yakni
barakah
pernikahan tersebut juga terasakan oleh orang-orang di sekelilingnya.Kalau begitu, apakah "bahagia dan banyak anak" meru-pakan kata yang tabudalam pernikahan yang Islami? Bukan begitu. Melalui lisan suci Rasulullah
Saw.
,Islam justru me-ngingatkan kita agar tidak melupakan kriteria memilih istri agardapat memperoleh kesenangan dan banyak anak."Kawinilah wanita yang subur rahimnya
(waluud)
dan pencinta," sabdaRasulullah
Saw.
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, An-Nasa'i dan Al-Hakim. "Sebab aku kelak berbanyak-banyak kepada umat-umat lain de-ngan kalian."Rasulullah
Saw.
juga pernah menganjurkan, "Pilihlah yang masih gadis karena ialebih manis mulutnya, lebih da-lam kasih-sayangnya, lebih terbuka, dan lebihmenginginkan kemudahan."
Leave a Comment