• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
[Pendahuluan]
...........................................................
 
(Mukadimah)
ika ada surga di dunia, maka surga itu adalah pernikahan yang bahagia.Tetapi jika ada neraka di dunia, itu adalah rumah tangga yang penuhpertengkaran dan kecurigaan-kecurigaan yang menakutkan di antara suamidan istri.Di Timur dan di Barat, banyak usaha dilakukan orang untuk mencapaipernikahan yang bahagia. Kadangkala usa-ha itu mendekati kebaikan, kadangkala justru menjauhkan orang dari pernikahan yang sungguh-sungguh bahagia.
 Ma-rriagecontracts
adalah salah satu contoh usaha mencapai ke-bahagiaan pernikahan yang sayakira lebih banyak sedihnya daripada bahagianya.
 Marriage contracts
atau kontrakperka-winan adalah model yang lazim dipergunakan oleh pengan-tin-pengantin diAmerika untuk mengatur hubungan antara suami dan istri seperti yang dikehendakioleh kedua belah pihak. Masing-masing menandatangi surat perjanjian yang berisitentang kewajiban masing-masing pihak terhadap orang lain. Misalnya, siapa yangharus membuat secangkir kopi panas setiap pagi. Atau, apa yang harus dilakukan olehseorang suami kepada istrinya. Katakanlah, kapan suami berkewajiban mengatakan
"I love you".
 Kebahagiaan memang mahal. Buku-buku konseling atau psikologi perkawinanterus berusaha menemukan akar masalah ketidakbahagiaan perkawinan, meskipunternyata masih banyak yang menemui kegagalan. Tulisan James O. Prochaska & CarloC. DiClemente adalah salah satu yang bisa menerangkan dengan agak baik. Dariserangkaian pene-litian, Prochaska dan DiClemente menyimpulkan bahwa faktor yang sangat banyak mempengaruhi perkawinan itu bahagia atau tidak, perkawinan yang lumpuh dapat diper-baiki atau tidak, adalah orientasi pasangan suami istri ituterhadap anak. Suami istri yang memiliki orientasi kuat ter-hadap pendidikan anak,mempunyai keinginan-keinginan yang besar terhadap pendidikan anak-anaknya, akanlebih bahagia. Mereka ini --yang memiliki orientasi kuat terhadap pendidikan anak-anak mereka-- semakin bahagia manakala anaknya semakin banyak.Kalau begitu, apakah sebaiknya kita mengikuti James O. Prochaska agarpernikahan kita bahagia? Emm, kita be-lum bisa memutuskan. Sebab, mereka yangmempunyai orientasi kuat terhadap pendidikan anak, sering mengalami situasikesepian dan tidak berguna begitu anak-anak mereka telah mandiri dan satu per satumeninggalkan rumah untuk memasuki rumah mereka sendiri. Mereka dapat merasaba-hagia, sejauh anak-anak mereka yang telah mandiri menun-jukkan bahwa merekamasih membutuhkan peran orang-tuanya.Alhasil, bagaimana kesimpulannya? Silakan Anda am-bil kesimpulan sendirisetelah menyimak sedikit informasi yang telah saya sampaikan.
 J
 
Sambil menanti Anda mengambil kesimpulan, saya ingin mengajak Anda untukmelihat gambaran yang sangat berbeda tentang orientasi perkawinan. Jika buku-bukupsi-kologi atau artikel-artikel perkawinan selalu berbicara ten-tang perkawinan yangbahagia
(happy marriage
atau
successful marriage)
, maka kita mendapati cerita yangberbeda da-lam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa'i, Ibnu Majah,Ad-Darimi, Ibnu Sinni dan yang lainnya dengan kedudukan
hasan
.Selengkapnya, mari kita simak kisah pernikahan Uqail bin Abu Thalib denganseorang wanita dari kalangan Bani Jasym. Seperti lazimnya upacara pernikahan, tamu-tamu berdatangan. Dan seperti lazimnya upacara pernikahan di masa sekarang, paratamu ketika itu memberi ucapan sela-mat sekaligus sebagai do'a."Semoga bahagia dan banyak anak," kata para tamu kepada pengantin laki-laki.Menerima ucapan selamat seperti itu, Uqail segera ter-ingat RasulullahMuhammad
shallallahu 'alaihi wasallam
. Ke-mudian ia berkata, "Jangan kalianmengatakan demikian, karena sesungguhnya Rasulullah
Saw.
telah melarang haltersebut.""Kalau demikian," kata mereka, "apakah yang harus ka-mi katakan, wahai AbuZaid?""Katakanlah oleh kalian," jawab Uqail, "Semoga Allah mem
barakahi
Andasekalian dan melimpahkan
barakah
kepa-da Anda. Demikian yang diperintahkankepada kita."Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa yang paling penting untuk dicaridalam pernikahan bukan kebahagiaan. Yang paling penting justru
barakah
, konsep yang sangat se-ring terdengar tetapi tidak banyak diketahui artinya. Men-do'akanpengantin baru agar dapat mencapai pernikahan yang bahagia dan sekaligus banyakanak dilarang (makruh). Sebaliknya, sunnah bagi kita mendo'akan saudara kita yangmenikah dengan do'a
barakah
. Mudah-mudahan pernikahan itu
barakah
bagipengantinnya dan
barakah
atas pengantin-nya, yakni
barakah
pernikahan tersebut juga terasakan oleh orang-orang di sekelilingnya.Kalau begitu, apakah "bahagia dan banyak anak" meru-pakan kata yang tabudalam pernikahan yang Islami? Bukan begitu. Melalui lisan suci Rasulullah
Saw.
,Islam justru me-ngingatkan kita agar tidak melupakan kriteria memilih istri agardapat memperoleh kesenangan dan banyak anak."Kawinilah wanita yang subur rahimnya
(waluud)
dan pencinta," sabdaRasulullah
Saw.
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, An-Nasa'i dan Al-Hakim. "Sebab aku kelak berbanyak-banyak kepada umat-umat lain de-ngan kalian."Rasulullah
Saw.
juga pernah menganjurkan, "Pilihlah yang masih gadis karena ialebih manis mulutnya, lebih da-lam kasih-sayangnya, lebih terbuka, dan lebihmenginginkan kemudahan."
 
Yang dimaksud dengan "mulut manis" adalah ucapan-nya, kata Abdul HamidKisyik. Adapun yang dimaksud de-ngan "lebih dalam kasih-sayangnya" adalah banyakmelahir-kan anak, terbuka, dan polos.Ketika seorang sahabat memberi tahu Rasulullah bah-wa ia baru saja menikahdengan seorang janda, Rasulullah
Saw.
mengatakan,
"Mengapa tidak gadis yang iadapat berma-in denganmu, dan engkau dapat bermain dengannya, eng-kaumenggigitnya dan ia menggigitmu?"
(HR An-Nasa'i,
sha-hih)
.
 Sebagian sahabat Nabi memberi keterangan,
Tetaplah kalian mengawini gadis- gadis, sebab mereka lebih manis mu-lutnya, lebih rapat rahimnya, lebih hangat vaginanya, lebih sedikit tipuannya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit.
Keterangan sahabat ini senada dengan hadis Nabi yang mengingatkan:
Khath Arab"Kawinilah oleh kalian perawan, sebab perawan itu lebih segar mulutnya, lebihsubur rahimnya, lebih hangat vagina-nya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit."
 
(HR. Abu Na'im melalui Ibnu Umar r.a.. Periksa
Mukhtarul Ahaadits
).
 Yang dimaksud dengan lebih rapat rahimya
(antaqu ar-haman)
adalah banyakmelahirkan. Umar bin Khaththab menganjurkan, "Perbanyaklah anak karena kaliantidak tahu dari anak yang mana kalian mendapatkan rezeki."Anak yang
barakah
adalah rezeki akhirat sekaligus reze-ki dunia. Kita tidak tahuanak yang mana yang paling besar membawa rezeki, sehingga bisa mengangkat kitakepada kebahagiaan
 
akhirat.Masih ada hadis-hadis mengenai kesenangan-kesena-ngan yang bisa diperolehketika menikah dan perlu diper-timbangkan ketika akan melangkah ke sana. Allah
Swt.
juga telah berfirman,
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Diamenciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sen-diri, supaya kamu cenderung danmerasa tenteram kepa-danya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sa-yang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
(QS. Ar-Ruum [30]: 21).
 Tetapi ada yang unik. Kita dilarang mendo'akan orang yang menikah agarmendapat kebahagiaan dan banyak anak dalam pernikahannya. Kita diminta untukmendo'akan me-reka semoga Allah mem
barakah
i pengantin itu dan melim-pahkan
barakah
bagi mereka.
Yang pertama,
mendo'akan agar mereka menjadi suami istri yang penuh
barakah
, sehingga sekelilingnya ikut terkena
barakah
nya.
Yang kedua,
 mendo'a-kan agar mereka mendapatkan
barakah
.
Wallahu A'lam bisha-wab.
 Mengapa kita disuruh mendo'akan dengan do'a
barakah
dan tidak dengan do'abanyak anak, padahal ada beberapa anjuran untuk memperbanyak anak? Sekali lagi,
 Allahu A'lam bishawab.
 
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...