• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Mengenal Distributed Computing
Inovasi sepanjang setengah abad telah meningkatkan kecepatan komputer dalamfaktor jutaan. Tetapi kecepatan komputer masa kini masih terhitung rendah untuk  berbagai aplikasi saintifik berskala raksasa. Sebagai contoh, detektor untuk eksperimenLarge Hadron Collider di laboratoriumCERN(laboratorium Fisika Partikel di Swiss), pada tahun 2005 akan menghasilkan data sebesar beberapa petabytes setiap tahunnya -- sejuta kali kapasitas simpan dari kebanyakan komputer desktop masa ini. Analisis yang paling mendasar untuk data sebesar ini memerlukanaplikasi yang menuntut daya komputasi setidaknya 20 teraflops (
 floating-point operations
, operasi matematis) per detiknya. Bandingkan dengan 3 teraflops per detik yang dapat dijangkau oleh superkomputer masa kini. Analisis yang lebih khusus jelasakan membutuhkan daya komputasi yang lebih tinggi.
Clustering dan Internet Computing
 Salah satu solusi dari masalah kurangnya daya komputasi adalah dengan menjalankanaplikasi pada sejumlah komputer individual yang terhubung ke jaringan. Cara inidalam terminologi teknis dikenal sebagai
clustering 
. Teknik yang pertama kalidikembangkan pada awal era 1980-an ini, sekarang telah diaplikasikan pada berbagai pusat superkomputer, laboratorium riset, dan industri. Superkomputer tercepat didunia saat ini terdiri dari sekumpulan mikroprosesor, sebagai contoh, sistem ASCIWhite diLawrence Livermore National Laboratory,California, tersusun atas 8000  prosesor. Banyak diantara laboratorium riset yang menjalankan PC sederhana yangmembentuk 
cluster 
untuk melakukan perhitungan dan analisis data. Teknik ini hanyamemerlukan ongkos sebesar kurang dari 1 USD per megaflop tiap detiknya dengan
cluster 
komputer jenis Pentium III, sebuah ongkos yang sangat murah, khususnyaapabila dibandingkan dengan superkomputer yang harganya bisa mencapai jutaandolar itu. Kemajuan ini juga tidak lepas dari dikembangkannya algoritma khusus yangdapat mengeksploitasi penggunaan ribuan prosesor secara efektif.Walaupun
clustering 
dapat menyediakan peningkatan daya komputasi secarasignifikan, sebuah
cluster 
membutuhkan fasilitas khusus dengan dibangun diatassebuah lokasi tunggal. Ini memunculkan persoalan seberapa besar ruang yang dapatdisediakan untuk menampung sekian banyak komputer yang bekerja secara bersamaan itu. Hal ini memunculkan persoalan baru dimana dibutuhkan investasiekstra untuk membangun gedung-gedung baru, khusus sebagai lokasi
cluster 
.Kemajuan teknologi komunikasi menawarkan solusi berupa pendekatan desentralisasiuntuk mengatasi kebutuhan akan daya komputasi yang lebih tinggi dengan ongkosyang rasional. Terdapat lebih dari 400 juta PC di seluruh dunia, dengan banyak diantaranya memiliki daya komputasi setara dengan superkomputer pada era awal1980-an. Sebagian besar diantaranya memiliki banyak waktu
idle
(menganggur) saatdigunakan. Setiap institusi besar memiliki ratusan hingga ribuan sistem semacam ini.Sebuah pendekatan yang disebut
internet computing 
merupakan jawaban untuk memanfaatkan workstation dan PC untuk menciptakan sistem komputasi terdistribusi(
distributed computing systems
) berjangkauan global dengan kapabilitas setara dengansuperkomputer.Kesempatan yang ditawarkan oleh komputer yang berada dalam kondisi
idle
telah
 
diketahui sejak lama. Pada tahun 1985, Miron Livny menunjukkan bahwa sebagian  besar workstation senantiasa berada dalam kondisi
idle
. Ia mulai merancang sebuahsistem untuk memanfaatkan kondisi itu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Denganmemanfaatkan kemampuan multitasking dari sistem operasi Unix dan koneksi ke jaringan internet, Livny mengembangkan aplikasi yang disebutCondor yang kinidimanfaatkan secara luas oleh kalangan akademis untuk melakukan analisis data dan pemecahan problem matematis.Walapun Condor terhitung efektif untuk skala kecil, penggunaan
internet computing 
secara masal harus menunggu lebih lama bagi tersedianya PC yang lebih cepat danmeluasnya penggunaan internet. Pada 1997, Scott Kurowski membangun jaringanyang disebutEntropiadengan fungsi yang serupa: memanfaatkan kodisi
idle
padakomputer yang terhubung dalam jaringan untuk kepentingan aplikasi saintifik. Hanyadalam waktu dua tahun, jaringan ini berkembang, meliputi lebih dari 30.000 komputer dengan akumulasi kecepatan diatas satu teraflop per detik. Salah satu pencapaian dari jaringan ini adalah ditemukannya bilangan prima yang terbesar.Loncatan berikutnya dari
internet computing 
adalah diluncurkannya proyek SETI@homeoleh David Anderson. Proyek ini bertujuan untuk melakukan analisisdata yang diterima olehteleskop radio Arecibountuk mencari sinyal-sinyal yangmungkin dikirimkan oleh mahluk cerdas berperadaban dari luar Bumi. Gabunganantara rasa ingin tahu publik dan kemajuan teknologi menyebabkan proyek ini terus berkembang. Berjalan diatas setengah juta PC, proyek SETI@home kini menjelmamenjadi komputer tercepat di dunia yang dibangun untuk keperluan khusus.Apa artinya fenomena ini bagi ilmu pengetahuan dan para ilmuwan? Secara simplistik dapat dikatakan bahwa para ilmuwan kini memperloleh akses bagi sumber dayakomputasi yang luar biasa. Apa yang dibutuhkan hanyalah memasukkan problemkomputasi dalam sebuah bentuk yang cocok untuk dijalankan pada komputer deskop,dan kemudian melakukan pendekatan pada publik tentang seberapa pentingnya solusiuntuk sebuah masalah. Sekali publik dapat diyakinkan, maka selanjutnya bantuan berupa sumber daya komputasi akan segera mengalir dengan sendirinya.
Grid Computing
 Bayangkan seandainya
internet computing 
tidak hanya bermanfaat untuk sekedar melakukan perhitungan-perhitungan, melainkan untuk sesuatu yang lebih kompleksdari itu. Suatu kemungkinan untuk berbagi sumber daya (
resource
) untuk kepentingan bersama. Berhubung pengembangan sains masa kini dilakukan secara kolaboratif danmulti disiplin, maka kegiatan ini tidak lagi dibatasi oleh suatu institusi maupun negaratertentu. Internet melalui web dan email telah menawarkan mekanisme dasar yangmemungkinkan sebuah kelompok ilmuwan untuk bekerja secara bersamaan tanpamenghiraukan batasan geografis. Tapi bagaimana jadinya apabila mereka dapatmembangun hubungan (
link 
) antar data, komputer, perangkat sensor, dan sumber dayalain yang mereka miliki untuk membentuk sebuah laboratorium virtual?
Grid computing 
merupakan jawabannya.
Grid computing 
memungkinkan semua ituterwujud dengan menyediakan protokol, servis dan kit pengembangan perangkatlunak untuk keperluan berbagi sumber daya secara fleksibel dan terkendali dalamskala besar.
 
Grid computing 
sebenarnya merupakan sebuah aplikasi pengembangan dari jaringankomputer (
network 
). Hanya saja, tidak seperti jaringan komputer konvensional yang berfokus pada komunikasi antar pirati (device), aplikasi pada
Grid computing 
dirancang untuk memanfaatkan sumber daya pada terminal dalam jaringannya.
Grid computing 
biasanya diterapkan untuk menjalankan sebuah fungsi yang terlalukompleks atau terlalu intensif untuk dikerjakan oleh satu sistem tunggal. Dalam pengertian yang lebih teknis,
Grid computing 
merupakan sebuah sistem komputasiterdistribusi, yang memungkinkan seluruh sumber daya (
resource
) dalam jaringan,seperti pemrosesan, bandwidth jaringan, dan kapasitas media penyimpan, membentuk sebuah sistem tunggal secara vitual. Seperti halnya pengguna internet yangmengakses berbagai situs web dan menggunakan berbagai protokol seakan-akandalam sebuah sistem yang berdiri sendiri, maka pengguna aplikasi
Grid computing 
seolah-olah akan menggunakan sebuah virtual komputer dengan kapasitas pemrosesandata yang sangat besar.Konsep
Grid computing 
pertama kali dieksplorasi pada tahun 1995 melaluieksperimen yang dikenal sebagai I-WAY, dimana jaringan berkecepatan tinggidigunakan untuk menghubungkan dalam waktu singkat, suber daya yang sifatnya
high-end 
pada 17 situs di sepanjang Amerika bagian Utara. Selepas aktifitas ini, berkembang pula sejumlah proyek penelitian yang bertujuan untuk mengembangkanteknologi inti
Grid computing 
untuk hal-hal yang lebih "produktif" bagi berbagaikomunitas dan disiplin keilmuan. Tidak kurang dari badan bernama
 National Technology Grid 
bentukan US National Science Foundation (Lembaga Ilmu Pengetahuan AS), yang bekerjasama dengan
 Information Power Grid 
dari NASA (badan luar angkasa Amerika Serikat), bersama-sama membentuk sebuah infrastruktur 
Grid computing 
untuk melayani kegiatan para peneliti di NASA maupun berbagaiuniversitas di Amerika Serikat.Di Eropa dan Amerika Serikat,European Data Grid,Particle Physics Data Grid, dan  proyek  Grid Physics Network (GriPhyN), berencana untuk membangun kerjasama dalam pengembangan aplikasi
Grid computing 
untuk kepentingan analisis data padaeksperimen-eksperimen fisika. Sementara itu, the Network for EarthquakeEngineering Simulation Grid (NEESgrid) tengah berancang-ancang untuk menghubungkan para insinyur sipil dengan arsip data dan sistem simulasi komputer untuk mengembangkan bangunan dengan kekuatan yang lebih besar.Seperti halnya aplikasi network lainnya,
Grid computing 
haruslah bersandar pada satuset standar dan protokol tertentu. Kendati tidak ada standar formal yang telahditetapkan untuk aplikasi
Grid computing 
(saat ini sedang disiapkan olehGridForum), telah ada semacam konsensus dalam teknologi intinya. Pada dasarnya, semua proyek 
Grid computing 
dibuat berdasarkan protokol dan servis yang disediakan olehGlobus Toolkityang dikembangkan oleh Argonne National Laboratorybekerjasama dengan tim dari Information Sciences Institute,University of Southern Californiadan beberapa institusi lainnya. Infrastruktur yang memiliki arsitektur terbuka (
open-architecture
) dan bersifat
open-source
ini menyediakan banyak fungsi dasar yangdibutuhkan untuk membangun sebuah aplikasi yang memanfaatkan
Grid computing 
.Walaupun internet dan
Grid computing 
adalah teknologi yang relatif baru, namuntelah terbukti bermanfaat, dan masa depan teknologi ini kelihatannya cukupmenjanjikan. Di masa depan, saat teknologi, sistem jaringan, dan model bisnis untuk 
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...