Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Rekonsiliasi Konflik Antarperguruan Silat Di Madiun Edit

Rekonsiliasi Konflik Antarperguruan Silat Di Madiun Edit

Ratings: (0)|Views: 81 |Likes:
Published by joininstitute

More info:

Published by: joininstitute on Jul 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2012

pdf

text

original

 
:
REKONSILIASI KONFLIK ANTARPERGURUAN SILAT DI MADIUN
::.REKONSILIASI KONFLIK ANTARPERGURUAN SILAT DI KABUPATEN MADIUN(STUDI HISTORIS DAN SOSIOLOGIS)Oleh: Drs. Soebijantoro, MM. M.Pd. Drs. Abraham Nurcahyo, M.Hum. Yudi Hartono, S.Pd,M.Pd.DIBIAYAI OLEH DITLITBAMAS SURAT PERJANJIAN NOMOR 272/SP2H/PL/DIT.LITBAMAS/IV/2011 DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGIDEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAANPROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN SOSIALIKIP PGRI MADIUN DESEMBER 2011RINGKASAN DAN SUMMARY Konflik antarperguruan silat di Kabupaten Madiun melibatkanfaktor-faktor historis yang berdampak pada situasi sosiologis. Faktor historis berakar dari perbedaan pendapat antara guru-murid generasi awal dalam pengembangan Perguruan Setia Hati.Sampai tahap ini, konflik masih pada fase latensi dimana perbedaan masih dapat diterima. Konflik mengalami eskalasi pasca Peristiwa G30S. Bentrok antarpendekar dari dua perguruanmengakibatkan hubungan mulai memburuk, meskipun kedua perguruan bukanlah partisan dalam peristiwa tersebut. Perbedaan-perbedaan semakin ditonjolkan yang memupuk emosi dan sentimenkelompok. Stereotip negatif berkembang sejalan dengan penguatan identitas masing-masing perguruan yang diekspresikan melalui berbagai simbol seperti tugu, kostum, dan baliho. Stereotipnegatif tersebut terus direproduksi dan cenderung tidak terkendali, terutama di akar rumput.Konflik semakin meningkat dan melibatkan massa banyak sejak tahun 1990-an ketika jumlahanggota baru kedua perguruan semakin banyak. Pelanggaran-pelanggaran terhadap etika perguruanmulai merebak karena tidak adanya sanksi organisatoris dari perguruan. Kekerasan mudah meletusdan melibatkan massa pendukung kedua perguruan. Mereka terjebak dalam konflik yang tidak  berkesudahan hingga saat ini. Konflik memasuki fase terjebak (entrapment). Berbagai momentumyang sesungguhnya memiliki spirit yang sama seperti Suran Agung, Halal bihalal, dan pengesahananggota baru justru menjadi arena konflik. Tindakan pengamanan untuk menghentikan kekerasancukup efektif dilakukan oleh aparat. Pendekatan keamaan akhir-akhir ini relatif berhasilmengendalikan dan mengurangi kekerasan. Pengerahan 5.000 personil aparat keamanan padasetiap momentum yang sering menjadi arena konflik mampu menjamin keamanan dari konflik 
1
 
kekerasan massal. Namun demikian, suasana psikologis di tingkat bawah belum banyak berubahkarena pendekatan keamanan hanya diberlakukan dalam momentum-memontum tertentu dan tidak  berkelanjutan. Rekonsiliasi dengan pendekatan kultural menjadi pilihan yang potensial.Keterlibatan pendekar dari berbagai perguruan dalam MTQ yang diselenggarakan beberapa waktulalu menjadi arena integrasi. Demikian pula dalam Festival Pencak Seni Tradisi. Para pendekar dari berbagai perguruan dapat memfungsikan kependekarannya sebagai sosok yangmenenteramkan, bukan menakutkan. Upaya lain adalah menjadikan ikon pencak silat sebagai asetwisata yang dikemas dalam bentuk festival juga potensial menjadi cara rekonsiliasi kultural. Upaya pemberdayaan untuk rekonsiliasi dengan pendekatan kultural perlu diintensifkan dan pendekatankeamanan harus mulai dikurangi. Rekonsiliasi dengan pendekatan kultural didahului dengantransformasi kesadaran melalui upaya-upaya pemaafan sosial terhadap masa lalu untuk memperbarui hubungan yang lebih baik. Dari situ rekonsiliasi kultural dapat menjadi pilihan yanglebih memberi harapan.I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konflik kekerasan antarperguruan silat di KabupatenMadiun, yaitu antara Persaudaraan Setia Hati Terate dengan Persaudaraan Setia Hati WinongoTunas Muda merupakan fenomena sosial yang banyak mendapat perhatian masyarakat Madiun dansekitarnya. Konflik yang melibatkan masa pendukung kedua pihak tersebut telah menimbulkankeresahan di berbagai lapisan masyarakat, mengakibatkan korban jiwa dan harta benda dari kedua belah pihak serta masyarakat pada umumnya. Konflik tersebut menimbulkan ketidaknyaman dalamkehidupan masyarakat Madiun. Bagi kedua perguruan silat tersebut menjadi ironis, karena di satusisi mereka banyak berkontribusi bagi kemajuan olah raga pencak silat di tingkat nasional, namundi sisi lain mereka menjadi penyebab keresahan di masyarakat. Mereka telah banyak menyumbangkan atlet-atlet pencak silat di tingkat nasional, sementara di tingkat lokal merekamenghadapi persoalan diantara mereka sendiri. Kehidupan sosial selalu mengandung dua potensiyang saling bertolak belakang, yaitu potensi konflik dan integrasi. Kedua potensi tersebut menyatudalam kehidupan masyarakat dan sewaktu-waktu dapat muncul secara bergantian. Potensi konflik akan muncul lebih kuat apabila diantara anggota masyarakat lebih mengutamakan kepentinganindividu ataupun kelompok sehingga terjadi persaingan tidak sehat yang pada akhirnya dapatmemicu konflik. Potensi integrasi akan lebih dominan apabila diantara anggota masyarakat lebihmengutamakan kepentingan bersama yang dilandasi oleh nilai dan norma sosial sehingga akantercipta suasana damai. Konflik merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial. Konflik 
2
 
merupakan bagian dari dinamika masyarakat yang dapat mendorong perubahan, namun konflik akan menjadi destruktif apabila mengarah pada kekerasan. Konflik akan bersifat negatif apabilaterjadi berkepanjangan dan diwarnai dengan kekerasan yang pada akhirnya dapat merusak tatanankehidupan dan merugikan masyarakat. Konflik merupakan keniscayaan dalam hidup bersama. Jikakonflik telah tidak terelakkan, maka pilihannya adalah mengelolanya agar tidak berubah menjadikekerasan. Jika konflik dibiarkan menjadi kekerasan, maka kerugian akan terjadi, termasuk kerugian harkat dan martabat manusia yang terlibat dan terkena dampak kekerasan itu. Pandanganorang mengenai konflik berbeda-beda. Masyarakat Cina mengenal konflik sebagai krisis dan bahaya. Masyarakat Barat mengenal konflik sebagai mengandung dua unsur: peluang dan bahaya.Masyarakat kita menganggap bahwa konflik itu buruk, padahal kemerdekaan negara kita juga buahdari konflik kita berhadapan dengan pihak penjajah. Konflik kita anggap sebagai sesuatu yang buruk jika dikaitkan dengan penampakan konflik yang membuat orang tegang, marah, dendam,luka hati, dan sebagainya dan berakibat putusnya hubungan dan bahkan terjadinya kekerasan.Tetapi jika direnungkan lebih dalam, maka sebenarnya kita hidup bersama konflik. Artinya kitatidak dapat terbebas dari konflik. Oleh karena itu itu kita perlu mempelajari cara mengelola konflik agar tidak menjadi kekerasan, dan bahkan mendorong kemajuan. Belajar tentang konflik berarti juga belajar untuk mengubah diri. Konflik tidak hanya melibatkan pikiran, melainkan juga emosi,kecenderungan pribadi, dan mekanisme yang berlaku di suatu lingkungan. Oleh karena itumempelajari konflik juga menuntut perubahan tidak saja cara pandang tentang konflik, melainkan juga perubahan dalam sikap dan tindakan dalam mengelola konflik. Kemampuan mengelolakonflik mencerminkan keadaban. Karena konflik tidak terlekkan, maka satu-satunya kemungkinanadalah mengelolanya agar konflik tidak berkembang menjadi kekerasan. Jika kekerasanditempatkan sebagai cara untuk menyelesaikan konflik, maka banyak kerugian akan diderita, tidak saja yang menyangkut harta benda, melainkan juga harkat dan martabat kita sebagai manusia beradab. Masyarakat damai bukanlah masyarakat yang hidup tanpa konflik, melainkan masyarakatyang konfliknya dapat dikelola sehingga menjadi kekuatan transformatif dalam masyarakat.Kualitas manusia dalam relasi antarsesamanya tidak diukur dari kemampuannya untuk menghindari konflik, melainkan dari kemampuannya menyelesaikan konflik tanpa kekerasan berprinsip keadilan. Tidak ada cara tunggal untuk menyelesaikan konflik. Konflik selalu khastergantung permasalahan yang dipersengketakan, pihak-pihak yang terlibat, tindakan yang muncul,kepentingan dan kebutuhan yang hendak dicapai, dan opsi penyelesaiannya. Kekhasan itu juga
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->