Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Aliran Iluminasionis

Aliran Iluminasionis

Ratings: (0)|Views: 235|Likes:
Published by Imam Wahyudi

More info:

Published by: Imam Wahyudi on Jul 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/16/2012

pdf

text

original

 
Friday, 26 May 2006
Aliran Iluminasionis
(Isyrâqiyah )
Oleh: Dr. Mulyadhi Kartanegara
Aliran Iluminasionis
(Isyrâqi)
ini didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi al-Maqtul(w.1191). Dikatakan al-Maqtul, karena ia dijatuhi hukuman mati oleh Sulthan Shalah al-Dinal-Ayyubi, dari Mesir, atas pengaduan para ulama Suriah dan tuduhan –karena rasa irimereka terhadapnya—bahwa ia telah menyebarkan aliran sesat. Teman sekelas Fakhr al-Razi ini telah melakukan perjalanan yang panjang dari kampung halamannya Suhrawardi,dekat Teheran, ke seluruh pelosok Timur Tengah, tetapi pada akhirnya tinggal di Allepo,sebagai guru bagi Malik Al-Zhahir, putra Al-Ayyubi.Walau meninggakl dalam usia yg relatif muda, yaitu 35 tahun, namun ia telah menyusun beberapa karya yang signikan, seperti Kitab
 Al-Masy’ari wa Al-Mutharahat; Al-Talwîhat 
dan
Al-Muqawwamât.
Tetapi yang paling besar, berpengaruh dan orisinal adalah Hikmah
 Al-Isyrâq
, yang telah telah menjadi kitab utama, di atas mana filsafat
 Isyraqî 
dibangun.Kitab ini telah mendapat banyak komentar dari murid-muridnya, seperti
 Al-Sahrazuri
dan
Quthb Al-Din Al-Syirazi
, atau simpatisannya seperti Ibn Kammunah, seorang filosof Yahudi.Sebagai salah satu aliran filsafat Islam, filsafat Iluminasi tentu memiliki beberapakarakteristik yang membedakannya dengan aliran-aliran yang lain, ditinjau dari sudutmetodologis, ontologis dan kosmologis. Marilah kita mulai dengan metode berpikir iluminasionis.
Berbeda dengan aliran peripatetik, yanglebih menekankan penalaran rasional sebagaimetode berpikir dan pencarian kebenaran,
filsafat
iluminasionis mencoba memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif 
(‘irfan)
, sebagai pendamping bagi, atau malah, dasar bagi penalaranrasional. 
Di sini Suhrawardi mencoba mensintesiskan dua pendekatan ini,
burhani
dan
‘irfanî 
dalam sistem pemikiran yang solid dan holistik.
 
Suhrawardi pernah mengklasifikasi pencari kebenaran ke dalam tiga kelompok:
(1)Mereka yang memiliki pengalaman mistik yang mendalam –seperti para sufi—tetapi tidak mempunyai kemampuanuntuk mengunkapkan pengalamannya itu secara diskursif;(2) mereka yang memiliki kecakapan nalar diskursif, tetapitidak memiliki pengalaman mistik sangat penting untuk mengenal secara langsung realitas sejati, sehingga tidak hanya bersandar pada otoritas masa lalu saja, seperti yangdapat ditemukan pada para filososf peripatetik, dan 
(3)
atauterakhir, adalah
mereka yang di samping memiliki pengalamanmistik yang mendalam dan otentik, juga memilikikemampuan nalar dan bahasa diskursif, seperti yang terjadi pada diri Plato, di masa lampau, dan dirinya (baca:Suhrawardi) pada masanya
.Pengalaman mistik adalah pengalaman langsung melihat realitas sejati, karena dalam pengalaman mistik seperti itu ”objek” penelitian telah ”hadir” pada diri seseorang, sehinggamodus pengenalan seperti ini sering disebut
“ilmu hudhuri”
 
(knowledge by presence)
yangkemudian dibedakan dengan
“ilmu hushuli” (acquired knowledge)
di mana objek penelitiandiperoleh tidak secara langsung, melainkan melalui sebuah representasi, baik itu berupasimbol atau konsep.Arti penting pengalaman mistik bagi pencarian kebenaran adalah bahwa melalui pengalaman tersebut seseorang (filosof atau sufi) dapat secara langung menyaksikankebenaran sejati
(Al-Haqq),
yang tidak bisa diperoleh dengan cara yang aman melalui pendekatan apapun, indera atau akal. Kalau tidak, maka filsafat mereka akan dipenuhi olehungkapan-ungkapan syathahat yang tidak bisa diakses. Bahkan menurut, sahabat saya, Dr.Haidar Bagir, kemampuan untuk mengungkap pengalaman mistik tersebut, dengan katalain, pengalaman mistik harus diuji kebenarannya justru lewat bahasa diskursif. Ketikaditanya oleh muridnya apakah buku
 Hikmah Al-‘Israq
ini adalah karya mistik atau filsafat,Suhrawardi menjawab bahwa
 Hikmah Al-‘Isyraq
adalah kitab filsafat yang didasarkan pada pengalaman mistik. Inilah yang menurut penulis merupakan sintesis yang brilian dariseorang Suhrawardi.Marilah kita beralih sekarang pada aspek ontologis aliran iluminasionis, yang diwakili olehkonsep metafisika cahaya, yang merupakan ciri khas lainnya dari aliran ini. Di atas pernahdisinggung bahwa sebagian filosof pernah mengibaratkan Tuhan sebagai matahari dan alamsinarnya. Suhrawardi, adalah seorang filosof Muslim yang menurut saya, paling maksimal
 
memanfaatkan simbolisme cahaya untuk menjelaskan filsafatnya. Baginya Tuhan adalahCahaya, sebagai satu-satunya realitas yang sejati. Ketika dihubungkan dengan cahaya-cahaya lain, Tuhan adalah Cahaya di atas Cahaya (
 Nûr Al-Anwar)
. Ia adalah sumber darisegala cahaya, dari mana semua cahaya lainnya berasal atau memancar.Menurutnya, segala sesuatu yang ada di dunia terdiri dari cahaya dan kegelapan. Tetapihanya cahaya yang meiliki wujud yang positif, sedangkan kegelapan adalah negatif, dalamarti tidak memiliki realitas objektif. Ia ada hanya sebagai konsekuensi dari ketiadaancahaya. Ketika cahaya datang, maka kegelapan sirna. Bagi Suhrawardi benda-benda tidak memiliki definisi atau kategori yang tegas (clear cut) seperti yang dibayangkan kaumPeripatetik. Yang membedakan satu benda lainnya hanyalah intensitas cahaya yangdimilikinya. Semakin banyak kandungan cahayanya, maka semakin tinggi derajatnya.Hewan dan manusia, misalnya, tidak dibedakan secara kategoris melalui esensinya tetapidisebabkan oleh kenyataan bahwa manusia memiliki cahaya yang lebih dibanding hewan.Dengan demikian, aliran filsafat iluminasionis merupakan kritik yang cukup fundamental – sekalipun tidak terlalu jelas—atas prinsip hylomorfis, karena sementara bagi hylomorfisme bentuk-bentuk benda bersifat relatif. Bagi yang terakhir sesuatu bisa dilihat secara relati“lebih atau kurang” (more or less) da tidak dibagi secara kategorik ke dalam substansi-substansi yang tetap (fixed).Selain kritik terhadap filsafat atau prinsip atau prinsip hylomorfisnya peripatetik, filsafatiluminasionis juga memberikan kritik yang tajam atas prinsipialitas wujud, seperti yangdiyakini Ibn Sina. Sementara bagi Ibn Sina – dan dikemudian hari Mulla Sadra, wujudadalah yang real, yang fundamental, sementara bagi Suhrawardi esensi
(mahiyah)
-lah yangreal, sedangkan wujud tidak memiliki hubungan realistik dengan realitas. Sebagai pengikutPlato yang percaya bahwa esensilah yang sejati, sedangkan wujud hanyalah abstraksisubyektif manusia saja.Dengan demikian, filsafat Suhrawardi dikenal sebagai eksistensialisme, yangdipertentangkan dengan eksistensialisme ala Sadra, yang akan kita jelaskan nanti. Jadi dapatdisimpulkan bahwa menurut Suhrawardi esensilah yang lebih prinsipil dan eksistensi
(wujud),
sebuah ajaran yang sering disebut ishalât al-mahiyyah atau prinsipialitas esensi,sebagai lawan dari ishalât al-wujûd, yang menyatakan bahwa wujudlah yang prinsipil, yanglebih fundamental, sedangkan esensi hanyalah persepsi mental saja.Untuk menguatkan argumennya tentang ketidaknyataan eksistensi, Suhrawardi bertanyakepada kaum eksistensialis, apa yang anda maksud dengan wujud, ia menyatakan bahwaapa yang dipahaminya tentang wujud tersebut pada hakikatnya bukanlah wujud itu sendiri.Dengan itu Suhrawardi ingin menyatakan bahwa pada akhirnya yang nyata adalah esensi bukan wujud, sekalipun kita sedang berbicara tentang wujud
(eksistensi).
 Ciri khas ketiga dari aliran iluminasionis bisa dilihat dari ajaran kosmologis mereka, berupateori emanasi, namun lebih ekstensif dari teori emanasi kaum Peripatetik. Seperti halnyakaum Peripatetik, Suhrawardi juga percaya bahwa alam semesta memancar dari Tuhan.Hanya saja dalam teori emanasi Suhrawardi, kita menjumpai bukan hanya istilah-istilah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->