Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mengapa an Fogging Swadaya Di Puskesmas Masih Tinggi

Mengapa an Fogging Swadaya Di Puskesmas Masih Tinggi

Ratings:

4.83

(6)
|Views: 859 |Likes:
Published by sutopo patriajati
Fogging swadaya ternyata masih menjadi pilihan favorit dari masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit DBD di tingkat Puskesmas.Apa saja faktor yang melatar belakangi masih tingginya animo masyarakat terhadap fogging swadaya?
Fogging swadaya ternyata masih menjadi pilihan favorit dari masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit DBD di tingkat Puskesmas.Apa saja faktor yang melatar belakangi masih tingginya animo masyarakat terhadap fogging swadaya?

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: sutopo patriajati on Jan 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2013

 
TINGGINYA PERMINTAAN FOGGING SWADAYA DI PUSKESMASWONOSARI II WONOSARI GUNUNGKIDUL – DIY *)
1
Sutopo Patria Jati **) Siti Hidayati***)Penanggulangan penyakit DBD yang paling efektif adalah memberantas vektor  penyakit di tempat perkembangbiakan. Besarnya permintaan yang berlebihan darifogging swadaya di masyarakat justru akan mengganggu upaya – upaya pencegahandalam penanggulangan DBD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran bagaimana mekanisme permintaan fogging swadaya dan faktor faktor yangmenyebabkan tingginya permintaan fogging swadaya.Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif denganmenggunakan wawancara mendalam berdasar pedoman wawancara. Pengambilan unitanalisis sebanyak 8 orang responden. Triangulasi menggunakan sumber tokoh masyarakatdan pemegang program di puskesmas.Hasil penelitian menunjukkan dari sisi pengguna pelayanan kesehatan yaitu pengetahuan masyarakat tentang fogging masih kurang. Meskipun sikap masyarakat positif dalam keikutsertaan menanggulangi DBD tapi negatif dalam menekan adanya permintaan berlebihan terhadap fogging. Hal ini disebabkan fogging merupakan programyang lebih disenangi daripada program yang lain dengan alasan adanya rasa kebersamaandan meninggalkan bekas/bukti nyata..Sosial budaya masyarakat masih kurangmendukung dalam pemberantasan vektor penyakit DBD. Dari sisi ketersediaan danketerjangkauan pelayanan kesehatan justru memudahkan adanya permintaan berlebihandari fogging swadaya.Mekanisme permintaan fogging swadaya selama ini cenderung tidamenggunakan jalur pokjanal (desa dan kecamatan) sehingga permintaan masyarakatmenjadi tidak terkontrol. Hasil analisis akar masalah dengan diagram
 fishbone
teridentifikasi empat penyebab utama tingginya kasus DBD dan permintaan foggingswadaya oleh masyarakat. Selanjutnya upaya intervensi oleh pemerintah untuk menurunkan permintaan fogging swadaya sebaiknya memfokuskan pada ke empat aspek tersebut meliputi aspek pengetahuan, sikap dan persepsi masyarakat, aspek pelayanankesehatan, aspek lingkungan dan aspek sosial budaya .Kata kunci: fogging swadaya, penanggulangan penyakit DBD
PENDAHULUAN
 Nyamuk penular DBD (aedes aegypti) memiliki karakteristik tersebar luas baik dirumah atau di tempat – tempat umum dan karena vaksin untuk mencegah dan obat untuk memberantas virusnya belum ada maka pencegahan atau pemberantasan penyakit ini
1
*) Paper ilmiah disampaikan dalam Seminar Nasional Hari Nyamuk Tahun 2007 di Semarang**)Staf Bagian AKK FKM UNDIP Semarang***) Mahasiswa Peminatan AKK FKM UNDIP Semarang
1
 
adalah dengan memberantas nyamuk penularnya (WHO,SEARO,2000).
 
Cara yang palingefektif dalam menanggulangi DBD adalah dengan pemberantasan vektor DBD ataudengan cara memberantas jentik nyamuk di tempat berkembang biaknya (DepkesRI,1992)Fogging merupakan penanggulangan seperlunya sebagai upaya membatasi penularan penyakit DBD di rumah penderita / tersangka penyakit DBD dan lokasisekitarnya serta di tempat umum yang diperkirakan dapat menjadi sumber penularan penyakit DBD yang dilakukan sesudah ada kasus, sebelum musim penularan penyakitdan dilakukan berdasar hasil penyelidikan epidemiologi (PE), dan ABJ < 95 %
(6)
sedangkan rekomendasi terbaru dari WHO adalah penyemprotan insektisida sebaiknyatidak digunakan kecuali dalam keadaan genting selama terjadi Kejadian Luar Biasa(KLB) / wabah DBD (WHO,SEARO,2000).
 
Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah terluas dari Kabupaten lain di DIY(46,3%) dan sebagian besar adalah pegunungan mempunyai 29 wilayah puskesmas yangterbagi menjadi 13 puskesmas rawat inap dan 16 puskesmas rawat jalan. PuskesmasWonosari II merupakan salah satu puskesmas rawat jalan di Kabupaten Gunungkidul.Puskesmas Wonosari II meliputi daerah perkotaan dan pedesaan di KabupatenGunungkidul dan memiliki jumlah kasus BDB yang paling tinggi. Berdasarkan dataterakhir ditemukan jumlah penderita DBD pada tahun 2000 : 23 kasus, tahun 2001: 21kasus, tahun 2002: 14 kasus, tahun 2002: 27 kasus dan terkahir tahun 2005 : 40 kasus.Permintaan fogging focus sesuai kasus tahun 2004 sebanyak 40 paket sedangkan permintaan fogging swadaya jauh lebih tinggi sebesar 86 paket atau mencapai 74,8% dari2
 
total permintaan fogging swadaya se Kabupaten Gunung Kidul. (Data Kasus P2MPLKab. Gunung Kidul, 2005)Berdasarkan data tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar dapatmenjelaskan mengapa terjadi permintaan fogging swadaya yang sangat tinggi di wilayahPuskesmas Wonosari II. Fogging seharusnya dilaksanakan sebagai cara terakhir, jika caralain telah diupayakan tetapi hasilnya belum dapat memperbaiki keadaan denganmemperhatikan efektivitas, azas kemanfaatan, efisiensi sumber daya, mengingat dampak kesehatan bagi mereka yang terpapar zat kimia, kemungkinan resistensi nyamuk, dandampak psikososial masyarakat dalam menghentikan penularan penyakit DBD (DepkesRI,1992)
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif (Singarimbun,1995 danMoleong,1996). Subyek peneltian adalah warga masyarakat di wilayah PuskesmasWonosari II yang bisa memberikan informasi dan pernah mengajukan fogging swadaya.Obyek Penelitian meliputi: (1) Informan sosial budaya kaitannya dengan penangananDBD di masyarakat yaitu tokoh masyarakat / aparat desa yang berada di desa endemis(Desa Kepek, Wonosari, Baleharjo dan Karang Tengah); (2) Informan sasaran ditentukansecara purposif dan jumlah informan berhenti setelah mencapai saturasi (jenuh)(Singarimbun,1995 ); (3) Sebagai triangulasi digunakan tokoh masyarakat dan petugas puskesmas pemegang program DBD dan ditentukan secara purposif (Moleong,1996).Instrumen yang digunakan adalah catatan lapangan; kuesioner wawancaramendalam dan tape recorder serta cara pengumpulan data yaitu :3

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
nsyami liked this
Karyo Utomo liked this
222924 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->