Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
25Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Karakteristik Potensi, Dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol Untuk an Pertanian Lahan Kering Di Indonesia

Karakteristik Potensi, Dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol Untuk an Pertanian Lahan Kering Di Indonesia

Ratings:

4.71

(14)
|Views: 5,614 |Likes:
Published by daudsajo

More info:

Published by: daudsajo on Jan 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

 
 Jurnal Litbang Pertanian, 25(2), 2006 
39
U
ltisol merupakan salah satu jenistanah di Indonesia yang mempunyaisebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atausekitar 25% dari total luas daratan Indo-nesia (Subagyo
et al.
2004). Sebaran ter-luas
 
terdapat di Kalimantan (21.938.000ha), diikuti di Sumatera (9.469.000 ha),Maluku dan Papua (8.859.000 ha), Sula-wesi (4.303.000 ha), Jawa (1.172.000 ha),dan Nusa Tenggara (53.000 ha). Tanah inidapat dijumpai pada berbagai relief, mulaidari datar hingga bergunung.Ultisol dapat berkembang dari ber- bagai bahan induk, dari yang bersifatmasam hingga basa. Namun sebagian besar bahan induk tanah ini adalah batuan sedimen masam. Luas tanah Ultisol berdasarkan bahan induknya disajikan pada Tabel 1. Di antara grup Ultisol, Haplu-dults mempunyai sebaran terluas. Hal inikarena persyaratan klasifikasinya hanyadidasarkan pada nilai kejenuhan basayaitu < 35% dan adanya horizon argilik,tanpa ada syarat tambahan lainnya.
KARAKTERISTIK, POTENSI, DAN TEKNOLOGIPENGELOLAAN TANAH ULTISOL UNTUKPENGEMBANGAN PERTANIAN LAHANKERING DI INDONESIA
B.H. Prasetyo
1)
dan D.A. Suriadikarta
2)
1)
 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian,
2)
 Balai Penelitian Tanah, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123
ABSTRAK 
Tanah Ultisol mempunyai sebaran yang sangat luas, meliputi hampir 25% dari total daratan Indonesia. Penampangtanah yang dalam dan kapasitas tukar kation yang tergolong sedang hingga tinggi menjadikan tanah ini mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan pertanian lahan kering di Indonesia. Hampir semua jenis tanamandapat tumbuh dan dikembangkan pada tanah ini, kecuali terkendala oleh iklim dan relief. Kesuburan alami tanahUltisol umumnya terdapat pada horizon A yang tipis dengan kandungan bahan organik yang rendah. Unsur haramakro seperti fosfor dan kalium yang sering kahat, reaksi tanah masam hingga sangat masam, serta kejenuhanaluminium yang tinggi merupakan sifat-sifat tanah Ultisol yang sering menghambat pertumbuhan tanaman. Selainitu terdapat horizon argilik yang mempengaruhi sifat fisik tanah, seperti berkurangnya pori mikro dan makro serta bertambahnya aliran permukaan yang pada akhirnya dapat mendorong terjadinya erosi tanah. Penelitianmenunjukkan bahwa pengapuran, sistem pertanaman lorong, serta pemupukan dengan pupuk organik maupunanorganik dapat mengatasi kendala pemanfaatan tanah Ultisol. Pemanfaatan tanah Ultisol untuk pengembangantanaman perkebunan relatif tidak menghadapi kendala, tetapi untuk tanaman pangan umumnya terkendala olehsifat-sifat kimia tersebut yang dirasakan berat bagi petani untuk mengatasinya, karena kondisi ekonomi dan pengetahuan yang umumnya lemah.
Kata kunci:
Ultisol, karakteristik fisika dan kimia tanah, pengelolaan tanah, pengembangan pertanian
ABSTRACT
Characteristics, potential, and management of Ultisols for agrilcultural upland development in Indonesia
Ultisols occupied almost 25% of total Indonesian land surface. The deep profiles and moderate to high cationexchange capacities of the soil make the soil has an important role in agricultural upland development. Almost allkinds of crops are able to grow and develop in this soil, except limited by climate and relief. The natural chemicalfertility of Ultisols is mostly restricted on the A horizon with low organic matter content. Major plant nutrientssuch as phosphorous and potassium are often deficient in Ultisols, while acid to very acid soil reaction and highaluminum saturation were also specific properties of Ultisols that restrict plant growth. The presence of argillichorizon in the soil influences soil physical properties such as reduction of both macro and micropores, enlargementof surface runoff and finally supporting the soil erosion. Most of studies indicated that liming, alley cropping, andfertilizing by organic and unorganic fertilizers could overcome some constraints in Ultisols. Utilization of Ultisolswould be no problem for estate crops, but for food crops the chemical properties were generally a constraint thatnot so easy to overcome by farmer, due to the low economical condition and minimum knowledge.
Keywords:
Ultisols, soil chemicophysical properties, soil management, agricultural development
 
40
 Jurnal Litbang Pertanian, 25(2), 2006 
Ultisol dicirikan oleh adanya akumu-lasi liat pada horizon bawah permukaansehingga mengurangi daya resap air danmeningkatkan aliran permukaan dan erositanah. Erosi merupakan salah satu kendalafisik pada tanah Ultisol dan sangat meru-gikan karena dapat mengurangi kesuburantanah. Hal ini karena kesuburan tanahUltisol sering kali hanya ditentukan olehkandungan bahan organik pada lapisanatas. Bila lapisan ini tererosi maka tanahmenjadi miskin bahan organik dan hara.Tanah Ultisol mempunyai tingkat perkembangan yang cukup lanjut, dici-rikan oleh penampang tanah yang dalam,kenaikan fraksi liat seiring dengan keda-laman tanah, reaksi tanah masam, dankejenuhan basa rendah. Pada umumnyatanah ini mempunyai potensi keracunanAl dan miskin kandungan bahan organik.Tanah ini juga miskin kandungan haraterutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K, kadar Al tinggi,kapasitas tukar kation rendah, dan pekaterhadap erosi (Sri Adiningsih danMulyadi 1993).Di Indonesia, Ultisol umumnya belumtertangani dengan baik. Dalam skala besar,tanah ini telah dimanfaatkan untuk per-kebunan kelapa sawit, karet dan hutantanaman industri, tetapi pada skala petanikendala ekonomi merupakan salah satu penyebab tidak terkelolanya tanah inidengan baik.
CIRI MORFOLOGI
Pada umumnya Ultisol berwarna kuningkecoklatan hingga merah. Pada klasifikasilama menurut Soepraptohardjo (1961),Ultisol diklasifikasikan sebagai Podsolik Merah Kuning (PMK). Warna tanah padahorizon argilik sangat bervariasi dengan
hue
dari 10YR hingga 10R, nilai 3
6 dankroma 4
8 (Subagyo
et al.
1986; Suhartadan Prasetyo 1986; Rachim
et al.
1997;Suhardjo dan Prasetyo 1998; Alkusuma2000; Isa
et al.
2004; Prasetyo
et al.
2005).Warna tanah dipengaruhi oleh beberapafaktor, antara lain bahan organik yangmenyebabkan warna gelap atau hitam,kandungan mineral primer fraksi ringanseperti kuarsa dan plagioklas yang mem- berikan warna putih keabuan, serta oksida besi seperti goethit dan hematit
 
yang mem- berikan warna kecoklatan hingga merah.Makin coklat warna tanah umumnyamakin tinggi kandungan goethit, danmakin merah warna tanah makin tinggikandungan hematit (Eswaran dan Sys1970; Allen dan Hajek 1989; Schwertmanndan Taylor 1989).Tekstur tanah Ultisol bervariasi dandipengaruhi oleh bahan induk tanahnya.Tanah Ultisol dari granit yang kaya akanmineral kuarsa umumnya mempunyaitekstur yang kasar seperti liat berpasir (Suharta dan Prasetyo 1986), sedangkantanah Ultisol dari batu kapur, batuanandesit, dan tufa cenderung mempunyaitekstur yang halus seperti liat dan liathalus (Subardja 1986; Subagyo
et al.
1987; Isa
et al.
2004; Prasetyo
et al.
2005).Ultisol umumnya mempunyai struktur sedang hingga kuat, dengan bentuk gumpal bersudut (Rachim
et al.
1997; Isa
et al.
2004; Prasetyo
et al.
2005).Komposisi mineral pada bahan induk tanah mempengaruhi tekstur Ultisol.Bahan induk yang didominasi mineraltahan lapuk kuarsa, seperti pada batuangranit dan batu pasir, cenderung mempu-nyai tekstur yang kasar. Bahan induk yangkaya akan mineral mudah lapuk seperti batuan andesit, napal, dan batu kapur cenderung menghasilkan tanah dengantekstur yang halus.Ciri morfologi yang penting padaUltisol adalah adanya peningkatan fraksiliat dalam jumlah tertentu pada horizonseperti yang disyaratkan dalam
Soil Taxonomy
(Soil Survey Staff 2003).Horizon tanah dengan peningkatan liattersebut dikenal sebagai horizon argilik.Horizon tersebut dapat dikenali
 
dari fraksiliat hasil analisis di laboratorium maupundari penampang profil tanah. Horizonargilik umumnya kaya akan Al sehingga peka terhadap perkembangan akar ta-naman,
 
yang menyebabkan akar tanamantidak dapat menembus horizon ini danhanya berkembang di atas horizon argilik (Soekardi
et al.
1993).
SIFAT KIMIA
Tanah Ultisol umumnya mempunyai nilaikejenuhan basa < 35%, karena batas inimerupakan salah satu syarat untuk klasifikasi tanah Ultisol menurut
Soil Taxonomy
. Beberapa jenis tanah Ultisolmempunyai kapasitas tukar kation < 16cmol/kg liat, yaitu Ultisol yang mempunyaihorizon kandik.Reaksi tanah Ultisol pada umumnyamasam hingga sangat masam (pH 5
3,10),kecuali tanah Ultisol dari batu gampingyang mempunyai reaksi netral hingga agak masam (pH 6,80
6,50). Kapasitas tukar kation pada tanah Ultisol dari granit,sedimen, dan tufa tergolong rendahmasing-masing berkisar antara 2,90
7,50cmol/kg, 6,11
13,68 cmol/kg, dan 6,10
6,80cmol/kg, sedangkan yang dari bahanvolkan andesitik dan batu gampingtergolong tinggi (>17 cmol/kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapatanah Ultisol dari bahan volkan, tufa berkapur, dan batu gamping mempunyaikapasitas tukar kation yang tinggi(Prasetyo
et al 
. 2000; Prasetyo
et al 
. 2005;Tabel 2) Nilai kejenuhan Al yang tinggiterdapat pada tanah Ultisol dari bahansedimen dan granit (> 60%), dan nilai yangrendah pada tanah Ultisol dari bahanvolkan andesitik dan gamping (0%).Ultisol dari bahan tufa mempunyaikejenuhan Al yang rendah pada lapisanatas (5
8%), tetapi tinggi pada lapisan bawah (37
78%). Tampaknya kejenuhanAl pada tanah Ultisol berhubungan eratdengan pH tanah.
Tabel 1.Luas tanah Ultisol pada tingkat grup berdasarkan batuan pembentuk tanah.
Jenis tanah UltisolLuas berdasarkan batuan pembentuk tanah (ha) pada tingkat grupSedimenMetamorfVolkanPlutonikJumlahHapludults24.703.460185.5802.231.5204.770.48031.891.040Kandiudults3.816.6005.020.1008.836.700Palehumults3.138.1203.138.120Plintudults1.864.0001.864.000Paleudults1.420.5201.420.520Sumber: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (2000); data diolah.
 
 Jurnal Litbang Pertanian, 25(2), 2006 
41Kandungan hara pada tanah Ultisolumumnya rendah karena pencucian basa berlangsung intensif, sedangkan kan-dungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi berjalan cepat dansebagian terbawa erosi. Pada tanahUltisol yang mempunyai horizon kandik,kesuburan alaminya hanya bergantung pada bahan organik di lapisan atas.Dominasi kaolinit pada tanah ini tidak memberi kontribusi pada kapasitas tukar kation tanah, sehingga kapasitas tukar kation hanya bergantung pada kan-dungan bahan organik dan fraksi liat. Olehkarena itu, peningkatan produktivitastanah Ultisol dapat dilakukan melalui perbaikan tanah (ameliorasi), pemupukan,dan pemberian bahan organik.Peningkatan fraksi liat yang mem- bentuk horizon argilik pada tanah Ultisolcukup merugikan karena horizon ini akanmenghalangi aliran air secara vertikal,sebaliknya aliran horizontal meningkatsehingga memperbesar daya erosivitas.Pembentukan horizon argilik merupakan proses alami yang sulit dicegah, namunerosi yang terjadi dapat dihindari ataudikurangi dampaknya.Masalah Al umumnya terjadi padatanah Ultisol dari bahan sedimen. Bahansedimen merupakan hasil dari proses pelapukan (
weathering 
)
 
dan pencucian(
leaching 
)
 ,
 baik pelapukan dari bahanvolkan, batuan beku, batuan metamorf maupun campuran dari berbagai jenis batuan sehingga mineral penyusunnyasangat bergantung pada asal bahan yangmelapuk.Oleh karena itu, tanah Ultisol dari bahan sedimen sudah mengalami dua kali pelapukan, yang pertama pada waktu pembentukan batuan sedimen dan yangkedua pada wak 
-
tu pembentukan tanah.Dengan demikian ada kemungkinan bahwakandungan Al pada batuan sedimen sudahsangat tinggi. Kondisi ini akan berbeda bila tanah Ultisol terbentuk dari bahanvolkan dan batuan beku. Pada tanahtersebut Al hanya berasal dari pelapukan batuan bahan induknya. Kondisi ini jugamasih dipengaruhi oleh pH. Pada bahaninduk yang bersifat basa, pelepasan Altidak sebanyak pada batuan masam,karena pH tanah yang tinggi dapatmengurangi kelarutan hidroksida Al.Ultisol dari bahan sedimen mem- punyai kesuburan alami yang lebih rendahdaripada Ultisol dari bahan volkan atau batu kapur, karena bahan sedimen sudahmerupakan hasil perombakan bahan lainsehingga kandungan unsur haranya punrendah. Ultisol dari Kalimantan Selatandan Kalimantan Timur yang berkembangdari batuan sedimen batu pasir dan batuliat mempunyai nilai kapasitas tukar kationtanah 3
18 cmol
(+)
/kg, kejenuhan basa 3
9%, kejenuhan Al 33
95%, dan pH 3,70
5(Prasetyo dan Suharta 2000; Yatno
et al.
2000; Prasetyo
et al.
2001). Sementara itutanah Ultisol dari bahan volkan mempu-nyai nilai kapasitas tukar kation 13,80
25,49 cmol
(+)
/kg tanah, kejenuhan basa 4
Tabel 2.Beberapa sifat kimia tanah Ultisol yang terbentuk dari berbagai bahan induk tanah.
Jenis tanah UltisolKedalamanFraksi pHJumlahKejenuhan Kapasitas tukar kationliatH
2
OkationAlTanahLiat(cm)(%)(cmol (+) kg)(%) (cmol/kg)Typic Hapludults,0
18244,30,43896,5127,13sedimen
1)
18
46303,10,39916,1120,3746
72504,00,589410,7921,5872
98574,10,569312,0921,2198
121574,10.489513,6824,00Typic Paleudults,0
19794,74,04026,1733,13volkan andesitik 
2)
19
45884,95,39024,2327,5345
61875,17,91027,2431,3161
89855,08,64025,7630,3189
155745,311,20024,4433,03Typic Paleudults,0
16806,523,30032,3040,38 batu gamping
3)
16
29806,620,80030,6038,2529
49956,519,20023,9025,1649
74936,717,30022,9024,6274
117876,812,60019,4022,30117
161906,712,60017,5019,44Typic Kandiudults,0
21294,80,60727,5025,86granit
4)
21
35324,90,60664,5014,0635
56395,00,70632,907,4456
90414,90,70633,709,0290
125404,90,50875,4013,50125
150424,30,70645,4012,86150
180474,90,70645,4011,49Typic Paleudults,0
13176,04,3086,6038,82tufa
5)
13
37296,33,9056,2021,3837
65335,21,60376,1018,4865
150385,41,00786,8017,52Sumber:
1)
Prasetyo dan Suharta (2000),
2)
Prasetyo
et al.
(2005),
3)
Subagyo
et al.
(1986)
 ,
4)
Suharta dan Prasetyo (1986),
 
5)
Subardja (1986).

Activity (25)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Hilya Azizi liked this
master_tommy25 liked this
Nurul Ramadanah liked this
Dessy She Cuex'z liked this
Nayla Rahmi liked this
Icha Maghfiroh liked this
Egy Dala liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->