Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
39Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sistem Pengelolaan Lahan Kering Di Daerah Aliran Sungai Bagian Hulu

Sistem Pengelolaan Lahan Kering Di Daerah Aliran Sungai Bagian Hulu

Ratings:

4.93

(15)
|Views: 5,986 |Likes:
Published by daudsajo

More info:

Published by: daudsajo on Jan 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2013

 
162
 Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003
SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERINGDI DAERAH ALIRAN SUNGAIBAGIAN HULU
Amiruddin Syam
 Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Jalan A. Yani No. 70, Bogor 16161
ABSTRAK 
Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telahdilakukan melalui berbagai proyek. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani, serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Hasilkajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani, serta dapat menurunkan laju erosi. Tingkat adopsi teknologisecara parsial cukup tinggi, khususnya teknologi pola tanam, varietas unggul, budi daya tanaman pakan dan usahaternak, serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisisalternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif. Untuk mengadopsi paket teknologisecara utuh, para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerjakeluarga. Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikanupaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Pada tahap awal, pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi, dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut.
Kata kunci:
Lahan kering, pengelolaan daerah aliran sungai, pengelolaan lahan
ABSTRACT
 Dry land management at upstream part of watershed area
Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carriedout through some projects. The general objectives of the projects were to increase land productivity, and farmers’income, and to support farmers’ participation in land and water resource conservation. The results of theassessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop productivity andfarmers’ income, and decrease erosion rate. The level of technology adoption was partially high enough, especiallycropping pattern, improved variety, fodder crop culture, animal husbandry, and vegetative land conservation. Theresults were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information.Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor.Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementingland and water resource conservation. In early stage, the government needs to improve quality of human resourcesand through the provision of subsidy. At the development stage, government needs to encourage private sector indry land investment.
Keywords:
Uplands, watershed management, land management
L
ahan kering di Indonesia mem-punyai potensi yang sangat besar untuk pembangunan pertanian. Namun, produktivitas umumnya rendah, kecualisistem pertanian lahan kering dengantanaman tahunan/perkebunan. Padausaha tani lahan kering dengan tanam-an pangan semusim, produktivitasrelatif rendah serta menghadapi masalahsosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana 1994).Lahan kering terutama di daerah aliransungai (DAS) bagian hulu umumnyamenghadapi masalah kerusakan ling-kungan yang makin parah sehinggamenurunkan produktivitas lahan, me-ningkatkan erosi dan sedimentasi, sertamemacu meluasnya banjir pada musimhujan. Masalah tersebut memerlukan perhatian serius karena dapat mengham- bat pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi pangan.Upaya pemerintah untuk menanganimasalah kerusakan lingkungan padalahan kering di DAS sebenarnya sudahdimulai sebelum perang kemerdekaan.
 
 Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003
163Pada tahun 1950, pemerintah meng-anjurkan petani untuk menanam pohon- pohonan secara besar-besaran, dan padatahun 1967 mulai dianjurkan untuk membuat teras bangku (DHV Consultants1990). Namun, upaya tersebut belum berhasil. Luas lahan kritis yang padatahun 1980 mencapai 6.936.408 ha (BiroPusat Statistik 1981) hanya turun men- jadi 6.400.400 ha pada tahun 1994 (BiroPusat Statistik 1994) atau turun 7,70%selama 14 tahun. Namun, perbaikantersebut terjadi di luar kawasan hutan(hanya 32%). Di dalam kawasan hutan,luas lahan kritis justru makin meningkat(16,30%) dalam periode yang sama.Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS cukup serius. Sukmana
et al.
(1988) mengemukakan bahwa, upaya pemerintah untuk mengatasi masalahtersebut dimulai pada awal tahun 1970-anmelalui proyek DAS Solo, kemudiandisusul Proyek Citanduy I dan II, Proyek Wonogiri, dan Proyek Bangun Desa.Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertani-an Lahan Kering dan Konservasi Tanah(P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama
Upland Agriculture and Conservation Project 
(UACP) untuk menangani lahankritis di DAS Brantas (Jawa Timur) danDAS Jratunseluna (Jawa Tengah), ke-mudian
 National Watershed Management and Conservation Project 
(NWMKP)yang dimulai tahun 1995 dan berakhir  bulan September 1999 (Abdurachman danAgus 2000).Tulisan ini bertujuan untuk mem- bahas permasalahan DAS bagian hulu,mengemukakan program penanggulangandan implementasinya, serta mengiden-tifikasi kendala pengembangan dan caramenanggulanginya.
KONDISI LAHAN KERINGDI DAERAH ALIRANSUNGAI
Lahan kering di DAS kawasan baratIndonesia pada umumnya mempunyaicurah hujan tinggi, topografi curam, danformasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi. Selain itu, tekanankepadatan penduduk yang terus me-ningkat, pola tanam yang kurang baik,lahan usaha tani sempit, serta keadaanfisik lingkungan dan sosial ekonomimasyarakat petani yang sangat heterogenmenyebabkan pengelolaan lahan keringdi kawasan DAS makin kompleks (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanahdan Air 1985).Dalam upaya menangani lahan keringyang tergolong kritis, pemerintah telahmenetapkan 80 DAS yang tergolong kritiskarena erosi. Dari 80 DAS bermasalahtersebut, 36 DAS tergolong DAS prioritas,dan 11 DAS di antaranya terdapat diPulau Jawa, seperti DAS Citarum,Cimanuk, Citanduy, Solo, Jratunseluna,dan Brantas (Sutadipradja
et al.
1986).Luas lahan kritis di kawasan DAS ter-sebut diperkirakan meningkat rata-rata400.000 ha/tahun jika tidak ada upayarehabilitasi lahan dan konservasi tanahyang memadai. Peningkatan luas lahankritis terutama disebabkan oleh penge-lolaan yang tidak benar, antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuaidengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanahdan air.Hardianto
et al.
(1992) mengemuka-kan bahwa umumnya petani di wilayahDAS di Jawa merupakan pemilik- penggarap dengan luas pemilikan lahan0,30–2 ha. Lahan tersebut umumnya berupa areal pemukiman/pekarangan,tegalan, dan perbukitan. Tegalan sebagian besar sudah diteras bangku, sedangkan perbukitan umumnya berupa lahan tandusyang terlantar. Tegalan digunakan untuk  budi daya tanaman pangan, pekaranganuntuk tanaman tahunan, dan perbukitanuntuk tanaman penghasil kayu. Tanaman pangan yang diusahakan adalah jagung,ubi kayu, padi gogo, kedelai, kacangtanah, kacang hijau, dan kacang tunggak.Di samping itu, petani menanam kacanggude, koro benguk, dan koro pedangsebagai tanaman sela. Tanaman tahunanyang dominan adalah kelapa, melinjo, petai, mangga dan pisang, sedangkantanaman sayuran yang diusahakan adalahcabai, bawang merah, kacang panjang,mentimum, dan tomat. Selain itu, jugadiusahakan tanaman penghasil bahanindustri seperti kenanga dan randu, penghasil kayu seperti jati, sengon,akasia, johar, dan mahoni, serta tanaman penghasil pakan ternak seperti lamtoro,turi, kaliandra, glirisidia, lamtoro merah,dan flemingia.Lebih lanjut Hardianto
et al.
(1992)menjelaskan bahwa usaha ternak me-rupakan kegiatan yang cukup pentinguntuk menambah pendapatan, menyedia-kan tenaga kerja dalam pengolahan tanah,dan menghasilkan pupuk organik. Jenisternak yang banyak dipelihara adalah sapi peranakan ongole (PO), kambing kacang,kambing peranakan etawa (PE), dombagibas, dan ayam buras. Jenis pakan yangdiberikan berupa campuran rumput gajah,rumput setaria ditambah hijauan tanamantahunan dan limbah tanaman pangan.KEPAS (1985) mengidentifikasi permasalahan di daerah lahan keringsebagai berikut:1)Upaya pemerintah dalam pembangun-an pertanian di masa lampau terlaludipusatkan pada padi sawah, sedang-kan lahan kering (termasuk DAS bagian hulu) kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak memperolehkeuntungan dari program-program pembangunan yang disponsori pe-merintah. Satu-satunya programkhusus untuk lahan kering adalah program penghijauan dan reboisasiuntuk tanah negara. Namun, programini pun dihadapkan kepada berbagaikesulitan yang antara lain disebabkanoleh relatif kurangnya perhatian,sehingga kondisi infrastruktur yangada jauh lebih buruk daripada didaerah dataran rendah.2)Di daerah lahan kering, potensi erosicukup tinggi karena intensitas hujancukup tinggi, lereng curam, dan polatanam kurang baik. Erosi yang berlangsung lama telah menurunkantingkat kesuburan tanah dan bahkanmengurangi atau menghilangkan la- pisan olah tanah.3)Modal dan motivasi penduduk ter- batas akibat rendahnya pendapatandan produktivitas lahan. Di sampingitu, tipe penguasaan lahan berhubung-an erat dengan sistem usaha tanidan konservasi tanah di daerah lahankering. Pemilikan lahan yang relatif sempit serta sistem sewa dan sakapikut memberikan dampak negatif terhadap sistem usaha tani berwawas-an lingkungan.4)Kegiatan penyuluhan dihadapkankepada kendala sosial budaya dan prasarana/sarana perhubungan se-hingga penyuluhan relatif kurang.Keterampilan petani umumnya hanya bersifat kebiasaan yang diwariskandan berorientasi pada subsistensi,sedangkan program penyuluhanyang ada seperti penghijauan, per-kebunan, dan kehutanan hanya ber-kaitan dengan aspek tertentu dankurang menekankan pada partisipasi petani.
 
164
 Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003
USAHA KONSERVASI YANGSUDAH DILAKUKANUpaya Departemen Terkait
Upaya mengatasi masalah lahan kritis diDAS perlu memperhatikan beberapa hal,antara lain sumber terjadinya lahan kritis,tingkat kekritisan lahan, jenis tanah daniklim, kondisi sosial ekonomi, dan tingkat bahaya erosi. Upaya itu perlu diformulasi-kan dengan tepat dalam tiga komponen penanganan, yaitu perbaikan teknologi,kebijakan yang tepat, dan partisipasimasyarakat secara penuh (Nelson 1991).Berdasarkan tingkat kekritisan lahan,selanjutnya ditetapkan prioritas pe-nanganan. Dengan memperhatikan dam- pak yang lebih luas dan kemungkinankeberhasilan yang besar, maka prioritasutama penanganan adalah lahan dengantingkat kekritisan ringan, yaitu lahanyang berpotensi kritis dan semikritis.Konservasi ditujukan untuk mencegahterjadinya degradasi lebih lanjut danmenghindari hilangnya lahan produktif.Prawiradiputra
et al.
(1995) men- jelaskan bahwa pengelolaan DAS diIndonesia merupakan kegiatan multi-sektoral sebagaimana dituangkan dalamProgram Inpres Reboisasi dan Peng-hijauan (Inpres No. 8/1976). Dalam Inprestersebut dinyatakan bahwa ada enaminstansi pemerintah pusat yang ber-tanggung jawab atas pelaksanaan prog-ram tersebut, yaitu Departemen Dalam Negeri (instansi pimpinan), DepartemenKehutanan (perencanaan dan pemantau-an), Departemen Keuangan (pengawaskeuangan), Departemen Pertanian (ban-tuan teknis), Departemen Pekerjaan Umum(bantuan teknis), dan Bappenas.Pencetusan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) di Gunung Mas, Bogor tahun 1961 ternyata tidak berhasil meng-hentikan perluasan lahan kritis. Padatahun 1975, lahan kritis di Indonesiamencapai 10.751.000 ha, tahun 1988 turunmenjadi 9.731.000 ha, pada tahun 1993naik 22% (dibandingkan kondisi 1975)menjadi 13.218.970 ha, atau setara luasPulau Jawa. Padahal program reboisasidan penghijauan bertujuan untuk meng-hentikan proses pengkritisan lahan danmengurangi jumlah lahan kritis. Untuk meningkatkan usaha reboisasi dan peng-hijauan, pemerintah mencanangkanGerakan Satu Juta Pohon (DirektoratJenderal Reboisasi dan RehabilitasiLahan 1985).Penghijauan merupakan cara kon-servasi lahan yang efektif khususnyauntuk menjaga fungsi hidrologis lahan diDAS hulu. Erosi dan aliran permukaanmasing-masing dapat menurun 95,80%dan 76,90% (Pakpahan
et al 
. 1992). Namunkarena penghijauan lebih banyak ber-tujuan melestarikan sumber daya lahandibanding kepentingan petani, maka pelaksanaannya banyak menemui ham- batan. Menurut Pusat PengembanganAgribisnis (1991), tingkat adopsi terasmelalui rehabilitasi lahan dan konservasitanah (RLKT) pada daerah unit pelestariansumber daya alam (UPSA) masih rendahyaitu 33%. Sejumlah petani (20%) sudahmengadopsinya tetapi masih perluditingkatkan, sedangkan sisanya belummengadopsi upaya RLKT tersebut.Proyek Pertanian Lahan Kering danKonservasi Tanah (P2LK2T) yang lebihdikenal dengan nama UACP, jugamempunyai tujuan pokok bukan semata-mata meningkatkan penghasilan petani,tetapi juga melindungi infrastruktur (waduk, saluran irigasi) di bagian hilirnya.Daerah kerja UACP meliputi lahan keringdengan kemiringan 15% dan erosi sudahmengancam produktivitas lahan. Melaluikegiatan UACP dilakukan penyempur-naan teras bangku dengan tanaman penguat teras yang selain berfungsi untuk menstabilkan lahan juga untuk me-nyediakan pakan ternak. Proyek tersebutdikelola secara lintas sektoral denganDepartemen Dalam Negeri selaku pelaksana utama (
leading agency
)(Proyek Penelitian Penyelamatan HutanTanah dan Air 1985).Kebijakan pengembangan lahankering di DAS bagian hulu berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No.175/Kpts/RC.220/4/1987 tentangPedoman Pola Pembangunan di DAS yangdalam pelaksanaannya perlu memper-hatikan kesesuaian lahan, kemiringanlahan, kultur teknis, dan asas-asaskonservasi yang berwawasan lingkungan(Departemen Pertanian 1987). Di JawaTengah, kebijakan tersebut telah di- jabarkan dalam berbagai petunjuk  pelaksanaan yang berisikan strategi,langkah-langkah, dan kegiatan pem- binaan.
Penelitian dan Pengembangan
Pengelolaan lahan kering di DAS bagianhulu perlu memperhatikan konservasitanah dan air untuk mencegah penurunan produktivitas lahan akibat erosi oleh air hujan (Suwardjo 1981). Di Indonesia yangmemiliki iklim basah, pada umumnyaerosi terjadi karena air hujan (Sofijah danSuwardjo 1979). Sehubungan dengan itu, penanganan lahan kering di DAS Brantasdan Jratunseluna bagian hulu dilakukandengan usaha tani konservasi yangmengkombinasikan teknik konservasisecara mekanik dan vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Proyek PenelitianPenyelamatan Hutan, Tanah, dan Air 1990). Sasarannya adalah meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani, menurunkan laju erosi, sertameningkatkan partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air.Empat model usaha tani konservasi yangdiuji yaitu:
Model A
: Sistem usaha tani yang di-lakukan oleh petani sebagai pem- banding.
Model B
: Sistem usaha tani konservasiteras bangku, ditanami tanaman pangan dan tahunan pada bidangolah, rumput pakan pada bibir dantampingan teras, serta melibatkanternak.
Model C
: Sistem usaha tani konservasiteras gulud, ditanami tanaman pangandan tanaman tahunan pada bidangolah, rumput dan leguminosa
 
 pohon pada guludan, dan ternak.
Model D
: Sistem usaha tani konservasiteras individu, ditanami tanamantahunan, rumput, dan leguminosa pohon, serta ternak.Kesesuaian ketiga model usaha taniintroduksi (B,C,D) didasarkan padakemiringan lahan, kedalaman tanah,kepekaan terhadap erosi, dan pola usahatani. Model B dan C diarahkan untuk memperbaiki usaha tani di tegalan, ataukemiringan lahan 15
45%, sedangkanmodel D untuk memulihkan lahan per- bukitan yang tandus dengan kemiringanlahan lebih besar dari 45% .Tabel 1 menyajikan produksi tanaman pangan, tanaman tahunan, dan tanaman pakan pada setiap model usaha tani. Duamodel introduksi (B dan C) menghasilkan produktivitas usaha tani lebih tinggidibanding model petani (model A). Padamodel B dan C, hasil panen selaindiperoleh dari tanaman pangan juga daritanaman tahunan dan pakan ternak,sehingga secara kumulatif memberikannilai produksi dan pendapatan bersihlebih tinggi (Tabel 2). Pada usaha tani

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->