Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perbedaan Antara Suap Dengan Gratifikasi

Perbedaan Antara Suap Dengan Gratifikasi

Ratings: (0)|Views: 233|Likes:
Published by jacobmassang

More info:

Published by: jacobmassang on Jul 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/11/2013

pdf

text

original

 
Perbedaan Antara Suap dengan Gratifikasi
Bagaimanakah batasan dan perbedaan yang jelas antara suap dengan gratifikasi serta faktor apayang mendasari adanya perumusan mengenai delik gratifikasi tersebut? Terima kasih. 
Pengaturan dan batasan/definisi suap dan gratifikasi beserta ancaman sanksi bagi masing-masing tindak pidanatersebut kami sajikan dalam tabel di bawah ini:
 
 
PerbedaanSuapGratifikasiPengaturan
1.
 
Wetboek van Strafrecht, Staatsblad 1915 No73)
2.
 
3.
 
 
 
Peraturan Menteri Keuangan Nomo03/PMK.06/2011 tentang Pengelolaan BarangMilik Negara yang Berasal Dari BarangRampasan Negara dan Barang Gratifikasi.
Definisi
Barangsiapa
 
menerima
 
sesuatu atau janji,sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkansupaya ia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatudalam tugasnya, yang berlawanan dengankewenangan atau kewajibannya yang menyangkutkepentingan umum, dipidana karena menerima suapdengan pidana penjara selama-lamanya 3 (tiga)tahun atau denda sebanyak-banyaknyaRp.15.000.000.- (lima belas juta rupiah) (
Pasal 3UU 3/1980
).Pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberianuang, barang, rabat (discount), komisi, pinjamantanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, danfasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yangditerima di dalam negeri maupun di luar negeri danyang dilakukan dengan menggunakan saranaelektronik atau tanpa sarana elektronik (
PenjelasanPasal 12B UU Pemberantasan Tipikor
)
SanksiUU 11/1980:
Pidana penjara selama-lamanya 3 (tiga) tahun ataudenda sebanyak-banyaknya Rp.15.000.000.- (lima belas juta rupiah) (
Pasal 3 UU 3/1980
).
 
KUHP:
 pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratusrupiah (
Pasal 149
)Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20(dua puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikitRp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)(
Pasal 12B ayat [2] UU Pemberantasan TipikoR 
)
 
 
UU Pemberantasan Tipikor:
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1(satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yangmenerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebutdiberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janjitersebut ada hubungan dengan jabatannya (
Pasal 11UU Pemberantasan Tipikor
).
 
Jadi, selain pengaturan suap dan gratifikasi berbeda, definisi dan sanksinya juga berbeda. Dari definisi tersebut diatas, tampak bahwa suap dapat berupa janji, sedangkan gratifikasi merupakan pemberian dalam arti luas dan bukan janji. Jika melihat pada ketentuan-ketentuan tersebut, dalam suap ada unsur “mengetahui atau patut dapat menduga”sehingga ada intensi atau maksud untuk mempengaruhi pejabat publik dalam kebijakan maupun keputusannya.Sedangkan untuk gratifikasi, diartikan sebagai pemberian dalam arti luas, namun
dapat dianggap sebagai suap
apabila
berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya
.
 
Jadi, dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia memang masih belum terlalu jelas pemisahan antara perbuatan pidana suap dan perbuatan pidana gratifikasi karena perbuatan gratifikasi dapat dianggap sebagai suap jika diberikan terkait dengan jabatan dari pejabat negara yang menerima hadiah tersebut.Hal tersebut berbeda dengan pengaturan di Amerika yang mana antara suap dan gratifikasi yang dilarang dibedakan.Perbedaannya adalah jika dalam gratifikasi yang dilarang, pemberi gratifikasi memiliki maksud bahwa pemberianitu
sebagai penghargaan
atas dilakukannya suatu tindakan resmi, sedangkan dalam suap pemberi memiliki maksud(sedikit banyak)
untuk mempengaruhi suatu tindakan resmi
(sumber: “
 Defining Corruption: A Comparison of the
 
Substantive Criminal Law of Public Corruption in the United States and the United Kingdom
”, Greg Scally: 2009).Sehingga jelas pembedaan antara suap dan gratifikasi adalah pada
tempus
(waktu) dan intensinya (maksudnya).Mengenai faktor apa yang mendasari adanya perumusan mengenai delik gratifikasi, kami merujuk pada salah satu penjelasan yang diamuat dalam
 yang diterbitkan
Komisi PemberantasanKorupsi
(KPK). Di dalam buku tersebut (hal. 1) dijelaskan sebagai berikut:
 
Terbentuknya peraturan tentang gratifikasi ini merupakan bentuk kesadaran bahwa gratifikasi dapat mempunyai dampak yang negatif dan dapat disalahgunakan, khususnya dalam rangka penyelenggaraan pelayanan publik, sehingga unsur ini diatur dalam perundang-undangan mengenai tindak pidana korupsi. Diharapkan jika budaya pemberian dan penerimaan gratifikasi kepada/oleh Penyelenggara Negara dan Pegawai Negeri dapat dihentikan, maka tindak pidana pemerasan dan suap dapat diminimalkan atau bahkandihilangkan.
 
Di dalam buku tersebut juga dijelaskan contoh-contoh pemberian yang dapat dikategorikan sebagai gratifikasi yangsering terjadi, yaitu (hal. 19):1.
 
Pemberian hadiah atau parsel kepada pejabat pada saat hari raya keagamaan, oleh rekanan atau bawahannya2.
 
Hadiah atau sumbangan pada saat perkawinan anak dari pejabat oleh rekanan kantor pejabat tersebut3.
 
Pemberian tiket perjalanan kepada pejabat atau keluarganya untuk keperluan pribadi secara cuma-cuma4.
 
Pemberian potongan harga khusus bagi pejabat untuk pembelian barang dari rekanan5.
 
Pemberian biaya atau ongkos naik haji dari rekanan kepada pejabat6.
 
Pemberian hadiah ulang tahun atau pada acara-acara pribadi lainnya dari rekanan7.
 
Pemberian hadiah atau souvenir kepada pejabat pada saat kunjungan kerja8.
 
Pemberian hadiah atau uang sebagai ucapan terima kasih karena telah dibantuDemikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:
1.
 
Wetboek van Strafrecht, Staatsblad 1915 No 73);2.
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->