Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
22Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hiwalah - Rhesa Yogaswara

Hiwalah - Rhesa Yogaswara

Ratings:

5.0

(4)
|Views: 2,798 |Likes:
Published by rhesayogaswara
Hiwalah merupakan pengalihan hutang dari orang yang berutang kepada orang
lain yang wajib menanggungnya. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atau
hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah ulama, hiwalah adalah
pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan
muhal 'alaih (orang yang berkewajiban membayar hutang).
Hiwalah merupakan pengalihan hutang dari orang yang berutang kepada orang
lain yang wajib menanggungnya. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atau
hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah ulama, hiwalah adalah
pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan
muhal 'alaih (orang yang berkewajiban membayar hutang).

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: rhesayogaswara on Jan 12, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2013

 
Makalah Fiqh Muamalah
 
ijk
KONSEP AKAD
 HIWALAH 
DALAM FIQH MUAMALAH
Oleh:
Rhesa Yogaswara207000377Magister Bisnis dan Keuangan IslamUniversitas ParamadinaJakarta2008
 
 KONSEP AKAD HIWALAH DALAM FIQH MUAMALAH – Rhesa Yogaswara
2
I. PENGERTIAN
Kata
 Hawalah
, huruf 
haa’ 
dibaca
 fathah
atau kadang-kadang dibaca
kasrah
, berasal dari kata
tahwil 
yang berarti
intiqal 
(pemindahan) atau dari kata
ha’aul 
(perubahan). Orang Arab biasa mengatakan
haala ’anil ’ahdi
, yaitu berlepas diri daritanggung jawab. Sedang menurut
 fuqaha
, para pakar fiqih,
hawalah
adalah pemindahan kewajiban melunasi hutang kepada orang lain.
 Hiwalah
merupakan pengalihan hutang dari orang yang berutang kepada oranglain yang wajib menanggungnya. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atauhak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah ulama,
hiwalah
adalah pemindahan beban hutang dari
muhil 
(orang yang berhutang) menjadi tanggungan
muhal 'alaih
(orang yang berkewajiban membayar hutang).
II. DASAR HUKUM
 HIWALAH 
 
Islam membenarkan
hiwalah
dan membolehkannya karena ia diperlukan.Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
ْﻊِﺒﱠﺘَﻴْﻠَﻓ 
 
ﻲِﻠَﻣ 
 
ﻰَﻠَﻋ
 
ْﻢُآُﺪَﺣَأ
 
َﻊِﺒْﺗُأ
 
اَذِﺈَﻓ 
 
،ٌﻢْﻠُﻇ 
 
ﻲِﻨَﻐْﻟا
 
ُﻞْﻄَﻣ 
.
“Menunda-nunda pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Maka, jika seseorang di antara kamu dialihkan hak penagihan piutangnya (dihawalahkan) kepada pihak yang mampu, terimalah”
(HR. Bukhari).Pada hadis ini, Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang yangmenghutangkan, jika orang yang berhutang meng-
hiwalah
-kan kepada orang yangkaya dan berkemampuan, hendaklah ia menerima
hiwalah
tersebut dan hendaklah iamengikuti (menagih) kepada orang yang di-
hiwalah
-kan (
muhal 'alaih
), dengandemikian haknya dapat terpenuhi (dibayar).Dan Menurut hadist riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf:
ﺎًﻃْﺮَﺷ 
 
ﻻِإ
 
ْﻢِﻬِﻃوُﺮُﺷ 
 
ﻰَﻠَﻋ
 
َنﻮُﻤِﻠْﺴُﻤْﻟاَو 
 
ﺎًﻣاَﺮَﺣ 
 
ﻞَﺣَأ
 
ْوَأ
 
ًﻻَﻼَﺣ 
 
َمﱠﺮَﺣ 
 
ﺎًﺤْﻠُﺻ 
 
ﻻِإ
 
َﻦﻴِﻤِﻠْﺴُﻤْﻟا
 
َﻦْﻴَﺏ 
 
ٌﺰِﺋﺎَﺟ 
 
ُﺢْﻠﱡﺼﻟَا ﺎًﻣاَﺮَﺣ 
 
ﻞَﺣَأ
 
ْوَأ
 
ًﻻَﻼَﺣ 
 
َمﱠﺮَﺣ 
 
“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum musliminterikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”
Dan menurut
 Ijma
 para Ulama, akad
hiwalah
telah disepakati boleh untuk dilakukan. Hal ini didasari kepada kaidah fiqh:
ﺎَﻬِﻤْیِﺮْﺤَﺗ 
 
ﻰَﻠَﻋ
 
ٌﻞْﻴِﻟَد 
 
لُﺪَی 
 
ْنَأ
 
ﻻِإ
 
ُﺔَﺣﺎَﺏِﻹْا
 
ِتَﻼَﻣﺎَﻌُﻤْﻟا
 
ﻲِﻓ 
 
ُﻞْﺻَﻷَا
.
“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
 
 KONSEP AKAD HIWALAH DALAM FIQH MUAMALAH – Rhesa Yogaswara
3
ُلاَﺰُﻳ 
 
ُرَﺮﱠﻀﻟَا
 
“Bahaya (beban berat) harus dihilangkan.”
III. RUKUN DAN SYARAT-SYARAT DALAM
 HIWALAH 
 
Dalam hal ini, rukun akad
hiwalah
adalah
muhil 
, yakni orang yang berhutangdan sekaligus berpiutang,
muhal 
, yakni orang berpiutang kepada
muhil.
Dan
muhal ‘alaih
, yakni orang yang berhutang kepada
muhil 
dan wajib membayar hutang kepada
muhal 
,
muhal bih,
yakni hutang
muhil 
kepada
muhal 
, dan
 sighat 
(ijab-qabul),Untuk sahnya
hiwalah
disyaratkan hal-hal berikut: pertama, relanya pihak 
muhil 
dan
muhal 
tanpa
muhal 'alaih
 berdasarkan dalil kepada hadis di atas. RasulullahSAW telah menyebutkan kedua belah pihak, karenanya
muhil 
yang berhutang berkewajiban membayar hutang dari arah mana saja yang sesuai dengankeinginannya. Dan karena
muhal 
mempunyai hak yang ada pada tanggungan
muhil 
,maka tidak mungkin terjadi perpindahan tanpa kerelaannya.Kedua, samanya kedua hak, baik jenis maupun kadarnya, penyelesaian, tempowaktu, serta mutu baik dan buruk. Maka tidak sah
hiwalah
apabila hutang berbentuk emas dan di-
hiwalah
-kan agar ia mengambil perak sebagai penggantinya. Demikian pula jika sekiranya hutang itu sekarang dan di-
hiwalah
-kan untuk dibayar kemudian(ditangguhkan) atau sebaliknya. Dan tidak sah pula
hiwalah
yang mutu baik dan buruknya berbeda atau salah satunya lebih banyak.Ketiga, stabilnya hutang. Jika peng-
hiwalah
-an itu kepada pegawai yanggajinya belum lagi dibayar, maka
hiwalah
tidak sah. Keempat, kedua hak tersebutdiketahui dengan jelas. Apabila
hiwalah
 berjalan sah, dengan sendirinya tanggungan
muhil 
menjadi gugur. Andaikata
muhal 'alaih
mengalami kebangkrutan ataumeninggal dunia,
muhal 
tidak boleh lagi kembali kepada
muhil 
. Demikianlah menurut pendapat
 jumhur 
(kebanyakan) ulama.Berikut adalah proses dalam akad
 Hiwalah
 berdasarkan definisinya
:
Gambar 1. Proses akad Hiwalah berdasarkan definisinya
IV. BERAKHIRNYA
 HIWALAH 
Apabila kontrak 
hiwalah
telah terjadi, maka tanggungan
muhil 
menjadi gugur.Jika
muhal’alaih
 bangkrut (pailit) atau meninggal dunia, maka menurut pendapatJumhur Ulama,
muhal 
tidak boleh lagi kembali menagih hutang itu kepada
muhil 
.Menurut Imam Maliki, jika
muhil 
“menipu”
muhal 
, di mana ia meng
hiwalah
kankepada orang yang tidak memiliki apa-apa (fakir), maka
muhal 
 boleh kembali lagimenagih hutang kepada
muhil 
.
V. FATWA MUI
 HIWALAH 
 
Seiring dengan berkembangnya institusi keuangan Islam di Indonesia, makasuatu aturan hukum turut pula dikembangkan untuk melegalisasi serta melindungi

Activity (22)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Tyoo Setiadi liked this
Rifa Punya added this note
suka
Ali Rohman Nst liked this
Mahfud Breng liked this
Subur Ferry liked this
Rofi Chaidar liked this
Sumarlin Marlin liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->