2
Gambar 1. Rongga amnion (1) didalam rongga korion (2)Selain berkaitan dengan usia gestasi, volume cairan amnion juga berhubungan denganberat janin dan berat plasenta.(
Queenan JT, 1972
).Pada trimester kedua dan ketiga dapat dilihat adanya partikel-partikel ekhogenik didalamcairan amnion. Partikel-partikel tersebut adalah epitel-epitel yang terlepas dari tubuh janin danverniks kaseosa (
G. Weber et al, 2005
).
Produksi cairan amnion
Teori tentang produksi cairan amnion hingga saat ini masih belum begitu memuaskan. Padaawalnya produksi tersebut dilakukan oleh epitel selaput amnion, kemudian pada kehamilanselanjutnya diproduksi oleh ginjal janin (
Abramovich DR, 1970; Wallenburg HCS, 1977
).Umbilikus dan selaput amnion berperan sangat penting dalam proses pertukaran air dan elektrolityang berkesinambungan, sedangkan proses menelan dan pembentukan urin merupakan prosesyang intermiten (
Wallenburg HCS, 1977
).Pada kehamilan 12 minggu sudah dapat dideteksi adanya urin yang bersifat hipotonik (
Lind T, 1981
). Produksi urine 24 jam pada kehamilan 18 minggu sekitar 7 – 17 ml (
Abramovich DR et al, 1979
). Luaran (
output
) harian urine terus meningkat sesuai dengan pertambahan usia gestasisehingga mencapai 600 – 800 ml pada akhir kehamilan aterm.
Regulasi volume cairan amnion
Volume cairan amnion diatur melalui mekanisme proses menelan, proses aspirasi, pertukaranmelalui kulit, dan volume plasma ibu. Proses menelan merupakan faktor penting dalam regulasivolume cairan amnion, dan sudah dapat dilihat mulai kehamilan 12 minggu (
Abramovich DR et al,1979
). Kemampuan janin menelan meningkat sesuai usia gestasi, mencapai 200 – 450 ml/haripada kehamilan aterm (
Pritchard JA, 1969
). Diperkirakan sekitar 50% produksi urine harian janindieliminasi melalui proses menelan.Volume cairan amnion juga diregulasi oleh janin melalui proses aspirasi. Kapiler-kapiler pada kulit janin juga berfungsi sebagai sarana pertukaran zat dan proses tersebut berakhir setelah kulit mengalami keratinisasi lengkap yaitu sekitar kehamilan 24 minggu. Pada saattersebut, kulit menjadi tidak permeabel terhadap air dan elektrolit.
Genbrane-Youmes
dkk (1986)menyatakan bahwa proses transfer melalui pembuluh darah umbilikus berperan didalam produksicairan amnion.
Goodlin
dkk (1983) menemukan bahwa produksi cairan amnion pada usia gestasi 29 – 36minggu tergantung pada peningkatan volume plasma ibu dan pemberian cairan untukmeningkatkan volume plasma ibu dapat mengatasi oligohidramnion,
1 2