Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Fenomena Hubungan Debit Air Dan Kadar Zat Pencemar Dalam Air Sungai ( Studi Kasus Sub DPS Citarum Hulu)

Fenomena Hubungan Debit Air Dan Kadar Zat Pencemar Dalam Air Sungai ( Studi Kasus Sub DPS Citarum Hulu)

Ratings: (0)|Views: 129 |Likes:
Published by Cindhy Ade Hapsari

More info:

Published by: Cindhy Ade Hapsari on Jul 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2013

pdf

text

original

 
JLP. Vol. 17. No. 52, Th. 2003
 
1
 ___________________________________________________ * Ajun Peneliti Madya Bid. Lingkungan Keairan** Ahli Peneliti Utama Bid. Lingkungan Keairan
 
FENOMENA HUBUNGAN DEBIT AIR DAN KADAR ZATPENCEMAR DALAM AIR SUNGAI (STUDI KASUS: SUBDPS CITARUM HULU )
Oleh :Eko W. Irianto*), Badruddin Machbub**)
 ABSTRACT 
The relationship between fluctuation of river discharge and pollution level should be assessed, in order to get  pollution control more realistically and appropriate with the hydrological characteristics. This research held in upper  part of Citarum River has shown that there is significant affect by river discharge to the content of Total Dissolved Solids, BOD, COD, DO, detergent, Nitrogen and Phosphorous. In addition, there is a general phenomena, as predicted,that the higher discharge, until the certain value, cause reduction of the pollutant content originated from point sourcebecause of the dilution effect. However, even in the high water, the content of pollutant parameters is relativelyconstant, except detergent The empirical equation calculated from the relationship between discharge and pollutantscontent is C=(a/Q)+ b. The Flooding discharge affect to the increase of Nitrogen Parameter caused by the soierosion. Same phenomena, predicted, also happened in the other river, which is polluted by domestics, industries,agriculture, livestock, and heavy erosion. Therefore, river discharge should be measured when the water qualitymonitoring is being done in order to improve its assessment. The upper part of Citarum contribute the pollutant load into Saguling Reservoir until BOD=280 tones/day, COD=360 tones/day, Nitrogen= 85 tones/day, and  Phosphorous=7,7 tones/day. Those conditions initiate euthrophication process in the reservoir beside the other  sources.
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Permasalahan pencemaran air di Indonesiakhususnya pada Sungai Citarum bagian hulu cenderungmakin berat, sedangkan upaya pengendaliannya belumterprogramkan dengan baik, antara lain program yang penting adalah pemantauan kualitas air. Namun hasil pemantauan kualitas air tersebut tidak akan banyak manfaatnya apabila tidak disertai kajian analisis datayang akurat, agar dapat dilakukan langkah-langkah pengelolaan air dan pengendalian pencemaran air yangterpadu dan tepat sasaran.Pemantauan kualitas air pada sungai perlu disertaidengan pengukuran atau pencatatan debit air, agar analisis hubungan parameter pencemaran air debit badan air sungai dapat dikaji untuk keperluan pengendalian pencemarannya.Diharapkan dengan terungkapnya hubungan debitsungai dengan paramater-parameter pencemaran air,maka dapat dikaji upaya pengendalian pencemaran air yang lebih realistis dengan karakteristik hidrologi dandaya tampung beban pencemarannya .
2. Tujuan
Tujuan dari studi ini adalah kajian hubungan antarakuantitas dan kualitas air khususnya parameter organik dan nutrien dalam air sungai yang tercemar. Lokasi penelitian dipilih S.Citarum hulu, agar dapatmemberikan masukan analisis data yang lebih baik dalam hal pengelolaan kualitas air sungai tersebut, yaituyang lebih korelatif tentang kemampuan dan beban parameter pencemar yang memasuki Sungai Citarum.
3. Manfaat
Hasil penelitian ini selanjutnya akan dapatdigunakan untuk melakukan pengelolaan kualitas air sungai Citarum, khususnya penyusunan baku-mutu air yang lebih realistis sesuai dengan karakteristik sungai.
 
JLP. Vol. 17. No. 52, Th. 2003
 
2
4. Metodologi
Penelitian ini menggunakan data kuantitas dankualitas air pada pos Nanjung yang merupakan masukanWaduk Saguling dan sekaligus merupakan berkumpul-nya pencemaran yang dihasilkan oleh sub DPS Citarumhulu (gambar 1). Data kuantitas diambil dari DataTahunan Debit Sungai yang diterbitkan oleh BalaiHidrologi, sedangkan sumber data kualitas air adalahData Tahunan Kualitas Air yang diterbitkan oleh BalaiLingkungan Keairan Puslitbang Sumber Daya Air.Kedua hasil pengukuran tersebut selanjutnya dikorelasi-kan dalam bentuk grafik untuk dianalisis lebih lanjut.Data yang digunakan adalah periode tahun 1990 s/d2002 yang merupakan data bulanan dan 3 bulanan,semuanya mencakup 68 data pemantauan.Gambar 1. Peta situasi lokasi studi studi dan pengambilan data (sumber: Peta dasar BPLHD Jabar)
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.
 
Korelasi Debit dengan Parameter ZatTerlarut/DHL
Hasil observasi data sesuai perkiraan umumnya,yaitu debit sungai yang besar menyebabkan DayaHantar Listrik (DHL) dan Zat terlarut lebih kecildaripada keadaannya pada debit kecil (gambar 2 dan 3).Hal ini jelas disebabkan oleh proses pengenceran. Namun kekecualian tetap terjadi pada lokasi dan waktutertentu. Hal tersebut diduga disebabkan oleh fluktuasikadar zat terlarut yang terdapat dalam air limbah (pointsource).Hasil perhitungan korelasi menghasilkan rumus empirisyang terlihat pada gambar 2 dan 3 sebagai berikut :a. Daya Hantar Listrik DHL = (3125/Q) + 158 ..………………….……(pers.1)dengan :DHL: Daya Hantar Listrik (
µ
mho/cm)Q : Debit (m
3
/dt) b. Zat terlarutZT= (4718/Q)+56 ……………………………....(pers.2)dengan :ZT : Zat terlarut (mg/L)Q : Debit (m
3
/dt)
 
JLP. Vol. 17. No. 52, Th. 2003
 
3
Debit vs DHL
0200400600800100012001400050100150200250
Debit (m3/dt)
   D   H   L   (  u  m   h  o   /  c  m   )
DHLDHL Rata
 
Debit vs DHL di Nanjung
DHL=(3125/Q)+158r: 0,58 ; p:0,05
 
Debit vs Zat Terlarut
020040060080010001200050100150200250
Debit (m3/dt)
   Z  a   t   T  e  r   l  a  r  u   t   (  m  g   /   L   )
TDSTDS rata
ZT=(4718/Q)+56r: 0,64 ; p: 0,05
 
Debit vs Zat Terlarut di Nanjung
Gambar 2. Hubungan data debit dengan Daya Hantar Listrik : rentang feomenaGambar 3. Hubungan parameter debit denganzat terlarut: rentang fenomena
2.
 
Korelasi Debit dengan Parameter Deterjen
Berdasarkan 70 data pemantauan kualitas air di pos Nanjung (gambar 4), menunjukkan bahwa makin besar debit mengakibatkan konsentrasi detergen makin kecil,kecuali 2 titik yang diluar rentang fenomena yaitu titik A dan B. Titik A dan B tersebut diperkirakan indikator adanya peningkatan proses produksi dari industri(tekstil) yang sangat tinggi pada saat tersebut.Detergen adalah zat pencemar yang tidak terdapatdialam atau antropogenik, sehingga fenomena inimenunjukkan pencemaran berasal dari air limbahindustri dan domestik dan dapat menjadi indikator  pengenceran oleh peningkatan debit pada musim hujan.Hasil perhitungan didapatkan rumus empiris sepertiterlihat pada gambar 4 sebagai berikut :D = (10,04/Debit) ……………….(pers.3)dengan :D : Deterjen (mg/L MBAS)Q : Debit (m
3
/dt)Kadar deterjen yang tinggi yang terpantau pada pos Nanjung umumnya diatas klsifikasi klas IV pada standar  pengelolaan kualitas air PP 82/2001 (lebih besar dari 0,2mg/L), menunjukkan bahwa pengendalian pencemaranair pada sub DAS Citarum Hulu masih kurang sekali.Beban deterjen yang memasuki Waduk Saguling berkisar 0,3 s/d 13,7 ton deterjen/hari, padahal jenisdeterjen yang dipakai di Indonesia sebagian besar adalah berasal dari persenyawaan ABS (Alkil BenzeneSulfonate) yang sulit terurai secara alami. SenyawaABS ini banyak dipakai sebagai deterjen untuk keperluan rumah tangga dan industri (terutama tekstil).Sebaliknya senyawa LAS (Linear alkil Sulfonate) lebihmudah terurai secara alami, sehingga di negara-negarayang melindungi kelestarian lingkungan secara ketatABS telah dilarang dan diganti dengan LAS.Gambar 4. Hubungan debit Sungai Citarum dan deterjen(MBAS): rentang fenomena
3.
 
Korelasi Debit dengan Parameter Organik danOksigen Terlarut
Parameter organik (sebagai BOD dan COD) adalah parameter umum yang sering dipakai untuk menunjukkan tingkat pencemaran organik dari suatusumber pencemar seperti industri, domestik, lahan pertanian dan perikanan. Sedangkan parameter oksigenterlarut adalah parameter umum yang digunakan untuk menunjukkan tngkat kesegaran air sebagai akibat dari pencemaran air oleh parameter organik.gambar 5 dan 6 menunjukkan kecenderungan, bahwa makin tinggi debit maka kadar organik (sebagai
Discharge vs Detergen
00.511.522.5050100150200250
Q (m/3)
   D  e   t  e  r  g  e  n   (  m  g   /   L   )
Det=(10,0384/Q)r: 0,64 ; p: 0,05
 
 AB
Debit vs Deterjen di Nanjung

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->