Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
kankerparumetastase1

kankerparumetastase1

Ratings: (0)|Views: 66 |Likes:
Published by eka dharma

More info:

Published by: eka dharma on Jul 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2012

pdf

text

original

 
SEORANG PENDERITA KANKER PARU YANG MANIFESTASI AWALMETASTASE PADA TULANG BELAKANGPendahuluan
Kanker paru dalam arti luas adalah semua keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri maupun keganasan yang berasal dari dari luar paru ( metastase tumor di paru ). Kanker paru primer, yakni tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus atau karsinoma bronkus.
1
 Saat ini kanker paru merupakan masalah kesehatan global yang insidennya semakainmeningkat. Kanker paru merupakan penyebab kematian utama akibat kanker pada pria dan wanita pada sebagian besar Negara maju saat ini seiring dengan peningkatan penggunaan tembakau,khususnya Negara Asia. Di seluruh dunia, antara 1,3 juta dan 1,5 juta setiap tahun didiagnosakanker paru dengan angka kematian sekitar 1,8 juta pada tahun 2008. Di Indonesia dataepidemiologi belum ada. Atmanto (1992) menyatakan kanker paru merupakan penyakit dengankeganasan tertinggi diantara jenis kanker lainnya di Jawa Timur dengan angka
Case Fatality Rate
(CFR) sebesar 24,1%. Pada Tahun 1998 di RS Kanker Dharmais, kanker paru menempati urutankedua terbanyak setelah kanker payudara, yaitu sebanyak 75 kasus . Dari data rekaman medik  pasien rawat inap di Bagian Paru RSU Dr. Soetomo Surabaya tahun 2000 2004 menunjukkankanker paru menduduki peringkat kedua dibawah tuberculosis paru dengan frekuensi 16 – 18 %.
2,3,4 & 5
Tingginya angka merokok pada masyarakat akan menjadikan kanker paru sebagai salahsatu masalah kesehatan di Indonesia. Buruknya prognosis penyakit ini mungkin berkaitan eratdengan jarangnya penderita datang ke dokter ketika penyakitnya masih berada dalam stadium awal penyakit. Hasil penelitian pada penderita kanker paru pasca bedah menunjukkan bahwa, rata-rataangka tahan hidup 5 tahunan stage I sangat jauh berbeda dengan mereka yang dibedah setelahstage II, apalagi jika dibandingkan dengan staging lanjut yang diobati adalah 9 bulan.
6
Secara keseluruhan ada 12 jenis kanker paru, namun lebih dari 90 % kanker paru hanyameliputi 2 jenis yaitu: (1) Kanker paru jenis bukan sel kecil (
 Non Small Cell Lung Cancer - NSCLC 
) sekitar 75 % yang terdiri dari
adenocarcinoma, squamous cell carcinoma
dan
bronchoalveolar carcinoma
; (2) Kanker paru jenis sel kecil (
Small cell lung cancer – SCL
L )sekitar 15 %. Sekitar 40 % pasien
 NSCLC 
datang sudah dalam keadaan metastase jauh, metastasesering terjadi pada kelenjar adrenal ( 1,9 – 21,4 % ), tulang ( 25 % ), hati ( 1 – 35 % ) dan otak ( 10% ).
7,8
1
 
Di Amerika Serikat, tulang belakang merupakan tempat paling sering terkena metastasetumor. Sekitar 30-70% pasien dengan tumor primer didapatkan metastase ke tulang belakang padawaktu dilakukan autopsy. Sekitar 70% lesi metastase terdapat pada daerah vertebra thorakal, 20%di daerah vertebra lumbal, dan 10% di daerah vertebra cervical. Lebih dari 50% penderita denganmetastasis tulang belakang mempunyai lesi yang multipel. Sumber utama dari lesi metastase tulang belakang adalah paru-paru (31%), payudara (24%), gastrointestinal (9%), prostat (8%), limfoma(6%), melanoma (4%), dan ginjal (1%).
9,10
Kasus
Seorang laki-laki, 57 tahun, suku Bali, datang ke Bagian Bedah Orthopedi RS Sanglah pada tanggal 25 Juli 2011 dengan keluhan utama nyeri pada punggung bawah. Dirasakan sejak kurang lebih 6 bulan sebelum masuk Rumah Sakit, memberat 1bulan terakhir ini, sehingga sulit,duduk, berdiri dan berjalan. Pasien juga merasakan kejang otot dari punggung bawah sampai paha bagian tengah belakang. Kira – kira 7 bulan sebelum masuk Rumah Sakit, pasien merasa sesak saat beraktivitas berat. Batuk kadang – kadang tanpa sputum. Batuk darah dan nyeri dada disangkal.Pasien merasa nafsu makan menurun, dan berat badan menurun terakhir ini. Badan sumer –sumer dan karingat malam disangkal.Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien pernah menderita TB Paru, kira – kira 14 tahun yang lalu, mendapat pengobatan dan dinyatakan sembuh. Asma, Hipertensi danDM disangkal. Riwayat trauma tulang belakang tidak ada, kebiasaan merokok dan minum alkoholtidak ada. Tidak ada anggota keluarga yang diketahui menderita penyakit kanker. Pasien bekerjasebagai pemahat sejak muda.Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda- tanda vital, keadaan umum sakit berat, kesadarancompos mentis, GCS E
4
V
5
M
6
, tekanan darah 140 / 90 mmHg, nadi 96 kali/menit, pernafasan 20kali/menit, suhu badan 37
0
C. Pemeriksaan fisik kepala tidak terdapat anemia dan ikterus, reflex pupil positif, ukuran 3/3 cm, isokor. Pada pemeriksaan telinga,hidung dan tenggorokan tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan leher tidak ditemukan peningkatan JVP dan tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, kaku kuduk tidak ada. Pada periksaan fisik paru, inspeksiditemukan tidak simetris kanan tertinggal, palpasi vocal fremitus kanan menurun, perkusi redup pada lapangan paru kanan setinggi iga IV-V, kiri sonor, auskultasi vesikuler menurun padalapangan paru tengah dan bawah kanan, tidak terdapat ronki dan whizing pada kedua lapangan paru. Pada pemeriksaan fisik jantung, iktus kordis tidak tampak dan teraba pada garis midklavikulakiri setinggi sela iga V. Batas kanan jantung sulit dinilai batas kiri jantung pada midklavikula kiri.Auskultasi ditemukan suara jantung I tunggal, suara jantung II tungal, denyut jantung regular dantidak ditemukan adanya bising jantung. Pada pemeriksaan abdomen, inspeksi tidak didapatkanadanya distensi, auskultasi bising usus normal, perkusi didapatkan timpani, hepar dan lien tidak teraba pada palpasi abdomen. Eksteremitas teraba hangatdan tidak ada edema. Pada pemeriksaanneurologi, parese tidak ada ; motorik: ekstremitas superior 5555|5555, ekstremitas inferior 5555|5555; sensorik ekstremitas superior kesan normal,eksremitas inferior kesan normal.
2
 
Pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan hasil WBC 11.150 k/UI, neutrofil 8.100 /μL,limfosit 1.900 /μL, monosit 600 /μL, eosinofil 400 /μL, Basofil 100 /μL, Hb 14,9 g/dL, Hct %, Plt526.000 k/UI, SGOT 23,61 μ/L, SGPT 39,6 μ/L, LDH 362 μ/L , ALP 129 μ/L , BUN 6,0 mg/dL,serum kreatinin 0,52 mg/dL, Na 136 mmol/L, K 4,6 mmol/L, Ca 9,4 mmol/L. LED I 1 mm/jam,LED II 10 mm/jam, CEA 3,7 μg/ml, PSA 1,73μg/ml, CRP 26,89 mg/l.Pada tanggal 25 Juli 2011 dilakukan pemeriksaan
bone survey
. Pada rontgen kepala AP/lateral, tampak lesi litik tulang calvaria parietal; rontgen humerus AP/lateral kanan, tidak tampak litik ; rontgen toraks PA/ lateral, batas jantung kanan tidak dapat dievaluasi oleh karena tertutup perselubungan, tulang tidak tampak lesi litik, kesan suatu efusi pleura kanan ; rontgen torakolumbal AP/lateral tampak kompresi ringan corpus vertebra lumbal III, tampak lesi litik padakorpus vertebra lumbal III dengan destruksi VL III an VL IV bilateral. Rontgen Pelvis AP, tampak lesi litik pada os ramus pubis.Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada pasien, oleh bagian Bedah Orthopedi dan Trauma didiagnosis sebagai
 Metastatic bone disease,
suspek tumor  paru. Terapi yang diberikan saat masuk Rumah Sakit adalah infuse NS 0,9 % 14 tetes permenit,ketorolac 3 x 15 mg, ceftazidim 2 X 1 gr, ranitidine 2 x 1 ampul. Pada tanggal 2 Agustus 2011, pasien dikonsulkan ke bagian Ilmu Penyakit Dalam devisi pulmo oleh karena foto toraksdidapatkan kesan efusi pleura kanan suspek 
 
tumor paru. Selanjutnya direncanakan sitologisputum, sitiologi cairan pleura, BTA sputum tiga kali dan pewarnaan ZN cairan pleura, bronkoskopi dan CT Scan toraks. Dilakukan pengeluaran cairan pleura untuk bahan sitologi dan pewarnaan ZN, namun hanya didapat kurang lebih 25 cc, makroskopis kuning jernih dengan hasilanalisa adalah transudat, BTA negatif. BTA sputum tiga kali negatif. Hasil sitologi cairan pleuraadalah mengesankan suatu sebaran hematolymphoid neoplasma dengan hyperplasia sel mesotelyang atipik.Sampai pada perawatan hari ketujuh keluhan nyeri tulang belakang berkurang namungerakan tulang belakang terbatas oleh karena pasien merasa nyeri jika bergerak lebih luas, kesanumum sakit berat, kesadaran compos mentis, tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 84 kali/menit, pernafasan 22 kali/menit, suhu 36,5
0
C. Terapi masih dilanjutkan. Dilakukan pemeriksaan CT ScanLumbal sentrasi L III irisan axial tanpa kontras, kesan
non displacement fracture
pada korpus VLIII dengan lesi litik blastik pada korpus, processus transversus dan spinosus VL III, lesi litik padakorpus dan processus spinosus VL IV. Direncana operasi dekompresi- stabilisasi – fusi vertebraLumbalis pada tanggal 12 Agustus 2011. Hasil CT Scan toraks, kesan curiga massa solidmediastinum kanan posterior yang meluas sampai subkarina dan mendesak arteri pulmonalis kananke anterior. Pemadatan di segmen posterior lobus superior paru kanan disertai reaksi pneumonik disekitarnya curiga massa paru kanan, efusi pleura kanan yang sebagian besar sudah mengalamiorganisasi, kolaps lobus inferior paru kanan,curiga suatu proses metastase di hepar.Operasi dilakukan secara elektif dengan anestesi umum. Dilakukan pemeriksaan patologianatomi terhadap jaringan tumor, jaringan tulang dan ligamentum flavum Vertebra Lumbal III
3

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->