Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Evaluasi Kebijakan Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan Islam

Evaluasi Kebijakan Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan Islam

Ratings: (0)|Views: 44 |Likes:
Published by Benny Fitra

More info:

Published by: Benny Fitra on Jul 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2013

pdf

text

original

 
Evaluasi Kebijakan Pemerintah dalam Bidang PendidikanIslam
 
oleh : Dr. Drs. Muhammad Idrus, S.Psi., M.Pd
MSI-UII.Net - 16/9/2008
 
Pengantar
Lazimnya, segala pembaharuan dalam bidang pendidikan harus dipahami sebagaiupaya manusia untuk membebaskan dirinya dari segala keterbelakangan (
backwardness)
dan ketidak-tahuan yang dimilikinya. Selain itu, secara lebih normatif, pendidikanmerupakan cara manusia untuk mengenal dirinya dalam konteks kemanusiannya, sertasebagai upaya mendekatkan dirinya kepada penciptanya (Allah Swt) melalui perspektikemanusiaan yang dimilikinya.Bagi kebanyakan negara yang sedang berkembang --bahkan negara maju sekalipun--pendidikan berfungsi uintuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM). Secara normatif pendidikan diharapkan dapat memberi petunjuk bagi keberlangsungan kehidupan sesuaidengan tata nilai ideologis dan kultural bangsa, sehingga proses yang berlangsung dalamdunia pendidikan harus dapat memberi kesadaran kepada manusia akan potensi “kemanusiaan?yang dimilikinyaLebih dari itu pendidikan harus mampu merangsang manusia untuk mempergunakanpotensi tersebut sesuai dengan tata nilai kemanusiaan. Selain itu, secara materialpendidikan harusnya dapat memberikan pengetahuan yang memajukan dan mempertinggikualitas hidup, baik dalam skala kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun bernegara.Mentegarai hal tersebut, bagi masyarakat bangsa Indonesia, masalah pendidikandengan sendirinya menjadi salah satu agenda yang menduduki posisi penting. Kesadaranakan hal inilah yang menjadikan pemerintah (negara) memiliki kewajiban untukmenyelenggarakan porses pendidikan bagi warga negaranya.Hanya saja jika dicermati, tampak kesenjangan antara tingginya animo masyarakatuntuk mereguk pendidikan sebanyak-banyaknya dengan kemampuan pemerintah dalammenyelenggarakan pendidikan. Menyadari keterbatasan yang dimiliki, negara membukapeluang kepada setiap individu warga negara, kelompok masyarakat dan lembaga yang adadi masyarakat lainnya untuk ikut berpartisipasi memecahkannya.Pada sisi inilah banyak lembaga-lembaga Islam yang turut mengambil peluang untukikut berkompetisi menyelenggarakan lembaga pendidikan, tentunya dengan tujuan selainsebagai wujud partisipasi aktif, juga adanya keharusan untuk melindungi umat dengan caramenyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan agama yang dianutnya
Kebijakan tentang Penyelenggaraan Pendidikan Islam
 
Terminologi pendidikan Islam bagi penulis akan merujuk pada konteks maknainstitusi, proses dan
subject matter 
(kurikulum) (Idrus, 1997). Institusi akan berkonotasipada lembaga-lembaga pendidikan Islam formal (mulai dari MI, M.Ts., MA PT Islam) maupunnon-formal (pondok pesantren, sekolah diniyah, TPA). Untuk pendidikan berbentukperguruan tinggi Islam. Meski untuk pendidikan tinggi, Zamroni (1995) pernah mengajukansinyalemen bahwa model pendidikan tinggi Islam pada dasarnya merupakan implementasidari sistem pendidikan tinggi sekuler barat yang ditambah dengan mata kuliah agama Islam.Sementara itu, proses merujuk pada situasi interaktif antara pendidik dengan pesertadidik beserta lingkungan pendidikan yang menyertainya. Dengan begitu, proses yangberlangsung di dalamnya seharusnya diarahkan untuk menimbulkan pertumbuhankepribadian manusia yang seimbang dalam pelbagai aspek, dan mampu mengantarkanmanusia untuk menyerahkan diri kepada Allah SWT baik secara individual ataupun kolektif.Adapun
subject matter 
dapat dipahami sebagai kurikulum atau dalam makna yang lebihsempit adalah mata pelajaran/mata kuliah yang diberikan kepada peserta didik.Di lihat dari sisi manapun, pendidikan Islam memiliki peran dalam konteks pendidikannasional. Hanya saja harus pula dimaklumi dan dipahami jika hingga hari ini secarakelembagaan pendidikan Islam kerap menempati posisi kedua dalam banyak situasi.Sebagai misal, jurusan yang menawarkan pendidikan Islam kurang banyak peminatnya, jikadibandingkan dengan jurusan lain yang dianggap memiliki orientasi masa depan yang lebihbaik. Dalam hal pengembangan kelembagaan akan pula terlihat betapa programstudi/sekolah yang berada di bawah pengelolaan dan pengawasan Departemen Agama tidakselalu yang terjadi di bawah pembinaan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas),bahkan harus dengan tertatih untuk menyesuaikan dengan yang terjadi di sekolah-sekolahumum tersebut.Meski disadari betapa pentingnya posisi pendidikan Islam dalam konteks pendidikannasional. Namun, harus pula diakui hinnga saat ini posisi pendidikan Islam belum beranjakdari sekadar sebuah subsistem dari sistem besar pendidikan nasional. Barangkali itulah yangmenjadikan Ahmadi dalam pidato pengukuhan guru besarnya menyatakan posisi pendidikanIslam hanya sekadar suplemen (Dalam Rozihan.http://www.suaramerdeka.com/harian/0501/07/opi3.htm).Keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikanagama dan pendidikan keagamaan, diharapkan dapat membawa perubahan pada sisimenagerial dan proses pendidikan Islam. PP tersebut secara eksplisit mengatur bagaimanaseharusnya pendidikan keagamaan Islam (bahasa yang digunakan PP untuk menyebutpendidikan Islam), dan keagamaan lainnya diselenggarakan.Dalam pasal 9 ayat (1) disebutkan, ”Pendidikan keagamaan meliputi pendidikankeagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Pasal ini merupakan
 
pasal umum untuk menjelaskan ruang lingkup pendidikan keagamaan. Selanjutnya padaayat (2) pasal yang sama disebutkan tentang siapa yang menjadi pengelola pendidikankeagamaan baik yang formal, non-formal dan informal tersebut, yaitu Menteri Agama.Dari sini jelas bahwa tanggungjawab dalam proses pembinaan dan pengembanganpendidikan Islam/dan atau keagamaan Islam menjadi tanggungjawab menteri agama.Tentunya mengingat posisi menteri agama bukan hanya untuk kalangan Islam saja, makabeban menteri agama juga melebar pada penyelenggaraan pendidikan agama lain nonIslam, di samping beban administratif lain terkait dengan ruang lingkup penyelenggaraanagama dan prosesi keagamaan untuk seluruh agama-agama yang diakui di Indonesia.Mencermati betapa beratnya beban yang diemban oleh menteri agama, tampaknyamemang perlu dipikir ulang untuk kembali mengajukan ide penyelenggaraan pendidikandalam satu atap di bawah departemen pendidikan saja, dan tidak terpecah sebagaimanasekarang ini.Salah satu alasan terkuat mengapa perlu penyatuan pendidikan di bawah satu atapadalah, dalam menentukan kebijakan pengelolaan pendidikan, terutama yang berkaitandengan masalah akademis selama ini Depag selalu mengikuti kebijakan yang dibuat olehDepdiknas. Inovasi-inovasi pembelajaran lebih banyak muncul kali pertama dari Depdiknasbukan dari Depag. Dengan sendirinya, Depag kerap selalu menunggu adanya inovasiataupun kebijakan pengelolaan yang akan dikeluarkan oleh Depdiknas. Dalam catatansejarah pendidikan nasional, hampir tidak banyak inovasi yang dilakukan Depag yang benar-benar berbeda dengan yang dikembangkan oleh Depdiknas.Kenyataan ini jelas tidak dapat dipungkiri, cermati saja bagaimana kebijakan tentangKurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terasabetapa dominasi Depdiknas dalam pengembangan dan penerapannya begitu kentara.Sementara itu, Depag tetap setia mengikutinya. Untuk kasus yang lebih baru, Depag jugatidak memiliki kekuasaan untuk menentukan mata uji apa saja yang harus ditempuh olehpeserta didik yang mengikuti pendidikan di M.Ts dan MA/MAK saat penentuan kelulusan(simak kasus ujian nasional dan ujian sekolah)Selain itu dari sisi managerial madrasah dikelola Departemen Agama yang tidakmemiliki dana yang cukup untuk membiaya madrasah yang jumlahnya sangat banyak, disamping Depag tidak memiliki sumber tenaga kependidikan yang memadai untuk mengelolamadrasah, jika dibandingkan dengan Diknas.Sebagai misal anggaran Dirjen Pendidikan Islam tahun 2007 adalah senilai Rp 7triliun. Angka sebesar itu diperuntukkan bagi banyak komponen pendidikan seperti gaji gurudan tenaga kependidikan (57,1% ), dana BOS BKM, BOS buku (25,7%), sisanya sebagaianggaran tupoksi 4 direktorat Depag pusat dan bidang Mapenda serta Pontren di 32 KanwilDepag Provinsi (17,1%) atau sekitar Rp 1,2 triliun. Saat ini anggaran pendidikan Islam diDepag diprediksi 20% dari anggaran pendidikan di Depdiknas (bukan dari APBN) (Mulyana.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->