Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sistem Integrasi Ternak Dengan Tanaman Perkebunan

Sistem Integrasi Ternak Dengan Tanaman Perkebunan

Ratings: (0)|Views: 149|Likes:
Published by Ramlixa Rika

More info:

Published by: Ramlixa Rika on Aug 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/03/2013

pdf

text

original

 
SISTEM INTEGRASI TERNAK DENGAN TANAMAN PERKEBUNAN
ANDI ISHAK
 
1. Abstrak
 Integrasi sapi dengan kelapa sawit merupakan suatu sistem usahatani tanaman
 – 
ternak yangpotensial dikembangkan di Indonesia karena didukung oleh luas pertanaman kelapa sawit sekitar7 juta hektar dan kesesuaian adaptasi ternak sapi yang baik. Kebutuhan daging sapi yang sampaisaat ini belum swasembada dan sebagian masih diimpor dapat ditingkatkan populasi danproduktivitasnya melalui integrasi dengan perkebunan kelapa sawit. Integrasi ini juga dapatmeningkatkan efisiensi usaha pada perkebunan kelapa sawit. Sinergi positif yang dapat dicapaidari integrasi sapi dengan kelapa sawit adalah dapat menjamin suplai pakan bagi ternak sapi,penghematan penggunaan pupuk anorganik bagi tanaman kelapa sawit dan penghematan tenagakerja dalam pengangkutan TBS kelapa sawit dan tenaga pencari rumput untuk pakan sapi.Dengan adanya integrasi, permasalahan limbah ternak sapi dan limbah kegiatan agribisnis kelapasawit bukan saja dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali, namun juga memberikan nilaitambah bagi seluruh pelaku usaha. Usahatani integrasi ternak sapi dengan kelapa sawit ke depan juga dapat menyehatkan lahan-lahan pertanian melalui pengembangan penggunaan pupuk organik dan dapat meningkatkan nilai tambah produk CPO sebagai produk organik yang ramahlingkungan.
Kata kunci:
 Integrasi, Sapi, Kelapa Sawit
.
2. Pendahuluan
 Sapi merupakan ternak penghasil daging utama di Indonesia. Konsumsi daging sapi mencapai19% dari jumlah konsumsi daging nasional (Dirjen Peternakan, 2009). Konsumsi daging sapicenderung meningkat dari 4,1 kg/kapita/tahun pada tahun 2006 menjadi 5,1 kg/kapita/tahun padatahun 2007. Namun laju konsumsi ini tidak diimbangi dengan laju peningkatan populasi ternak (ketidakseimbangan antara
supply
 – 
demand 
), sehingga diseimbangkan dengan impor dagingsapi setiap tahun yang terus meningkat sekitar 360 ribu ton pada tahun 2004 menjadi 650 ributon pada tahun 2008 (Luthan, 2009).Jumlah ternak ruminansia lokal Indonesia menurut laporan Direktorat Jenderal Peternakan cukupbesar yaitu 11,86 juta ekor yang dikelola sekitar 4,6 juta Rumah Tangga Peternak (RTP). Namunsampai saat ini hampir 42% konsumsi daging dalam negeri masih diimpor. Diperkirakan padatahun 2015, bila tidak dilakukan upaya-upaya yang serius maka hampir 55% konsumsi dagingsapi masyarakat akan dibanjiri oleh produk bakalan impor dan daging impor (Luthan, 2009).Menurut Chaniago (2009), Indonesia menghabiskan devisa sekitar 5,5 trilyun rupiah pada tahun2008 untuk mengimpor sapi bakalan 550.000 ekor, daging sapi beku dan jeroan sapi ribuan ton.Untuk mengurangi ketergantungan pada impor sapi potong, Departemen Pertanian mengeksekusi
 program “Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS)” dengan target pe
menuhankebutuhan daging pada 2010 secara domestik sebesar 90
 – 
95%. Kegiatan yang dilaksanakanantara lain dengan mendistribusikan bibit sapi potong ke berbagai propinsi potensial untuk dikembangkan secara intensif. Idealnya peningkatan populasi sapi setidaknya mencapai 7% pertahun atau 15 juta ekor pada tahun 2008, namun kenyataannya populasi sapi pada tahun 2008hanya dapat mencapai 11,9 juta ekor (Dirjen Peternakan, 2009).Yang jadi pertanyaan, mengapa Indonesia saat ini dapat berswasembada beras maupun dapat
 
mengekspor CPO namun mengeluarkan devisa yang sedemikian besar untuk mengimpor sapi,apakah pembangunan di bidang peternakan tidak menjadi perhatian untuk peningkatankesejahteraan masyarakat? Pertanyaan ini diantaranya dijawab oleh Handaka
et al
(2009) sebagai
 berikut: “dalam kebijakan pengembangan sistem usahatani di Indonesia, hanya terfokus pada
peningkatan produktivitas tanaman, sedangkan komponen ternak terabaikan. Konsekuensi yangterjadi adalah hasil padi dan tanaman perkebunan meningkat secara tajam, sedangkanpeningkatan produktivitas ternak stagnan atau relatif konstan. Hal ini ditambah dengan mahalnyapenelitian
on-farm
bidang peternakan, kendala pemasaran pada peningkatan produksi dan adanyakepercayaan bahwa hanya usaha ternak komersial
yang menguntungkan”.
 Untuk itu diperlukan langkah-langkah pengembangan produksi peternakan diantaranya denganusahatani sistem integrasi sapi
 – 
tanaman, khususnya dengan tanaman perkebunan. Hal inididukung oleh data dari Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (2009) bahwa potensisumberdaya lahan untuk pengembangan pertanian di Indonesia sangat besar yaitu 100,7 juta hayang limbahnya dapat mencukupi biomassa pakan sapi sepanjang tahun (1-3 ekor sapi/ha). Bilatidak dimanfaatkan, limbah pertanian akan menjadi masalah dan kendala dalam agribisnis,karena pada saat panen terbuang dan menjadi pencemar.Keuntungan sistem integrasi tanaman
 – 
ternak menurut Handaka
et al
(2009) adalah: (1)diversifikasi penggunaan sumberdaya, (2) mengurangi resiko usaha, (3) efisiensi penggunaantenaga kerja, (4) efisiensi penggunaan input produksi, (5) mengurangi ketergantungan energikimia, (6) ramah lingkungan, (7) meningkatkan produksi, dan (8) pendapatan rumah tanggapetani yang berkelanjutan. Sistem integrasi tanaman
 – 
ternak memadukan sistem usahatanitanaman dengan sistem usahatani ternak secara sinergis sehingga terbentuk suatu sistem yangefektif, efisien dan ramah lingkungan.Menurut Chaniago (2009), tujuan integrasi kelapa sawit dengan ternak sapi adalah untuk mendapatkan produk tambahan yang bernilai ekonomis, peningkatan efisiensi usaha,peningkatan kualitas penggunaan lahan, peningkatan kelenturan usaha menghadapi persainganglobal, dan menghasilkan lingkungan yang bersih dan nyaman.
3. Konsep Integrasi Tanaman
 – 
Ternak
 Menurut Dirjen Peternakan (2009), secara garis besar integrasi terkait dengan sistem produksiternak dibagi menjadi dua sistem yaitu:1.
 
Sistem produksi berbasis ternak (
solely livestock production system
) yaitu sekitar 90%bahan pakan dihasilkan dari
on-farm
-nya, sedangkan penghasilan kegiatan nonpeternakan kurang dari 10%.2.
 
Sistem campuran (
mix farming system
) yaitu ternak memanfaatkan pakan dari hasil sisatanaman.Dengan integrasi tersebut maka akan tercipta sentra pertumbuhan peternakan baru dimanakomoditi ternak dapat saja menjadi unggulan (
solely
) atau komoditi ternak hanya sebagaipenunjang (
mix faming
). Tetapi bisa saja terjadi, ternak yang tadinya sebagai unsur penunjangkemudian secara bertahap menjadi unsur utama atau sebalikya.Perpaduan sistem integrasi tanaman dengan ternak, dicirikan dengan adanya salingketergantungan antara kegiatan tanaman dan ternak (
resource driven
) dengan tujuan daur ulangoptimal dari sumberdaya nutrisi lokal yang tersedia (
 Low External Input Agriculture Sistem
atauLEIAS). Sistem yang kurang terpadu dicirikan dengan kegiatan tanaman dan ternak yang salingmemanfaatkan, tetapi tidak tergantung satu sama lain (
demand driven
) karena didukung oleh
 
input eksternal (
 High External Input Agriculture Sistem
atau HEIAS) (Dirjen Peternakan, 2009).Menurut Handaka
et al
(2009), sistem integrasi tanaman ternak adalah suatu sistem pertanianyang dicirikan oleh keterkaitan yang erat antara komponen tanaman dan ternak dalam suatukegiatan usahatani atau dalam suatu wilayah. Keterkaitan tersebut merupakan suatu faktorpemicu dalam mendorong pertumbuhan pendapatan petani dan pertumbuhan ekonomi wilayahsecara berkelanjutan. Sistem integrasi tanaman ternak dalam sistem usaha pertanian di suatuwilayah merupakan ilmu rancang bangun dan rekayasa sumberdaya pertanian yang tuntas.
4. Dukungan Potensi Sumberdaya Lahan
 Di Indonesia, ternak sapi dapat diintegrasikan dengan berbagai komoditi tanaman, seperitanaman pangan (padi, jagung) serta tanaman perkebunan (kelapa sawit, kakao). Disamping ituternak sapi sangat baik beradaptasi dengan pola iklim dan ketinggian tempat, sehingga dapatdipelihara pada lahan sawah, lahan kering semusim dan lahan kering tahunan dari dataran rendahsampai pegunungan. Kesesuaian lahan untuk pertanian yang berpotensi untuk usahatani sistemintegrasi ternak sapi dengan tanaman disajikan pada Tabel 1.Tabel 1. Kesesuaian Lahan untuk Pertanian di Indonesia.WilayahSawahLahan Kering(Tan. Semusim)Lahan Kering(Tan. Tahunan)Jumlah
……………………………. juta
hektar
…………………………..
 Sumatera 6,05 6,06 16,84 28,89Jawa 4,59 1,13 4,47 10,18Bali dan Nusa Tenggara 0,48 1,15 1,54 3,17Kalimantan 3,01 10,77 14,73 28,51Sulawesi 2,38 1,87 4,80 9,06Maluku dan Papua 8,04 4,40 8,52 20,96Indonesia 24,56 25,32 50,89 100,77Sumber: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, (2009).Pada Tabel 1 di atas, tampak bahwa peluang pengembangan lahan terbesar untuk integrasitanaman
 – 
ternak ada pada lahan kering yang ditanami dengan tanaman tahunan (perkebunan)yaitu 50,89 juta ha atau 50,5% dari potensi lahan yang ada yaitu 100,77 juta hektar. Sehinggalebih besar peluang pengembangan integrasi sapi dengan tanaman perkebunan di Indonesia.
5. Keragaan Petani Potensial Pelaksana Usaha Integrasi Sapi dengan Kelapa Sawit
 Petani di pedesaan umumnya memiliki jenis usaha yang beragam di bidang pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari pengamatan lapangan terlihat bahwa kebanyakan petaniyang eksis dalam berusahatani tidak menggantungkan kehidupan mereka pada satu komoditisaja. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka memiliki lahan (tanaman semusim dan atautahunan), ternak (ruminansia, unggas, dan atau ikan), atau kedua-duanya (lahan dan ternak),walaupun jumlah kepemilikan lahan dan ternak tersebut relatif terbatas.Dalam waktu tertentu, seorang petani dapat mengolah lahan dan memelihara ternak. Statusmereka dapat berubah-ubah dari buruh tani, petani penggaduh, petani penyewa, dan atausekaligus sebagai petani pemilik dalam satu kurun waktu.Diversifikasi usahatani telah tumbuh dan berkembang di perdesaan, salah satunya bertujuanuntuk mengantisipasi resiko usaha dari kegagalan usahatani sejenis. Namun pola integrasi (
mix farming
) belum banyak dilakukan atau dikenal oleh petani skala kecil, karena umumnya pola

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->