Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hakikat Anak Dengan Problema Belajar

Hakikat Anak Dengan Problema Belajar

Ratings: (0)|Views: 11 |Likes:
Published by JAMRIDAFRIZAL

More info:

Published by: JAMRIDAFRIZAL on Aug 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/19/2013

pdf

text

original

 
HAKIKAT ANAK DENGAN PROBLEMA BELAJAR
OLEH : jamri dafrizal,S.Ag.S.S,M.Hum
LATAR BELAKANG
Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena perbedaan itu, makasebenarnya setiap anak memerlukan perlakuan tersendiri sesuai potensiindividualnya untuk mencapai perkembangan yang optimal. Memang adabeberapa perlakuan yang sifatnya umum dan dapat diberlakaukan untuk banyakanak, tetapi seharusnya tidak boleh mengorbankan kebutuhan individual tersebut.Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan massal. Di tingkat SD misalnya,setiap kelas rata-rata diisi oleh sekitar 40 anak dengan seorang guru, Kurikulumyang dipakai untuk 40 anak sama, materinya sarna, metode mengajarnya sama,gurunya sama, waktu belajarnya sama, dan cara evalauasinya juga sama. Polapendidikan semacam ini telah berjalan berpuluh-puluh tahun dan entah sampaikapan akan berubah. di setiap akhir catur wulan atau semester, atau akhir tahunmereka akan menerima raport. Ada yang masuk rang king sepuluh besar, adayang tidak masuk, ada yang naik kelas ada yang tidak naik kelas, dan seterusnya.Pertanyaan kemudian muncul, mengapa anak tertentu prestasi belajarnyatinggi dan anak yang lain prestasi belajarnya rendah? Jawaban yang umum kitadengar adalah, yang satu anak pintar dan yang lainnya adalah anak bodoh.Benarkah demikian?Dalam dunia pendidikan kit a tidak pernah mengenal faktor tunggal sebagaipenyebab apakah anak sukses atau gagal dalam belajar. Kita mengenal faktorinternal dan faktor eksternal. Antara kedua factortersebut, sebelum kita temukan diagnosisnya, memiliki peluang yang samauntuk menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan anak dalam belajar disekolah.Banyak studi di bidang psikologi pendidikan yang menemukan bahwa tidaksedikit (studi di Indonesia menemukan sekitar 39%) anak-anak yang secarapotensial sebenarnya termasuk kategori anak unggul tetapi prestasi belajar disekolah hanya biasa-biasa saja bahkan di bawah rata-rata prestasi anak yang lain.Mereka ini sering disebut sebagai anak
'under achiever'.
Sebaliknya banyak anak-anak yang secara potensial sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi prestasi belajaryang dicapai jauh di atas potensi dasarnya. Mereka sering disebut sebagai anak
'over achiever'.
Bertitik tolak pada pemikiran di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwadi sekolah banyak terdapat anak-anak dengan problema belajar. Bisa disebabkanoleh karena faktor intelektif maupun non intelektif, internal maupun eksternal. TUJUAN PEMBAHASANPembahasan bab ini dimaksudkan sebagai upaya memperkenalkan . secaraagak luas tentang hakekat anak dengan problema belajar. Dengan mempelajaribab ini para pembaca diharapkan memiliki pengetahuan, pemahaman dan sikapyang positif terhadap
anak.
dengan problema belajar serta dapat mencobamemberikan perlakukan yang sesuai dengan kebutuhan khususnya.
1
 
A.CAKUPAN PENGERTIAN
Cakupan pengertian tentang anak dengan problema belajar dapatdijelaskan sebagai berikut. Di sekolah-sekolah umum kita menjumpai anak yangberaneka ragam. Ada anak yang cepat tanggap dalam belajar, ada anak yanglamban dalam belajar di hampir semua mata pelajaran, ada anak yangmengalami kesulitan belajar untuk mata pelajaran tertentu, ada anak yang dasarpotensinya sebenarnya bagus tetapi prestasi belajarnya selalu rendah, dan tentusaja ada yang perkembangan belajarnya biasa-biasa saja. Menghadapi kondisiseperti itu, pada umumnya guru dalam proses belajar mengajar, cenderunghanya mendasarkan pada pemenuhan kebutuhan anak rata-rata, sedangkananak dengan kebutuhan belajar cepat ataupun lamban cenderung terabaikan.Berdasarkan hasil berbagai studi, diyakini bahwa mereka inilah yang akhirnyamerupakan kelompok potensial mengulang kelas atau putus sekolah. Jadi anakyang mengulang kelas atau putus sekolah belum tentu disebabkan karena dasarpotensinya yang rendah, tetapi bisa juga karena faktor lain. Faktor lain itu bisatimbul dari dalam diri anak, seperti kondisi fisik dan kesehatan, motivasi berlajar,dan dari luar seperti kondisi sekolah, lingkungan rumah, serta masyarakat.Dalam konteks pendidikan luar biasa, kita mengenal istilah anakberkelainan. Anak berkelainan juga merupakan salah satu kondisi yang sangatpotensial menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam belajar yang dapatberdampak mengulang kelas dan putus sekolah. Anak berkelainan
(exceptionalchildren)
adalah anak yang dalam hal-hal tertentu berbeda dengan anak lainpada umumnya. Perbedaan dapat terjadi pad a kondisi fisik, kesehatan,kemampuan intelektual, emosional, sosial, persepsi, motorik danlatauneurologis, dan lain-lain. Kelainan dapat berupa kondisi di bawah rata-rata dandapat pula di atas rata-rata. Apabila kelainan ini mengakibatkan gangguandalam fungsi sehari-hari, terutama dalam belajar, sehingga anak memerlukanlayanan khusus, penyandangnya disebut
anak dengan problema belajar.
Pengertian ini mencakup "Anak dengan Kebutuhan Pendidikan Khusus"
(childrenwith special educational needs).
 Jadi cakupan pengertian dari anak dengan problema belajar adalah :
anak  yang karena satu dan lain hal secara signifikan menunjukkan kesulitan dalammengikuti pendidikan pada umumnya, tidak mampu mengembangkan potensinya secara optimal, prestasi belajar yang dicapai berada di bawah potensinya sehingga mereka memerlukan perhatian dan pelayanan khususuntuk mendapatkan hasil yang terbaik sesuai dengan bakat dankemampuannya. Anak yang mengalami gangguan atau kelainan fisik tertentudan karena kelainannya tidak menyebabkan gangguan dalam mengikuti pendidikan biasa tidak termasuk anak dengan problema belajar, demikian jugaanak berbakat. Akan tetapi jika karena kelainannya atau keberbakatannyamereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian belajar, mereka termasudalam kategori anak dengan problema belajar.
B. SIAPAKAH ANAK DENGAN PROBLEMA BELAJARAda beberapa klasifikasi anak dengan problema belajar. Data DepartemenPendidikan Amerika Serikat misalnya, mengelompokkan anak dengan problemabelajar (istilah yang digunakan adalah
children with special need)
menjadi (1)anak berkesulitan belajar, (2) gangguan wicara, (3) retardasi mental, (4)gangguan emosi, (5) gangguan fisik dan kesehatan (6) gangguan pendengaran,(7) gangguan penglihatan, dan (8) tuna ganda (Lynch Lewis, 1988).Sementara itu ahli lain, Ashman dan Elkins (1994), membagi jenis-jenisanak dengan kebutuhan khusus menjadi (1) anak berbakat, (2) gangguan
2
 
komunikasi, (3) berkesulitan belajar, (4) gangguan emosi dan perilaku, (5)gangguan penglihatan, (6) gangguan pendengaran, (7) gangguan intelektual,dan (8) gangguan fisikDi di Indonesia anak dengan kebutuhan khusus tersebut dalam 'stilahperundang-undangan dikenal sebagai anak berkelainan (Pasal 5 : 2 UUSPN No.20l2003) dan anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa (Pasal5 : 4 UU No. 20l2003). Dalam UUSPN yang lama No. 2l1989 dan PP No. 72l1991disebut berkelainan fisik danlatau mental dan atau perilaku. Mereka terdiri atastunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan tunaganda. Disamping itu terdapat anak yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan luarbiasa. Mereka ini berhak mendapatkan perhatian khusus (USPN No. 20/1989, Ps8:2). Anak dengan problema belajar, tidak secara eksplisit disebutkan dalamUUSPN 1989, UUSPN No. 20/2003 maupun PP No. 72/1991 tentang PendidikanLuar Biasa.Dengan memperhatikan berbagai literatur serta kebijakan pendidikan luarbiasa di Indonesia, untuk kepentingan pelayanan pendidikan khusus di sekolahumum, semua anak yang memerlukan pendidikan khusus dikategorikan sebagaianak dengan problema belajar.Dilihat dari gejala yang nampak, anak dengan problema belajar dapatdigambarkan sebagai berikut :1.tidak dapat mengikuti pelajaran seperti yang lain,2.sering terlambat atau tidak mau menyelesaikan tugas,3.menghindari tugas-tugas yang agak berat,4.ceroboh atau kurang teliti dalam banyak hal,5.acuh tak acuh atau masa bodoh,6.menampakkan semangat belajar yang rendah,7.tidak mampu berkonsentrasi, mudah berubah-ubah,8.perhatian terhadap suatu objek sing kat,9.suka menyendiri, sulit menyesuikan diri,10.murung,11.suka memberontak, agresif, dan meledak-Iedak dalam meresponketidakcocokan,hasH belajar rendahC.FAKTOR PENYEBAB ANAK MENGALAMI PROBLEMA BELAJARAda beberapa faktor yang menjadi penyebab anak mengalami problemabelajar. Secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :1.PERBEDAAN TINGKAT KECERDASANSetiap anak sekalipun ia lahir kembar, tidak ada yang sama. Perbedaanindividual ini menyebabkan tidak mudah memberikan pelayanan yang sesuaidengan masing-masing anak. Jika perbedaan itu tidak cukup signifikan, makapelayanan secara massal atau kolektif dapat dilakukan. Jika perbedaan itusangat mencolok, misalnya tingkat kecerdasan, kreativitas, kecacatan, danmotivasi, maka pada kondisi anak-anak seperti ini, maka diperlukan pelayananyang sesuai dengan kebutuhan khususnya.Menurut Mulyasa (2003) setidaknya ada lima aspek perbedaan individualyang harus diperhatikan agar anak tidak mengalami problema dalam belajar.
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->