Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Jepara, Artefact and Intangible Values

Jepara, Artefact and Intangible Values

Ratings: (0)|Views: 760|Likes:
Published by Lulut Andi Ariyanto

More info:

Published by: Lulut Andi Ariyanto on Aug 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/05/2012

pdf

text

original

 
1
TIPOLOGI PERKEMBANGAN KOTA DANBUDAYA KOTA JEPARA
I PENDAHULUAN
Kabupaten Jepara secara lokasi geografisnya terletak di ujung PulauJawa, tepatnya di terletak pada posisi 110° 9' 48, 02" sampai 110° 58' 37,40"Bujur Timur, 5° 43' 20,67" sampai 6° 47' 25,83" Lintang Selatan. KabupatenJepara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yangberibukota di Jepara, dengan jarak tempuh ke Ibukota Provinsi sekitar 71 km dandapat ditempuh dengan kendaraan lebih kurang 2 jam. Kabupaten ini berbatasandengan Laut Jawa di Barat dan Utara, Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus diTimur, serta Kabupaten Demak di Selatan. Wilayah Kabupaten Jepara jugameliputi Kepulauan Karimunjawa, yang berada di Laut Jawa, dimana untukmenuju ke wilayah tersebut sekarang dilayani oleh kapal ferry dari PelabuhanJepara dan kapal cepat dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Selain itu diKepulauan Karimunjawa juga terdapat lapangan terbang perintis yang dapatdidarati pesawat terbang berjenis kecil dari Semarang.
Gambar 1Letak Kabupaten Jepara dalam Konstelasi Jawa Tengah
Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten JeparaTahun 2011-2031
 
2
Secara administratif wilayah luas wilayah daratan Kabupaten Jepara1.004,132 km2 dengan panjang garis pantai 72 km, terdiri atas 14 kecamatanyang dibagi lagi atas sejumlah 183 desa dan 11 Kelurahan Wilayah tersempitadalah Kecamatan Kalinyamatan (24,179 km2) sedangkan wilayah terluasadalah Kecamatan Keling (231,758 km2). Sebagian besar luas wilayahmerupakan tanah kering, sebesar 740,052 km2 (73,70%) sisanya merupakantanah sawah, sebesar 264,080 km2 (26,30%)
Gambar 2Peta Administratif Kabupaten Jepara
Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten JeparaTahun 2011-2031Kabupaten Jepara sebagai salah satu kota di Jawa Tengah yang sampaisaat ini masih membentuk kotanya, dikarenakan letak secara geografis sangatkurang menguntungkan karena berada di luar jalur pantura sebagai salah satumoda transportasi utama di Pulau Jawa. Namun posisi geografis ini justrumenjadikan masyarakat Jepara kreatif mencari keunggulan kompetitif atas hasilkarya mereka dalam mengembangkan perekonomian.Sektor yang paling banyak digeluti adalah industri pengolahan.Ketekunan masyarakat dalam mengembangkan produk akhir di sektor ini,menjadikan produk mereka memiliki keunggulan kualitas dibanding daerah lain.Indikasinya adalah tingkat penerimaan pasar internasional terhadap produkindustri pengolahan dari Jepara. Di motori industri furniture (mebel dan ukir),
 
3
berbagai produk industri Jepara saat ini tercatat telah menembus pasar ekspor diseratus lebih negara di dunia. Di luar industri kayu, Kabupaten Jepara setidaknyamemiliki 10 jenis industri lain yang menjadikan industri pengolahan mampumenjadi penopang ekonomi masyarakat. Hampir seluruh industri ini berskalaUsaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).Sangat dibutuhkan sebuah konsep penataan kota yang sinergi denganbudaya masyarakat Jepara. Penataan kota seharusnya tidak hanya merancangbangunan namun juga merancang kehidupan, yaitu pembangunan fisik untukmemenuhi kebutuhan jasmani rohani masyarakat, baik psikis maupun visual.Saat ini cenderung kurang manusiawi, karena hanya memperhatikan aspek fisikserta upaya di dalam peningkatan pendapatan kota.
(Heryanto, 2011 : 275).
 Identitas kota pun yang merupakan citra mental yang terbentuk dariritme biologis tempat dan ruang tertentu yang mencerminkan waktu (sense of time) yang ditumbuhkan dari dalam secara mengakar oleh aktifitas social-ekonomi-budaya masyarakat itu sendiri (
Lynch dalam Eko Budihardjo, 1997)
 akan semakin memudar. Nilai dan norma sosial sebuah kota merupakan
GoldenArea
: bukti fisik kekayaan budaya bangsa, sebuah artefak yang menunjukkanpanjang pendeknya sejarah dan peninggalan sebuah masyarakat yang akandiwariskan pada generasi yang akan datang.
(Miarsono, 1997)
. Budaya danhasil karya di dalamnya merupakan salah satu modal penting di dalampembangunan merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagipemahaman dan pengembangan sejarah ilmu pengetahuan dan budaya, demimemupuk jati diri bangsa. Nilai dan norma sebagai warisan budaya yangmerupakan warisan masa lalu yang menjadi bagian integral dari identitas kotasekarang.Bentuk kota adalah hasil interaksi antara masyarakat denganlingkungannya, yang dibantu oleh rekayasa teknologi serta diayomi olehkebijakan penguasa di dalam memenuhi kebutuhan mereka, baik fisik maupunpsikis. Dalamnya perkembangannya terdapat proses kegiatan politik socialekonomi,dan budaya yang diadministrasi perilaku moral dan etika para actor yang diwujudkan dalam suatu kebijakan public dalam suatu kurun waktu tertentu.
(Heryanto, 2011 : 276).
 Namun isu
globalisasi
dampak dari kemajuan teknologi komunikasi diera keterbukaan, akan membuat kebudayaan dari luar akan semakin dekat danproses infiltrasi dalam interaksi social akselerasinya semakin cepat. Jika tidak

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->