Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Cerpen asli

Cerpen asli

Ratings: (0)|Views: 457|Likes:
Published by Rio Febrian

More info:

Published by: Rio Febrian on Aug 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/05/2012

pdf

text

original

 
 
1
.
 
Warisan Silat Ayah- Bagian 1
 
Aku dan Ayah
 Cuaca hari ini begitu cerah. Hamparanrumput yang tertata rapi. Luas,menghampar, terang, seolah mampumembelokkan cahaya matahari. Hijau,tak beralasan. Suara aliran sungaiairnya begitu jernih terdengar darikejauhan. Jernih, bening, mendamaikan.Hijau daun dan semilir angin melengkapisemua itu. Sebuah pertunjukankeindahan alam yang tiada duanya.Sangat sayang untuk dilewatkan olehmata.Tampak dua orang sedang duduk bersilasambil memejamkan mata. Kedua tanganmenjuntai santai dengan punggungtangan bersentuhan diatas lutut, telapaktangan menghadap ke langit. Semuanyabertelanjang dada. Hanya mengenakkancelana panjang hitam khas petani. Yangsatu tampak masih begitu muda, sekitar10 tahunan. Ditemani oleh seorang lelakiparuh baya, berusia sekitar 30 tahunan.Mata keduanya terpejam dengan sangatrapat. Hampir tanpa celah. Hembusandan tarikan nafas terlihat begituteratur pada keduanya. Lembut,terukur, mengalir, terkendali. Cahayamatahari yang menyentuh tubuhnyaseperti iri karena seolah tidakdiperhatikan. Sungai tampak cemburukarena kilaunya seolah tidakdiperhatikan. 5 menit, 10 menit, 15menit, 20 menit, 25 menit, 30 menitberlalu. Pori-pori kulit keduanya terlihatsemakin mengembang, bertambah lebar.Perlahan namun pasti pori-pori sang laki-laki paruh baya ini kembali normalseiring dengan mata yang mulai terbukaperlahan. Sedangkan anak muda disebelahnya masih tetap terpejam rapat."Ayah, sudah selesaikah latihannya?",tanya anak yang masih sangat muda inikepada laki-laki paruh baya disebelahnya yang dipanggil dengan sebutan 'Ayah'.Ia memberanikan bertanya meskimatanya masih terpejam."Iya nak. Sudah. Hasil latihanmutampaknya lebih baik sekarang. Bahkangerakan kelopak mata ayahpun sudahbisa kamu rasakan.", jawab laki-lakiparuh baya yang dipanggil dengansebutan 'Ayah' ini sambil tersenyum.Mendengar jawaban dari sang ayah, sanganak pun membuka matanya perlahan."Bagaimana perasaanmu kali ini?", tanyasang ayah."Segar sekali yah. Rasanya setiaphembusan angin, gerakan dedaunan,ranting, dan bahkan aliran sungai seolahterdengar begitu jelas", jawab sanganak."Benar nak. Lima tahun sudah kamumelatih ini, seharusnya kamu sudah bisamerasakan itu semua. Ketahuilah, yangdisebut dengan mendengar tidak hanyadengan telinga. Yang disebut melihat juga tidak hanya dengan mata. Hati yang
 
 
2
.
 
lebih penting. Lihatlah sekelilingmudengan hatimu. Maka semua akan tampaklebih jelas dan indah. Kamu akan bisamelihat dan mendengar yang sebelumnyatidak bisa kamu lihat dan dengar.", jelassang ayah."Iya yah. Terima kasih yah", jawab sanganak."Ya sudah, sekarang kita akhiri denganberdoa kepada Sang Pencipta, AllahSWT, Tuhan Sekalian Alam, SangPenguasa Sejati Alam Raya, Sang PemilikSejati Diri ini. Jangan lupakan, bahwasetiap aktivitasmu harus diawali dandiakhiri dengan berdoa. Ingat selaluitu.", lanjut sang ayah."Baik yah. Aa akan selalu mengingatpesan ayah.", jawab sang anak yangmenyebut dirinya dengan sebutan 'Aa'."Mari kita berdoa. Kita syukuri setiapapa yang kita dapatkan. Besar maupunkecil, banyak maupun sedikit. Syukurisetiap tarikan dan hembusan nafas yangkeluar masuk pada tubuh ini. Mari nak.",lanjut sang ayah.Keduanya memejamkan mata kembalisambil merapatkan kedua tangan didepan dada. Suasana menjadi heningkembali. Raut wajah keduanya kembalitenang, lembut, serius, lepas, dankhusyuk. Kira-kira sepeminuman teh,keduanya membuka mata bersamaandengan diturunkannya kembali posisitangan di atas paha. Rileks, santai.Sang ayah tersenyum."Lihatlah kesekelilingmu nak, apa yangkamu lihat?", tanya sang ayah mengawali."Sungai. Rumput. Tanah. Pohon. Daun.Ranting. Batu. Air. Awan. Hijau, coklat,biru, putih, orange, abu-abu yah.", jawabsang anak sambil pandangannya menyapuke sekeliling."Bisakah kamu melihat apa yang adadibalik daun? Bisakah kamu melihat apa yang ada dibawah akar? Bisakah kamumelihat apa yang ada dibalik ranting?Bisakah kamu melihat apa yang adadibawah sungai? Apa yang ada di dalamcahaya matahari?", tanya sang ayahsambil tersenyum." tidak bisa yah. Mata Aku tidak bisamelihat seperti itu", jawab sang anak."Benar. Dan itulah batas pandanganmatamu nak. Itulah yang maksimal yangbisa kau lihat. Mata adalah jendeladunia. Dengannya kamu bisa melihatindahnya dunia. Dengannya kamu bisamelihat semaraknya alam raya. Tapimata itu ruang yang kecil nak. Ia hanyabisa melihat yang bisa dikenali olehbentuk dan warna. Ia hanya jendela.Mata hanyalah jendela hati.", lanjut sangayah."Maksudnya yah?", tanya sang anak."Mata hanyalah jendela hati. Meski kamu
 
 
3
.
 
bisa melihat segalanya, tapi kamu tetaptidak akan bisa melihat segalanya.Mungkin pada awalnya akan terdengarmembingungkan ucapan ayah ini. Kalaukamu ingin melihat segalanya, maka jangan gunakan jendela itu. Biarkanlahhatimu yang melihat. Maka hatimuadalah duniamu. Lihatlah dunia inidengan hatimu, tidak dengan matamu.Sebab suatu saat matamu bisamenipumu. Tapi hati tidak.", jawab sangayah."Iya yah", ujar sang anak."Sesungguhnya bukan mata ini yangtidak bisa melihat, bukan telinga ini yangtidak bisa mendengar, tapi hati yang didalam dada ini yang tidak bisa melihatdan mendengar. Karena itu, bukalahhatimu, lihatlah dengan hatimu, latihlahhatimu. Dan biarkan ia menjadiduniamu", lanjut sang ayah."Aku masih belum paham yah", tanyasang ayah."Tidak apa-apa. Ingat-ingat saja pesanayah ini. Suatu hari nanti kamu akanmengerti. Kita sudahi latihan pagi ini.Ayo kita sarapan dulu", tutup sang ayah.Wajah sang anak tersenyum. Ia tahu,meski ia belum mengerti maksud ucapansang ayah, tapi ia percaya pada ayahnya.Keduanya kemudian berdiri. Menepuk-nepuk celana untuk membersihkanrumput yang menempel dan kemudianberjalan perlahan menuju sebuah rumahgubuk sederhana yang berada tidak jauhdari situ. Sang ayah berjalan di depan,sedangkan Aa sedikit agak dibelakang.Rumah gubuk itu begitu sederhana. Takada jendela. Hanya sebagai tempatbernaung saat teriknya matahari danmelindungi dari derasnya air hujan.Dibuat seadanya namun tampak kokoh.Hanya ada sebuah jalan masuk tanpapintu. Di tengahnya terlihat ada sebuahbungkusan besar hitam yang tampaknyasudah dipersiapkan. Tidak berapa lamakeduanya sampai di rumah gubuktersebut. Sang anak, yang dipanggil Aa,mengambil posisi duduk didekat pintu.Sang ayah, duduk agak ke tengah. Iamembuka bungkusan hitam besar.Mengeluarkan isinya, dan meletakkannyadi tengah.Belajar memahami hidup dalamkehidupan...
Warisan Silat Ayah
Bagian ke 2Di Dalam Gubuk
Di tengah rumah gubuk itu sudahterlihat ada dua nasi bungkus, dua buahkerupuk, dan dua botol air minum. Sangayah memberikan sebuah nasi bungkuskepada Aa. Diterima dengan suka cita."Terima kasih ayah", sesaat setelahmenerima nasi bungkus pemberian sangayah."Iya, sama-sama", jawab sang ayah.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->