• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Rev01/ January 9, 2009
1
KEBIJAKAN UMUM “
TERMS & CONDITIONS APPLY 
LAYANAN PUBLIK:Antara NPWP, Pajak, dan ‘
Tol 
Oleh:
Haeryip Sihombing
 
Kepercayaan (
Trust 
) dan ”
Terms and Conditions Apply
Adalah sudah menjadi suatu keumuman sebagaimana apa yang dihadapi konsumen ketika berhubungan dengan penyedia layanan swasta (misal: bank), bahwa bentuk- bentuk 
legal 
 yang disepakati di dalam hal penggunaan layanan yang ditawarkan penyedia adalah melaluiformulir isian yang didalamnya termaktub pernyataan : “
Terms and Conditions Apply
”. Namun demikian, apapun artinya, terkadang (
sadar atau tidak)
konsumen bahkan secara psikologis memandang ringan kondisi persyaratan tersebut.
Di satu sisi (mungkin) karenatidak mengerti, di sisi lain (mungkin) karena berupa tulisan kecil dengan
notes
bertanda
:
: “ * ” ,yang tertera di penjuru lembar surat perjanjian atau formulir isian, yang bahkan terlewatkan untuk dibaca. Namun demikian, pada dasarnya konsumen meletakkan kepercayaannya (
trust 
) terhadaplayanan yang dijanjikan. Yaitu bahwa penyedia layanan cukup ‘
 fair 
’ untuk melayani kebutuhanmereka. Sekalipun, jika kemudian konsumen dihadapkan dengan masalah yang berkenaan dengansuatu ‘kegagalan’ dan ‘kesalahan’ yang terjadi bagi dirinya atas hasil layanan yang tersebut. Inikarena konsumen tahu ke mana mereka dapat menyalurkan keluhan dan ‘energinya’ untuk mendiskusikan masalah yang dihadapi dan mendapatkan solusinya dengan segera:
customer  service
! Kalau juga tidak selesai, Koran!Menurut Fukuyama (1995), kepercayaan merupakan satu bentuk efisiensi untuk merendahkan biaya- biaya transaksi dalam banyak hubungan- hubungan sosial, ekonomi, dan politik. Lebihdaripada itu, Tonkiss, et. al. (2000) dan Misztal (1996) menjelaskan, bahwa kepercayaan jugamerupakan ikatan dari semua kontak- kontak kemanusiaan dan interaksi institusi. Artinya, dalamhal ini (misal terhadap layanan perbankan) konsumen percaya, bahwa penyedia layanan tidak akan berlaku ‘curang’ terhadap layanan yang diberikan atau ‘melenceng’ seperti apa yang dijanjikan, dandengan sengaja monomer-duakan konsumen di dalam memperoleh kepastian layanan. Jika tidak,tentu konsumen dengan mudah beralih untuk mempergunakan dan berhubungan dengan penyedialayanan lainnya.
 
Rev01/ January 9, 2009
2 Namun demikian, ketika dihubungkan dengan penyedia layanan publik yang disediakan pemerintah, sebagai contoh, tidak seperti demikian keadaannya. Warga (sebagai konsumenatau pengguna) tidak memiliki pilihan (terkecuali jika ’membuang’ kewargaannya untuk menjadi warga negara lain atas dasar semata- mata untuk mendapatkan pilihan). Di dalamlaporan United Expert Group Meeting (2003) dikatakan, bahwa layanan- layanan publik seringkali dicirikan dengan satu perbandingan yang absolut atau setidaknya adalah lemah didalam persaingan, jika dipahami sebagai organisasi bisnis dalam menarik konsumen-konsumen terhadap para penyedia sebagai pesaing atau rival mereka. Apalagi, jika layanan-layanan publik tersebut tadi, seperti misalnya pengumpulan pajak (
tax collection
) dan penegakkan hukum (
law
 
enforcement 
), yang bukan hanya sebagai layanan- layanan publik yang seringkali bersifat monopoli, namun juga sebagai suatu kewajiban bagi pengguna(warga). Sehingga hasilnya adalah, kebanyakan dari fitur- fitur dasarnya begitu mudahmenghilang terhadap penyediaan layanan- layanan publik. Sekalipun dalam hal ini,layanan publik bukanlah industri dan bisnis, karena di dalamnya terdapat peran sosial yanglebih utama.
Kondisi Layanan Publik 
Wilson (2005) menerangkan, bahwa pada kenyataannya tantangan- tantangan pemerintahandewasa ini adalah terkait di dalam meningkatkan nilai- nilai di sektor publik. Di manakebanyakan tantangan- tantangan tersebut adalah berkenaan terhadap pengurangan biaya,kesesuaian dengan target- target efisiensi, dan respon atau tindak tanggap terhadapkebutuhan- kebutuhan warga sebagai prioritas utama untuk meningkatkan layanan-layanannya.
Sebelumnya, Jones dan Kettle (2003) melaporkan, bahwa setelah lebih dari 3 dekadeini kritikan- kritikan umum yang muncul kepermukaan terhadap kinerja pemerintahan adalah berkenaan terhadap semua poin- poin dari spektrum politik. Kritikan- kritikan tersebut adalah berupa ketidakefisienan, ketidak-efektifan, terlalu mahal atau boros, terlalu mahal, terlalu birokratis,terlalu membebani dengan peraturan- peraturan yang tidak perlu, tidak bertanggungjawab terhadapkeinginan dan kebutuhan publik, tidak terbuka, tidak demokratis, melayani diri sendiri, melanggar  batas- batas hak pribadi warga, dan gagal dalam penyediaan maupun peruntukkan dengan kuantitasdan kualitas layanan yang layak bagi publik pembayar pajak.
Dalam laporan United Nation (2005) dinyatakan, bahwa keadaan tersebut salah satunyaadalah dikarenakan kebanyakan badan- badan atau jawatan- jawatan sektor publik  berbentuk institusi yang beragam terhadap konteks budaya dan sejarahnya, serta bahkan
 
Rev01/ January 9, 2009
3dalam kerangka kerja maupun derajat pembangunan sosio-ekonomi negaranya. Sehingga beberapa diantaranya adalah berbentuk organisasi yang tidak konsisten dengan administrasi publik. Padahal, semenjak mutu dari layanan- layanan publik adalah seringkali menjadisatu penentu dominan pada persepsi masyarakat terhadap pemerintahan,
 Ketelaar 
(2007) berpendapat, baik apakah di dalam menjalankan sesuatu yang diperlukan untuk merealisasikan pemerintahan yang berhubungan dengan bidang bisnis, organisasimasyarakat atau administrasi publik, maka dampak terhadap pertumbuhan ekonomi jugamerupakan tugas dan peranan penting badan- badan pemerintahan yang dibentuk sebagaisesuatu yang tidak dapat dipungkiri (Bridgman, 2007). ). Ini artinya, dalam membuat fungsi pemerintahan menjadi semakin baik, maka kesan yang diharapkan adalah tidak hanya padadampak dari peningkatan efisiensi dan efektifitas pembelanjaan dari fungsi sektor publik dan operasinya saja. Namun, juga pada dampak dari peningkatan keefektifan sektor publik terhadap fungsi kebijakan dan program layanan untuk menjadi lebih baik di dalammencapai apa yang dituju dan diharapkan dari melayani pengguna (masyarakat) dengan baik dan bermartabat, serta ‘ramah’ bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi masyarakat.Selain, secara positif mempengaruhi kesadaran para pekerja di dalam organisasi tersebut,yang bukan hanya di dalam menyelesaikan tugas- tugas pekerjaan yang diberikan, tetapi juga di dalam mengurangkan kesan negatif terhadap tugas yang dilaksanakan.Untuk itu, sebagaimana laporan UN Expert Group Meeting (2003) di dalam prioritas pembangunan sosialnya mengatakan, bahwa dalam meningkatkan keefektifan sektor publik dan area pembelanjaan sosial, maka pemerintah seharusnya:a.
 
menentukan apa sumber- sumber daya yang diperlukan untuk penyediaan tingkat-tingkat dasar terhadap layanan- layanan, dan kemudian menguji cara- cara pembiayaandan pembelanjaan dari keuangan yang lebih baik terhadap keseluruhan kerangka kerjakeuangannya. Aktifitas- aktifitas tersebut, adalah seperti melalui peningkatan derajat-derajat atau pengumpulan- pengumpulan pajak yang lebih baik, bayaran penggunaan, pinjaman yang hati- hati, dan penggunaan bantuan secara layak dan sepadan. b.
 
menentukan sasaran- sasaran tuju dan prioritas- prioritas yang jelas saat pembuatankeputusan dari alokasi- alokasi sumber- sumber daya publik, baik itu terhadap area-area program dan keuntungan yang dimaksudkan, dengan selalu melindungikemiskinan dan usaha- usaha terhadap meng-
 franchised 
-kan program- programnya.c.
 
memperhitungkan ke-saling tergantung-an dari pembelanjaan- pembelanjaan pembangunan sosial, seperti: pendidikan, gizi, dan kesehatan dasar, serta mendorong
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...