Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
13Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
VIKTIMOLOGI

VIKTIMOLOGI

Ratings: (0)|Views: 1,224 |Likes:
Published by Putra Pringgandani
KAJIAN TENTANG VIKTIMOLOGI
KAJIAN TENTANG VIKTIMOLOGI

More info:

Categories:Business/Law
Published by: Putra Pringgandani on Aug 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
 
PENGANTAR VIKTIMOLOGITarmudiA. Pengertian Viktimologi
Apabila kita hendak mencari solusi sebagai upaya penanggulangan kejahatan yangtepat, maka cara pandang kita sebaiknya tidak hanya terfokus pada berbagai hal berkaitandengan penyebab timbulnya kejahatan atau metode apa yang efektif untuk dipergunakan dalam penanggulangan kejahatan, namun hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk dipahami dandiperhatikan adalah masalah korban kejahatan itu sendiri, yang dalam keadaan-keadaan tertentudapat menjadi pemicu munculnya kejahatan.Pada saat berbicara tentang korban kejahatan, maka cara pandang kita tidak dapatdilepaskan dari viktimologi. Melalui viktimologi dapat diketahui berbagai aspek yang berkaitandengan korban, seperti: faktor penyebab munculnya kejahatan, bagaimana seseorang dapatmenjadi korban, upaya mengurangi terjadinya korban kejahatan, hak dan kewajiban korbankejahatan.Viktimologi dapat dikatakan sebagai cabang ilmu yang relatif baru jika dibandingkandengan cabang ilmu lain, seperti sosiologi dan kriminologi. Sekalipun usianya relatif muda,namun peran viktimologi tidak lebih rendah dibandingkan dengan cabang-cabang ilmu yanglain, dalam kaitan pembahasan mengenai fenomena sosial.Viktimologi berasal dari bahasa latin
victima
yang berarti korban dan
logos
yang berartiilmu. Secara terminologi, viktimologi berarti suatu studi yang mempelajari tentang korban, penyebab timbulnya korban dan akibat-akibat penimbulan korban yang merupakan masalahmanusia sebagai suatu kenyataan sosial.Korban dalam lingkup viktimologi memiliki arti yang luas, karena tidak hanya terbatas pada individu yang secara nyata menderita kerugian tetapi juga kelompok, korporasi, swastamaupun pemerintah, sedangkan yang dimaksud dengan akibat penimbulan korban adalah sikapatau tindakan terhadap korban dan/atau pihak pelaku serta mereka yang secara langsung atautidak terlibat dalam terjadinya suatu kejahatan.Pentingnya korban memperoleh perhatian utama dalam membahas kejahatandikarenakan korban seringkali memiliki peranan yang sangat penting bagi terjadinya suatukejahatan. Diperolehnya pemahaman yang luas dan mendalam tentang korban kejahatan,diharapkan dapat memudahkan dalam menemukan upaya penanggulangan kejahatan yang padaakhirnya akan bermuara pada menurunnya kuantitas dan kualitaskejahatan.Sejalan dengan semakin berkembangnya viktimologi sebagai cabang ilmu baru,
 
 berkembang pula berbagai rumusan tentang viktimologi. Kondisi ini hendaknya tidak dipandang sebagai pertanda tidak adanya pemahaman yang seragam mengenai ruang lingkupviktimologi, tetapi harus dipandang sebagai bukti bahwa viktimologi akan selalu berkembangsejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.Viktimologi merupakan suatu pengetahuan ilmiah/studi yang mempelajari suatuviktimisasi (kriminal) sebagai suatu permasalahan manusia yang merupakan suatu kenyataansosial. Melalui perumusan ini membawa akibat perlunya suatu pemahaman, sebagai berikut:sebagai suatu permasalahan manusia menurut proporsi yang sebenarnya secaradimensional;sebagai suatu hasil interaksi akibat adanya suatu interrelasi antara fenomena yang adadan saling mempengaruhi;sebagai tindakan seseorang (individu) yang dipengaruhi oleh unsur struktur sosialtertentu suatu masyarakat tertentu.
1
Pada dasarnya, perkembangan ilmu pengetahuan tentang korban kejahatan(viktimologi), tidak dapat dipisahkan dari lahirnya pemikiran-pemikiran brilian dari Hans vonHentig, seorang ahli kriminologi pada tahun 1941 serta Mendelsohn pada tahun 1947.Pemikiran dari kedua ahli ini sangat mempengaruhi setiap fase perkembangan viktimologi.Perkembangan viktimologi hingga sampai pada keadaan seperti sekarang tentunya tidak terjadi dengan sendirinya, namun telah mengalami berbagai perkembangan yang dapat dibagidalam 3 (tiga) fase. Pada tahap pertama viktimologi hanya mempelajari korban kejahatan saja, pada fase ini dikatakan sebagai
“penal or special victimology”
. Sementara itu, pada fase kedua,viktimologi tidak hanya mengkaji masalah korban kejahatan tetapi juga meliputi korbankecelakaan. Pada fase ini disebut sebagai
“general victimology”
. Fase ketiga. Viktimologisudah berkembang lebih luas lagi yaitu mengkaji permasalahan korban karena penyalahgunaankekuasaan dan hak-hak asasi manusia. Fase ini dikatakan sebagai
“new victimology’ 
.
2
Dari pengertian di atas, nampak jelas bahwa yang menjadi obyek pengkajian dariviktimologi, diantaranya: pihak-pihak mana saja yang terlibat/mempengaruhi terjadinya suatuviktimisasi kriminal, bagaimanakah respon terhadap suatu viktimisasi kriminal, fakto penyebab terjadinya viktimisasi kriminal, bagaimanakah upaya penanggulangannya, dansebagainya.
1 Arif Gosita,
 Masalah Korban Kejahatan
, Akademika Pressindo, Jakarta, 1993, hlm. 402 Made Darma Weda,
 Beberapa Catatan tentang Korban Kejahatan Korporasi
, dalam
 Bunga Rampai Viktimisasi
, Eresco, Bandung, 1995,hlm. 200.
 
 
B. Sejarah Perkembangan Viktimologi
Sejak awal mula lahirnya hukum pidana, fokus subjek yang paling banyak disorotiadalah si pelaku. Padahal dari suatu kejahatan, kerugian yang paling besar di derita adalah olehsi korban kejahatan tersebut. Akan tetapi, sedikit sekali hukum-hukum ataupun peraturan perundang-undangan yang dapat kita temui yang mengatur mengenai korban serta perlindunganterhadapnya.
3
Hukum pidana memperlakukan korban seperti hendak mengatakan bahwa satu-satunyacara untuk melindungi korban adalah dengan memastikan bahwa si pelaku mendapatkan balasan yang setimpal. Hal tersebut di pertegas oleh pendapat Reif yang menyatakan:
The problem of crime, always get reduced to what can be done about criminal. Nobody asks what can be done about victim? Everyone assumes the best way to help the victim is to catchcriminal as though the offender is the only source of the victims trouble
”.Padahal apabila kita hendak mengamati masalah kejahatan secara komprehensif, makakita tidak boleh mengabaikan peranan korban dalam terjadinya kejahatan tersebut. Bahkan,apabila memperhatikan pada aspek pencarian kebenaran materiil sebagai tujuan yang akandicapai dalam pemeriksaan suatu kejahatan, peranan korban pun sangat strategis sehinggasedikit banyak dapat menentukan dapat dan atau tidaknya pelaku kejahatan memperolehhukuman yang setimpal atas perbuatan yang dilakukannya. Tidak berlebihan apabila selama ini berkembang pendapat yang menyebutkan bahwa korban merupakan aset yang penting dalamupaya menghukum pelaku kejahatan.Pada sebagian besar kasus-kasus kejahatan, korban sekaligus merupakan saksi pentingyang dimiliki untuk menghukum pelaku kejahatan. Sayangnya, dalam kerangka pemeriksaansuatu perkara di mana korban merupakan saksi bagi pengungkapan suatu kejahatan, korbanhanya diposisikan sebagai instrumen dalam rangka membantu aparat penegak hukum untuk menghukum si pelaku, dan tidak pernah berlanjut pada apa yang dapat negara serta aparat penegak hukum lakukan untuk si korban, sehingga penderitaan (kerugian) yang diderita korbandapat dipulihkan seperti keadaan sebelum terjadinya kejahatan yang menimpa dirinya.
3 Lihat Mardjono Reksodiputro,
 Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana
,
 Buku II,
LKUI, Jakarta, 1994:, hal 81 yang mengatakan, ” Sistem peradilan pidana sekarang ini berlaku terlalu difokuskan pada pelaku (menyidik, menangkap, mengadili dan menghukum pelaku) dan kurangsekali memperhatikan korban, Yang acapkali terjadi adalah bahwa terlibatnya korban dalam sistem peradilan pidana hanya menambah traumadan meningkatkan rasa ketidakberdayaannya serta frustasi karena tidak diberikan perlindungan dan upaya hukum yang cukup. Sistem peradilan pidana dewasa ini memang terlalu ”
offender centered 
”, sehingga mengharuskan kita untuk memperbaiki posisi korban dalam sistem ini agar apa yang diperolehnya tidak hanya kepuasan simbolik”. Bandingkan dengan Andrew Karmen,
 Deviants, Victim or Victimizer 
, SagePublication, London, 1983, hal. 245 “
 A major concern of victimologist has been to assess the quality of service delivered to victims by thecriminal justice system. Victims of rape have been studied most extensively. The finding of these inquiries have led to be concepts of the second wound. Victims are harmed twice, once by the offender and again by the criminal justice system official who heap additional abuse upon them.The major source affrications between all kinds of victims and the police revolve around the inability first did in the immediate aftermath of theincidents, the tendency of detectives to unfound the complaints of certain victims for certain crimes, the pattern of law arrest rates for  particular offences, even when the victims cooperate fully and the pattern of law recovery rates for returning stolen property. Victims are inconflict with prosecutors over the dropping of charges and over the defense attorney to resolve cases by allowing accused person to plead  guilty to less charges”

Activity (13)

You've already reviewed this. Edit your review.
diahparamita liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Sakamoto Tonchan liked this
Therisya Karmila liked this
gussanjaya liked this
Ullfa Aal liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->