Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Peranan Beberapa Hasil Hutan Bukan Kayu (Hhbk)

Peranan Beberapa Hasil Hutan Bukan Kayu (Hhbk)

Ratings: (0)|Views: 97 |Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Aug 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

 
PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 199-219
199
PERANAN BEBERAPA HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK)DI RIAU DAN SUMATERA BARAT
Oleh:
Sudarmalik, Y. Rochmayanto dan Purnomo
1)
I.
 
LATAR BELAKANG
Di dalam sistem pengelolaan sumberdaya hutan, kepemilikan sumberdaya dapatmenentukan kinerja pengelolaan sumberdaya hutan. Menurut Kartodihardjo (1999),kepemilikan sumberdaya menentukan bentuk kelembagaan dalam pengelolaansumberdaya, yang mana kelembagaan tersebut secara langsung berpengaruh terhadapkinerja pengelolaan, dan pengaturan kelembagaan lebih lanjut berkorelasi positif untuk dapat mengubah kInerja pengelolaan hutan yang diharapkan. Dalam sistem pengelolaansumberdaya hutan, dikenal beberapa bentuk kepemilikan sumberdaya hutan, yaitu :1.
 
Private Property Right 
(hak kepemilikan pribadi, contohnya hutan rakyat)2.
 
State Property Right 
(hak kepemilikan negara, contoh hutan negara : hutanproduksi, hutan lindung dan hutan konservasi)3.
 
Common Property Right 
(hak kepemilikan bersama, contohnya adalah hutanadat/ulayat)Bentuk kepemilikan merupakan salah satu faktor dari kelembagaan, sehinggakepemilikan juga dapat menentukan kinerja dalam pengelolaan hutan. Hutan rakyatmerupakan salah satu dari bentuk kepemilikan sumberdaya hutan. Menurut Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999 disebutkan bahwa hutan rakyat adalah hutanyang dibebani hak milik. Hutan rakyat ini berada dalam kawasan sekitar masyarakat dankeberadaannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Kedekatan hutan rakyatdengan masyarakat ini dapat dilihat dari pola pengelolaan hutan rakyat. Dari sisi polapengelolaan, pengelolaan hutan rakyat dapat dibedakan menjadi pola monokultur danpola campuran ( 
agroforest 
 ). Terdapat suatu hubungan antara kebutuhan hidup masyarakat dengan polatanam yang ada dalam suatu sistem pengelolaan hutan rakyat. Hubungan tersebut dapatdilihat dari jenis tanaman yang ditanam dan pola penanaman. Bentuk tradisional hutan
___________________________
1)
Peneliti pada Loka Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu Kuok, Riau
 
PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 199-219
200
rakyat adalah untuk dikelola dengan pola campuran ( 
agroforest 
 ). Dengan pola ini makahutan memberikan manfaat, diantaranya dalam mendukung penyediaan bahan bakukayu untuk industri kehutanan.Di beberapa daerah di Pulau Jawa, hutan rakyat didominasi oleh kayu-kayu yang dapat mensuplai kebutuhan bahan baku industri kehutanan. Dengan adanya degradasihutan yang begitu besar (± 2,5 juta ha/thn) maka terjadi penurunan kemampuan hutanalam dalam memenuhi kebutuhan kayu bagi industri. Sementara kebutuhan industrikehutanan sangat besar (72 juta m3/thn), Oleh karena itu alternatif pemenuhankebutuhan industri berasal dari hutan rakyat. Dari hutan rakyat telah diperoleh produksikayu sebesar 500.000 m
3
sampai 1.500.000 m
3
atau mampu mensupply sekitar 0,69%sampai 2,08% dari total kebutuhan bahan baku industri kehutanan (suplly tersebuttermasuk hasil dari HTI, reboisasi dan penghijauan). Disamping hasil kayu yang begitubesar yang dapat dihasilkan oleh hutan rakyat, hasil lain yang memiliki potensi yang besar dari hutan rakyat adalah
Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
 
II.
 
 TINJAUAN UMUM HUTAN RAKYAT A. Pola Pengelolaan Hutan Rakyat
Seperti disebutkan diatas, hutan rakyat adalah hutan yang dibebani hak milik, jadipembeda pada hutan rakyat adalah pada aspek kepemilikan. Namun demikiankarakteristik biofisik antara hutan negara maupun hutan rakyat tidak berbeda. Ada 2(dua) pola pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan oleh masyarakat secara tradisonal,yaitu :
1.
 
Pola monokultur
Pola ini hanya menanam satu jenis pohon dalam suatu hamparan lahan. Contohdari pola monokultur ini adalah :a.
 
Hutan rakyat sengon di Jawa.Hutan rakyat sengon merupakan salah satu bentuk hutan rakyat yang terdapat diseluruh Jawa. Dalam pengelolaannya, hasil utama yang diharapkan dari pola iniadalah hasil kayu sengon. Kontribusi sengon terhadap rumah tangga di KabupatenBanyumas rata-rata mencapai 21% sampai dengan 36% ( Suharjito, 1998). 
 
PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 199-219
201
b.
 
Hutan rakyat kemiri di Sulawesi SelatanBentuk hutan rakyat kemiri merupakan salah bentuk pemanfaatan lahan untuk menghasilkan hasil bukan kayu. Hutan kemiri ini dikelola secara tradisonal danmemiliki kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga petani 3,6 % (Iin Ichwandi,2001)
2.
 
Pola campuran (
 Agroforest 
)
Pola campuran atau agroforest ini dilakukan dengan mengkombinasikan antaratanaman kehutanan (jangka panjang) dengan tanaman pertanian (jangka pendek) dalamsuatu hamparan lahan dengan pengaturan spasial dan temporal. Beberapa pola tanamancampuran ini merupakan ciri umum yang dilakukan masyarakat dalam pengelolaan hutanrakyat. Bentuk agroforest ini memiliki keuntungan dibanding dengan pola monokultur.Beberapa pola hutan rakyat campuran yang ada di Indonesia adalah :a.
 
Repong Damar di Pesisir Krui, Lampung b.
 
Kebun Karet Campuran di Jambic.
 
 Tembawang di Kalimantan Baratd.
 
Parak di Maninjau, Sumatera Barate.
 
Kebun Durian Campuran di Gunung Palung, Kalimantan Baratf.
 
Kebun Pepohonan Campuran di sekitar Bogor, Jawa Barat
B. Karakteristik Hutan Rakyat
Secara umum karakteristik pola pengelolaan hutan masyarakat dengan polacampuran dan dilahan masyarakat (hutan rakyat) dapat dilihat pada tabel 1.Dari tabel 1 terlihat bahwa bentuk pengelolaan hutan yang memberikankontribusi terbesar terhadap pendapatan rumah tangga adalah repong damar di Krui,Lampung. Pendapatan dari penyadapan getah damar antara 70% - 100%. Hal inimenunjukkan bahwa pengelolaan repong damar sangat besar peranannya terhadappendapatan serta terhadap pembangunan wilayah, dimana 70% dari pendapatan desaberasal dari usaha repong damar. Kontribusi repong damar ini meliputi aspek produksidan pemasaran damar.Bila dilihat dari bentuk pengelolaan hutan pada tabel 1 maka dapat dilihat bahwasebagian besar hasilnya berasal dari hasil hutan bukan kayu. Pada hutan repong damar,maka produksi utama berasal dari hasil getah damar mata kucing ( 
Shorea javanica 
dan
Hopea dryobalanoides 
 ). Sedangkan hasil lainnya berupa buah-buahan, petai dll.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->