• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
WACANA25 Agustus 2008
Pemimpin Baru dan Keberpihakan Kesehatan
Oleh Sutopo Patria JatiMASYARAKAT
Jawa Tengah, baik yang memilih maupun golput dalam pilgub lalu,kini memiliki gubernur dan wagub baru, yaitu Bibit Waluyo dan Rustriningsih.Masyarakat menanti dengan harap-harap cemas, bagaimana duet ini mengawalikiprahnya sebagai pamomong dari proses pembangunan lima tahun ke depan di Jateng.Masih terekam baik dalam benak kita, setumpuk janji yang dicanangkan saat kampanyedengan slogan khasnya: Bali Ndesa Mbangun Desa. Bagaimana implikasi slogan itu,dalam konteks keberpihakan mereka terhadap nasib rakyat di desa, akan menjadi pertaruhan menarik untuk disimak.Salah satu yang menjadi pertaruhan awal yang ingin segera kita lihat adalah sejauhmanaaktualisasi visi, misi, dan slogan kampanye itu dalam wujud keberpihakan mereka dalam bidang kesehatan. Mengapa bidang kesehatan?Sesuai dengan amanat konstitusi, kesehatan merupakan hak asasi masyarakat yang harusdipenuhi negara. Namun diakui atau tidak, kesehatan telah ‘’termarginalkan’’, danseringkali hanya menjadi ‘’angin surga’’ saat kampanye.Fakta selama ini pun mengindikasikan tetap rendahnya komitmen pemerintah dalammembiayai kesehatan (hanya 35 %), dibandingkan yang mesti ditanggung masyarakat(private) sebesar 65 persen.Di level propinsi lebih mengkhawatirkan lagi. Rata-rata porsi pengeluaran biayakesehatan publik menunjukkan tren yang makin menurun, yaitu dari 22 persen di tahun2002 menjadi hanya 14 persen pada tahun ini (World Bank, 2008).Sebenarnya kita tak perlu menunggu terlalu lama, apalagi sampai tiga bulan usai pelantikan Bibit-Rustri, untuk meneropong seberapa jauh keberpihakan keduanyaterhadap masalah kesehatan di Jateng. Meski cenderung terkesan normatif, paling tidak kita bisa mencoba memahaminya lewat napak tilas dari isi dokumen visi-misi mereka,yang bisa diakses lewat situs blog mereka di internet.
Meneropong Keberpihakan
Ada secercah harapan yang menjadi titik awal tanda keberpihakan gubernur-wagub baruterhadap kesehatan, saat disebutkan bahwa salah satu indikator kesejahteraannya dari visiMewujudkan Kesejahteraan yang memiliki daya saing akan diwujudkan melalui
 
 perbaikan kesehatan.Penjabaran selanjutnya ada di poin pertama misi mereka, yaitu ‘’meningkatkan derajatkesehatan baik individu dan masyarakat’’. Lalu dipertegas lagi, strategi peningkatankesejahteraan masyarakat dan peningkatan kualitas SDM akan dilakukan lewat peningkatan kesehatan.Bibit-Rustri memang berusaha membaca situasi dan kebutuhan kesehatan terkini diJateng berdasarkan uraian dari RPJP Jateng 2005-2025. Walaupun hal itu tidak salah,namun jika tidak cermat, cara ini justru akan menyulitkan saat harus menguraikannyadalam kebijakan strategis lainnya.Setidaknya kehawatiran ini terlihat saat menerjemahkan misi peningkatan derajatkesehatan ke dalam sasaran strategis, yang muncul ternyata hanya sasaran untuk  peningkatan usia harapan hidup? Padahal, lazimnya, indikator derajat kesehatan dasar yang dianut secara nasional —bahkan internasional— minimal terdiri atas angkakematian dan angka kesakitan bagi bayi, anak, dan ibu, yang merupakan golongan palingrentan terutama yang tinggal di pedesaan.Bagaimana pun, upaya penerjemahan visi-misi ke dalam kebijakan yang lebihoperasional dari pemimpin baru ini tetap bisa kita apresiasi. Pembagian fungsi kesehatanmenjadi dua urusan (kesehatan dan KB).Urusan kesehatan terdiri atas sembilan kebijakan, delapan sasaran dan 13 program.Sedangkan urusan KB dibagi menjadi dua kebijakan, empat sasaran, dan tujuh program.Sekilas memang sudah cukup lengkap.
Merajut Realita
Tetapi, ke depan, semua pihak perlu hati-hati dan makin realistis jika visi-misi merekaakan dijadikan pedoman utama saat membuat Rencana Pembangunan Jangka MenengahDaerah (RPJMD) Jawa Tengah, khususnya di bidang kesehatan.Setidaknya perlu sikap proaktif dari para pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah(SKPD) kesehatan, sehingga mampu membantu gubernur-wagub baru dalammenerjemahkan visi-misinya menjadi berbagai strategi dan program konkret yangdibutuhkan masyarakat.Salah satu isu penting yang harus dicantumkan dalam RPJMD Jateng di bidang kesehatanminimal harus memuat indikator yang jelas, sesuai dengan target MilleniumDevelopment Goals (MDGís).Laporan terakhir dari Bappeda tentang pencapaian target MDGís di Jateng antara lain: a)angka kematian bayi turun dari 22 pada tahun 2000 menjadi 14 di tahun 2005; b) angkakematian ibu dari 152 di tahun 2000 turun menjadi 115 (2003); c) penurunan prevalensigizi kurang pada balita dari 14,08 persen (2003) menjadi 10,51persen (2006).
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...